Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Saturday, March 16, 2019

Kayak apa sih 'Dutch psychedelic blues-rock band' itu?


Setelah lima hari opname, ditambah lima hari masa penyembuhan di rumah, sontak gw gak liat apa-apa selain tembok, buku, dan layar smartphone.

dari Facebook Ajie Wartono

Namun ada angin segar saat lihat poster acara yang dihelat Jumat, 15 Maret 2019, ada band dari Belanda, namanya DeWolff. Mereka menggelar konser di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta.

Wednesday, February 6, 2019

Melawan Pembodohan Adalah Ibadah #TolakRUUPermusikan

Tugas jurnalisme adalah melawan pembodohan, bukan sebaliknya; melestarikan kebodohan untuk kekuasaan dan kekayaan segelintir makhluk rakus. 


instagram.com/indra.hakim

Thursday, October 25, 2018

TUAN BOOGIE, album Rockabilly dari Pinggiran Jaksel


BAND Rockabilly Jaksel, The Sleting Down (TSD) akhirnya merilis album perdana mereka. Mengambil tajuk ‘Tuan Boogie’, album berisi delapan track ini kaya akan nuansa 50-60-an, dan tentunya enak untuk mengiringi pesta dansa-dansi di sana-sini. Sebelum kita bicara apakah album ini cukup ‘Rockabilly’, kita kupas dulu kulitnya satu-satu. Tapi sebelumnya lagi gue mau cerita koneksi mereka dengan skena Yogyakarta. Oiya, biasanya gue memakai kata ‘saya’ sebagai penulis, tapi khusus untuk anak-anak tengil dari Jakarta Selatan ini, tepatnya Jaksel Pinggiran, kata ‘saya’ kita bunuh aja. Nih gue mau cerita!

Friday, October 19, 2018

Eloprogo, Potro Joyo, dan Nusasonic

Sekitar 1,5 km dari Candi Borobudur terdapat sebuah desa yang tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Di desa tersebut terdapat sungai yang airnya mengaliri bebatuan, ada dua sungai yang bertemu, Sungai Elo dan Sungai Progo. Di alam hijau yang subur, tepat di pinggir pertemuan dua sungai tersebut terdapat sebuah bangunan yang ekstotis. Bagunan sederhana namun megah itu berdiri di tanah yang menurut saya seluas tiga kali lapangan sepakbola.

Tempat yang dinamakan Eloprogo Art House ini terletak di Desa Bejen, Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Saya pertama kali ke sana sekitar tahun 2011, diajak seorang kawan dekat yang kerap bersama saya saat berakhir pekan. Sebelum benar-benar menginjakkan kaki di sana, berbulan-bulan sebelumnya kawan saya sering bercerita tentang tempat tersebut, namun ia selalu bilang; “pokoknya nggak bisa gue jelasin dengan kata-kata, lo harus ke sana lihat sendiri deh”. Persis seperti ucapannya beberapa tahun silam, hingga kini saya pun sulit mendeskripsikan tempat itu.

Monday, October 15, 2018

JULIA, Komik Biografi John Lennon ini Layak Dikoleksi


Bagi penggemar musik, terutama para Beatlemania, tanggal 9 Oktober diperingati sebagai hari kelahiran John Lennon. Pentolan The Beatles ini memang tidak hanya meninggalkan karya-karya musik yang dikenang sepanjang zaman, Lennon juga meninggalkan pemikiran, sensasi, dan penggalan-penggalan kisah hidup yang bisa dipetik.


Di Yogyakarta, Selasa, 9 Oktober 2018  para penggemar John Lennon berkumpul di Asmara Art & Coffee Shop, mereka tidak hanya merayakan hari kelahiran, tapi juga merayakan peluncuran komik biografi John Lennon yang bertajuk ‘Julia’. Komik karya ayah saya, Harry Adhie ini menceritakan tentang masa kecil hingga remaja John Lennon, terlebih hubungan John dengan sang ibu, Julia.

Wednesday, September 19, 2018

HAVIN FUN TOUR; Dari Jogja ke Bali


USAI menuntaskan rangkaian tur mereka di Pulau Jawa, Fun As Thirty (FAT) berencana melanjutkan promo tur (FUN AS TOUR) mereka ke pulau seberang. Awalnya saya ditawari menjadi tour manager band melodic punk asal Kota Solo ini ke Pulau Bali. Tapi rasanya sayang, mengingat saat itu ada tiga band dari Jogja plus FAT sedang getol-getolnya kumpul dan kolaborasi di beberapa gigs. Tiga band Jogja tersebut adalah Havinhell, Rokester, dan Roket, terakhir ketiganya melakukan gabungan formasi di acara charity “Lombok Calling” yang digelar di Yogyakarta. Pada acara itu, ke tiga band ini berkolaborasi menjadi satu formasi bertajuk Roket X Havinhell X Rokester.


Singkat cerita, tiga band ini pun segera saya kompori untuk bersenang-senang ke Bali, Havinhell, Rokester, dan Roket sepakat untuk meramaikan (baca: merusuhi) rangkaian tur Fun As Thirty di beberapa titik di Bali. Selain untuk menghibur diri sendiri, para anak muda, dan penggemar musik di Bali, tur mandiri yang dilakukan keempat band ini juga untuk lebih memperkenalkan dan dan mendekatkan diri ke skena musik di pulau Dewata. Tur ini benar-benar tanpa tendensi, tanpa tendeng aling-aling, tanpa kampanye yang dibuat-buat, karena anak-anak ini hanya ingin bersenang-senang. Perjalanan ini pun diberi nama ‘HAVIN FUN TOUR’.

Saturday, June 16, 2018

Ada 'Resesi' di tahun 2018?





Kalau postingan sebelumnya adalah kaset barat yang dibeli bokap beberapa saat setelah gue lahir, kali ini kita bahas album lokal yang dibeli nyokap, satu tahun setelah gue lahir. Album ini sempat menghilang dari rak koleksi, dan akhirnya beberapa waktu lalu gue beli lagi di Sentra Musik, Blok M Square. 

Secara ajaib, album otentik yang dibeli nyokap pun ketemu di sebuah onggokan, bisa ditandai dari torehan nama gue di dalam sampulnya. Menurut selera pasar, 'Malam Pertama' dan 'Hening' adalah hits di album ini, selebihnya nggak ada yang meledak.

Jika 1982 adalah Hot Space, Apa yang Pantas untuk 2018?

Beberapa saat setelah gue lahir, bokap beli kaset QUEEN yang baru rilis saat itu, 'Hot Space'. Beliau pun menorehkan nama gue di bagian atas sampul albumnya.

Kalo gue pribadi punya beberapa nomer Istimewa, di antaranya dua lagu yang sengaja ditulis oleh Freddie Mercury untuk mendiang John Lennon, yang meninggal dua tahun sebelum 'Hot Space' dirilis.

“They called him a hero in the land of the free” kata Freddie untuk Lennon. Meski kebanyakan menelan disko, di tembang 'Put Out the Fire' ini kita kembali merasakan irama rock yang menggigit.

Sedangkan tembang 'Life Is Real (Song for Lennon)' memang jelas-jelas didedikasikan untuk Lennon,
"Lennon is a genius, living in every pore. Life is cruel, life is a bitch. Life is real, so real."

Lagu terbaik di album ini menurut pasar adalah 'Under Pressure', yang memang tercatat jadi hits nomor 1 di Inggris kala itu. Disini Freddie Mercury berduet dengan David Bowie. Satu dekade kemudian, betotan bass John Deacon yang khas dijadikan sampling oleh rapper Vanilla Ice.

Di album ini, Queen yang dikenal pure-rock tiba-tiba banyak memasukan unsur disko dan funk di sana-sini. Banyak kritikus yang bilang kalau album ini 'jelek'. Baik buruknya album ini tentu berdasarkan penilaian telinga pendengarnya. Sebab sebagai teks, 'Hot Space' adalah milik publik yang bebas tafsir, dan mau gak mau album ini menjadi bagian representasi zaman saat gue dilahirkan.

Nah, pertanyaannya adalah apa produk budaya saat ini yang merepresentasikan zaman ini, dan bisa dikenang dikemudian hari. Kira-kira gue harus beli album musik siapa ya? Supaya biasa ditulis nama anak gue 'Radmila Paradista' di sampul albumnya.

Oh, memang zaman ini zamannya tik tok. (*)


Monday, February 19, 2018

“CINTA DAN BENCANA” Komik Pertama Karya Geologist

Beberapa pekan lalu saya diundang pada peluncuran Komik 'Cinta dan Bencana'. Awalnya penulis komik ini, Andeskal Suryawan menghubungi saya lewat direct message di instagram. Lha, dia pikir saya ini komikus beneran apa ya? Hehehe.. akhirnya beliau saya ajak ketemuan di sebuah bar di kawasan Prawirotaman Yogyakarta, kebetulan saat itu saya diajak featuringan sama The Blue Train, band country, bluegrass yang baru saja ditinggal pergi vokalisnya. Saat itu saya kedatangan tamu, band dari Bali, The Catroll namanya. Semuanya saya ajak ketemuan di bar bernama Easy Goin’ Grill & Garden tersebut.
Untuk mensiasati agar Andes tidak mati gaya saat band sedang bermain, saya mengajak Mbronk Mbrink, komikus dan desainer grafis untuk Endank Soekamti. Jambronk (begitu panggilan akrabnya) juga sudah merilis dua buku komik Endank Soekamti, pasti mereka cocok ngobrolnya, pikir saya.
Perbincangan pun berlanjut, hingga akhirnya saya dan Jambronk dikirim draft komik sekian halaman tersebut. Setelah berkomunikasi via wassap dan email, akhirnya launching disepakati di sebuah tempat bernama Arcaf Cafe, 5 februari 2018. Saya, Jambronk, dan komikus fenomenal Kharisma Jati didaulat sebagai pembicara membahas komik tersebut.
'Cinta dan Bencana' adalah komik yang menarik. Disajikan dengan gaya campuran antara manga dan komik Amerika, komik ini bercerita tentang beberapa fakta peristiwa besar di Yogyakarta. Kita ketahui bahwa Yogyakarta adalah kota dengan sejarah yang besar dan dihuni oleh orang-orang yang kuat. Meski kerap ditimpa bencana alam; gunung meletus, gempa bumi, banjir, dan lainnya, warga Yogyakarta yang terbiasa bahu membahu semakin solid dan saling mengisi sesuai perannya masing-masing.

Tuesday, November 21, 2017

Jejak Dwitunggal Chrisye dan Yockie (1977-1984)

Sedari kecil saya sangat menyukai lagu-lagu Chrisye. Di setiap era, lagu-lagu Chrisye selalu menemani. Dari jaman bujang dan perawan, Bokap Nyokap selalu beli album apapun yang ada Chrisye-nya. Koleksi mereka bisa dibilang lengkap. Tapi seiring waktu, ada beberapa yang rusak dan hilang entah kemana. Baru-baru ini aja saya mulai berburu lagi karya-karya Chrisye terutama dalam bentuk kaset pita.



Saturday, October 28, 2017

Mus Mujiono Bicara Festival Jazz dan Hal-Hal yang Dilupakan

Mus Mujiono adalah legenda hidup musik Indonesia. Musisi kelahiran Surabaya, 15 Maret 1960 ini dikenal dengan konsistensinya di jalur musik jazz. Sebagai penyanyi solo, Mus Mujiono telah menelurkan tujuh album. Ia menguasai hampir semua alat musik, dari keyboard, gitar, drum, dan saksofon. Satu di antara lagunya yang 'evergreen' adalah ‘Arti Kehidupan’.  

"Kau menjelma seperti khayalan
Kau impian dalam kenyataan
Perjalanan yang penuh likunya
Kini t'lah tiba di sisimu selamanya

Engkau bukan yang pertama
Tapi pasti yang terakhir, Di cintamu kutemui arti hidupku"

sumber foto: tribunnews.com

Friday, October 20, 2017

ROKET YK: Lugas, Keras, dan Melesat Cepat



Sekira 2013 lalu, Agib dan Fendee mengajak Kiki Pea untuk membentuk band dengan nuansa Punk Rock 70an. Kala itu beberapa kali Kiki diajak sebagai penyanyi tamu untuk band mereka NYK Guns. Namun rencana tersebut ternyata hanya di atas awang-awang, karena kemudian Agib memilih bekerja sebagai wartawan penuh waktu di ibu kota dan nyaris meninggalkan semua aktivitas bermusiknya.

Bertahun-tahun berlalu, Agib kembali ke Jogja, lantas menghubungi Kiki dan Fendee, serta menggaet Tutoet sebagai penggebuk drum. Wacana band ini akhirnya menjadi nyata setelah keempat lelaki paruh baya ini melakukan sesi latihan untuk perdana di Gegana MUSIC Studio.

Wednesday, September 13, 2017

Kengerian dan Erotisme Dalam Satu Panggung

Selasa, 29 Agustus 2017 lalu, saya terlibat di  ASCOLTACI, sebuah rangkaian seminar hasil penelitian yang diselenggarakan di Pascasarjana Universitas Sanata Dharma. ASCOLTACI memiliki makna "dengarlah kami", yang jika disangkutkan dengan seminar tersebut, rangkaian kegiatan ini mengajak para peserta seminar untuk mendukung para peneliti muda dengan mendengarkan hasil dari temuan-temuannya.

Rangkaian ASCOLCATI yang digelar mengambil tema "Erotisme Dalam Film Horor Indonesia". Salain saya sebagai pembicara tamu juga ada pembicara utama, yaitu Clemens Felix Setyawan (Alumnus Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma). Felix merupakan seorang akademisi yang sempat meneliti mengenai hal tersebut untuk penelitian tesisnya. Dalam penelitiannya, Felix membatasinya dengan film-film horor Indonesia yang diciptakan dalam kurun waktu tahun 2009 hingga 2014 lalu untuk menjadi obyek penelitiannya.



Beberapa judul film yang menjadi obyek pengamatannya di antara lain seperti "Tetesan Darah Perawan", "Darah Perawan Bulan Madu", "Pacara Hantu Perawan", "Tali Pocong Perawan", "Perawan Seberang" dan masih banyak lagi karya-karya sinema horor yang menurutnya dicampurkan dengan unsur eksotisme.

Esek-Esek Film Horor Indonesia

oleh: Kiki Pea

Dibandingkan dengan bentuk seni lainnya, film merupakan bentuk yang paling baru. Sedangkan dibandingkan media elektronik lainnya, film merupakan medium yang paling tua. Dalam menyampaikan pesan, film adalah medium yang paling komunikatif. Film adalah media komunikasi massa yang sangat penting untuk menyampaikan suatu realita yang terjadi dalam kehidupan sehari–hari. Film sebagai komunikasi massa merupakan gabungan dari teknologi dan beragam disiplin seni lainnya seperti fotografi, rekaman suara, seni rupa, teater, sastra, arsitektur, serta seni musik. Kehadiran film di tengah kehidupan manusia dewasa ini semakin penting dan setara dengan media lain.



Sayangnya tolak ukur keberhasilan produk film selama ini masih berorientasi pasar. Perfilman idealnya tidak sekadar digarap demi kepentingan ekonomi, tetapi juga mengarahkan film sebagai produk kebudayaan, pendidikan, dan pengetahuan visual. Jadi, kepentingannya tidak semata didasari untung-rugi pasar, tetapi lebih mengutamakan kemajuan pada sebuah kebudayaan.

Wednesday, October 12, 2016

Terberkatilah God Bless!!

Sabtu malam, 8 Oktober 2016 pecinta musik rock segala usia tumpah ruah di Jogja Expo Center. Yes, pada hari pertama gelaran Kustomfest 2016, pihak penyelenggara mengundang legenda musik rock Indonesia, God Bless. Di panggung utama Ahmad Albar dkk tampil lebih dari satu jam. Di atas aspal yang sempat basah karena hujan lebat membasahi lapangan, para penonton, termasuk juga saya.tersihir oleh penampilan rocker yang bisa dikatakan sudah tidak muda lagi.

hantam kiri kanan persetan, penting tahta bertabur intan, lagu kematian, lantang dan bergema

Monday, July 25, 2016

Perubahan Sosial Dimulai Dari Pos Kamling

‘PRAJURIT KALAH TANPA RAJA’

PADA sebuah cakruk atau Pos Kamling di Kampung Minggiran, Yogyakarta terdapat mural bergambar beberapa prajurit Kraton, wajah mereka tampak sedih, seolah kehilangan harapan. Di dada mereka tertancap anak panah, seolah para prajurit tersebut sedang kalah berperang. Di sisi lainnya tampak gambar prajurit Mantrijero yang sedang lunglai nyaris terkapar yang dipapah oleh seorang kawannya. Terdapat juga puisi berbunyi “Siapa lagi yang berjaga, Setelah kami tak ada” karya sastrawan Gunawan Maryanto.


Mural tersebut merupakan bagian dari serangkaian karya berjudul ‘Prajurit Kalah Tanpa Raja’ karya seniman muda bernama Prihatmoko Moki. Menurut Moki prajurit adalah representasi dari masyarakat Yogyakarta dan Raja ialah perwakilan para elit penguasa. Karya tersebut adalah metafor dari situasi di kota Jogja saat ini. Itulah keadaan Jogja saat ini dimata sang seniman. Rencananya gambar serupa juga akan dibuat di wilayah kampung lainnya sesuai dengan nama prajurit Kraton seperti, Kampung Daeng, Prawirotaman, Patang Puluhan, Bugisan, Wirobrajan, Nyutran, dan lainnya.

Friday, July 22, 2016

Psychobilly Berbau Punk Rock di Komik Punyakawan

SELAIN dikenal dengan karya komiknya, Bron Zelani ialah seniman dan musisi bawah tanah. Pada 2015 lalu di perhelatan Jakarta Biennale, ia merepresentasikan asimilasi kultur Rockabilly/ Psychobilly yang berbau Punk Rock dan balutan Brit-Pop di Indonesia melalui medium komik sepanjang 12 meter. 

Tahun ini ia bakal kembali merilis karya komik terbaru. Kali ini komiknya mencoba menilik lebih jauh tentang peradaban Indonesia, yakni Wayang. Meski wayang merupakan budaya serapan dari peradaban Hindustan, namun tak bisa dipungkiri bahwa tokoh Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) ialah tokoh asli dari Indonesia. 

Memang sebelumnya sudah banyak seniman dan komikus yang mengolah tokoh punakawan ini. Satu di antaranya ialah idolanya sendiri yakni Tatang.S.


Meski begitu pria yang akrab disapa Ze ini tetap ingin membuat serial lewat karakter tokoh punakawan ini. Ia berharap agar tokoh-tokoh tersebut selalu lestari, bahkan hingga generasi selanjutnya. 

Sunday, April 3, 2016

Eko Ompong & The Rusty Grill: Tembang Tembang Proletar Dengan Balutan Folk-A-Billy

“Street Troubadour, Folk-A-Billy, Live Recording!”

MUSISI yang hebat tidak mesti datang dari sekolah musik ataupun institusi pendidikan formal lainnya. Banyak musisi hebat yang berasal dari jalanan, menempa ilmu dan mengawali karirnya dengan menjadi seorang pengamen jalanan. Sebut saja nama-nama seperti Iwan Fals, yang dikenal dengan lagu lagu kritik dan menyuarakan kehidupan kaum pinggiran. Selain itu masih ada Leo Kristi, dan Gombloh, legenda asal Surabaya bernama asli Soedjarwoto Soemarsono tersebut dikenal dengan lagu-lagu realis bercorak nasionalisme.


Satu lagi penyanyi yang bersuara tentang kenyataan hidup kaum bawahan yang hadir saat ini, namanya Eko Ompong, ia berasal dari jalanan, dan lama menempa karir sebagai pengamen. Bersama musisi pendukung The Rusty Grill, lagu-lagu ‘Folkabilly’ ciptaan Eko Ompong direkam, dan dirilis oleh Rockin Spades Record Yogyakarta. Di album yang diproduseri Laine Berman & Athonk ini, Eko diiringi oleh tiga musisi muda, mereka ialah personel dari band Rockabilly Kiki & The Klan, Okky (Electric Guitar), Dhana (Slapp Bass), Wredha (Drum). Pesta peluncurannya digelar Senin, (28/3) lalu di Asmara Coffee Shop, Jl Tirtodipuran Yogyakarta. Acara tersebut juga bersamaan dengan perayaan 4th Anniversary Kiki & The Klan.

Monday, January 11, 2016

Kiki & The Klan (KKK): Rockabilly 90% Styles, 10% Skills


KKK is a party-set band, Orkes Rockabilly berbahaya, yang siap mengajak Anda berdansa, sambil tersenyum bahagia. Musik mereka enak didengar, tampilan mereka sedap dipandang. Mendengarkan mereka adalah bercengkerama dengan musik 'ngak-ngik-ngok' yang dilarang Orde Lama, tapi dengan isian serta sikap yang hampir pasti diberangus Orde Baru. Itu semua menjadikan mereka sebagai anomali yang pantas untuk dinikmati. -M.Fikrie/Jurnalis-


******

Kiki Pea sehari-harinya bekerja sebagai jurnalis swasta di surat kabar lokal Yogyakarta. Karena keseringan nonton pertunjukkan musik, ia berpikir untuk mendirikan bandnya sendiri. Dari banyaknya jenis genre musik yang dilahapnya, kebetulan satu-satunya musik yang bisa ia mainkan adalah musik 'ngak ngik ngok' (tiga jurus alias three chord rock n' roll). Musik yang biasa dikenal dengan sebutan Rockabilly ini memang jadi kesukaannya sejak tiga turunan. Tembang-tembang milik Hank Williams, Elvis Presley, Ricky Nelson dan Johnny Cash sudah sangat akrab ditelinga Kiki sejak ia mulai bisa mengenal apa itu yang disebut nada. 



2010 lalu, Kiki hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, kota yang memang ingin dijamahnya sejak lama. Setahun setelah bermukim di Yogyakarta, ia berkenalan dengan Rockin' Spades, yang dianggapnya sebagai lembaga nirlaba yang menaungi para penggemar musik dan subkultur Rockabilly ini. Pada awal 2012 lalu, Kiki memutuskan untuk membuat band sendiri. Nama Kiki & The Klan (KKK) kemudian keluar sebagai pilihan pertama dan terakhir. 

Pemilihan nama Kiki & The Klan yang terkadang disingkat KKK ini jelas tidak ada hubungan sama sekali dengan organisasi fasis rasis terkutuk di Amerika itu (baca: Ku Klux Klan). adapun penggunaan pernak pernik dan bendera 'Rebel' juga tidak ada hubungan dengan sejarah perbudakan di Amerika. Bendera tersebut (yang dikenal dengan Confederate Flag) memang identik digunakan musisi Rockabilly/ Country di Amerika Serikat bagian Selatan. Seorang teman yang sering ke Amerika pun membawakan oleh-oleh tersebut kepada band ini.






Para musisi yang terlibat di proyek ini yang diutamakan dan dikedepankan adalah style ketimbang skill. Mereka memang sengaja dibajak dari band-band asuhan Rockin' Spades. Setelah beberapa kali bongkar pasang personel, Kini KKK ialah Kiki Pea (vokal),  Okky Obbow (Gitar) , Mahadhana Dira (Bass), Bravandy (Piano), Jojo Desperados (Drum). Di beberapa kesempatan mereka juga kerap dibantu oleh beberapa musisi yakni; Rika Fadhila (Saxophone), Yoga (biola), Anas (Trompet), Rangga (gitar), beberapa nama yang pernah singgah di band ini di antaranya, Meynael, Alda Danger, Laurentius Kaboel (gitar), Chatra K, Wredha Laras (Drums), Valentius Nagata (Bass), Gita Negara (saxophone).

Gigs demi gigs KKK sambangi dengan tembang-tembang milik Elvis Presley, Johnny Cash, Carl Perkins, Buddy Holly dan sederet musisi yang menghebohkan jagad musik era 1950-an. nama-nama musisi seperti, Bob Dylan, Hank Williams, Tom Waits, Iggy Pop, Gene Vincent, Hank Williams III, Mike Ness, The Clash, Social Distortion, Deddy Stanzah, dan Stray Cats tentunya nggak lepas dari permainan audio, visual, dan performance yang dihasilkan. 




Uniknya KKK telah main diberbagai gigs dan kesempatan, mulai dari acara pembukaan pameran seni rupa, otomotif, peluncuran buku, pesta sekolahan, ditanggap perusahaan, acara tattoo, stand up comedy, hingga diundang di kantor kementerian negara, dan pesta meriah lainnya. Ini merupakan uniknya musik Rockabilly, mampu merasuk berbagai kalangan. Kiki Pea berkata bahwa proyek ini sejatinya adalah kegiatan menghambur-hamburkan uang tabungannya. "Kami datang untuk menghidupi Rock N Roll, bukan hidup dari Rock N' Roll, jangan takut miskin lah karena Rock N Roll," ujarnya sedikit angkuh.



Dua single sudah ditelurkan band ini di dua album kompilasi berbeda. 'Tiger & Butterfly' dirilis bersama Soundbox Factory Compilation, dan videoklipnya dikerjakan oleh X-Code Films. Single kedua 'You're My Thunder' dirilis 2015 lalu bersama Kustomfest: Indonesian Rockabilly Compilation. Kini band ini sedang berusaha keras sekuat tenaga untuk memproduksi karya-karya olahan sendiri yang pastinya beradaptasi dengan kultur Indo Rock. Semoga band ini nggak berumur panjang, apalagi bisa terkenal dan jadi legenda, karena dalam sejarahnya, belum ada musisi rock yang matinya Moksa... 


Twitter & Instagram: @KikiTheKlan 

BACA JUGA:


Wednesday, November 25, 2015

Yang 'Segar' dan Yang 'Kering' di Ngayogjazz 2015

FESTIVAL musik Ngayogjazz kembali digelar pada Sabtu, (21/11) lalu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini Ngayogjazz 2015 bertempat di Desa Budaya Pandowoharjo, Sleman. Dengan mengangkat tema ‘Bhinneka Tunggal Jazz-nya’, Ngayogjazz 2015 mengajak semua orang untuk merayakan keberagaman dalam satu spirit. Sebanyak enam panggung diisi oleh para musisi yang tampil dengan karakternya masing-masing.


Sederet bintang tamu yang tampil di Ngayogjazz tahun ini di antaranya: Trie Utami & Kua Etnika, ESQI:EF (Syaharani and the Queenfireworks), Indro Harjodikoro and Friends, Yuri Jo, Nita Aartsen, Megan O’Donoghue with GEMATI, INA Ladies, dan masih banyak lagi. Selain musik jazz, juga tampil kesenian tradisional dari desa setempat. Menariknya di Ngayogjazz ini selalu ada pasar tiban, yang diberi nama Pasar Jazz. Pasar tiban ini kebanyakan  diikuti oleh penduduk setempat sebagai usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat.


Ada beberapa penampil yang menyita perhatian saya di acara yang cukup berbeda dengan festival jazz lainnya ini, satu di antaranya ialah Musikanan. Kelompok yang beranggotakan Paksi Raras Alit (vocal), Agnes Tika (vokal), Andra Fahreza (gitar), Eko Widyamanto (keyboard) dan juga additional player Babas (Bas), dan Niko Yas (drum) ini baru saja merilis single berjudul 'Hikayat Pangeran Katak dan Kembang Teratai'. Seluruh komposisi, baik musik, teks, lirik, cerita, dan permainan mereka amat apik, dan 'mahal'. Single ini memang merupakan sebuah komposisi yang bernuansa drama musikal, dan saat ini jarang ada band yang membuat komposisi bernuansa tersebut.



Bagi sebagaian penikmat musik Yogyakarta, nama Paksi Raras Alit memang sudah dikenal baik dalam grup maupun solo vokal. Musikanan ini ialah proyek idealis yang dibangun oleh Paksi sejak akhir tahun 2014 lalu. Setelah terus mengasah warna musiknya, Musikanan kemudian mencampurkan berbagai aliran musik dalam menentukan identitas genrenya. Kini mereka sudah mulai menggarap lanjutan cerita dari single pertama, dan mencoba untuk menggarap album dengan konsep ‘lagu-lagu yang bercerita’.

Selain Musikanan, ada nama baru yang menyita sebagian besar penonton yang datang sejak sore hari, yakni penyanyi solo bernama Jalu. Sejalan dengan tema “Bhinneka Tunggal Jazz-nya”, Jalu menyumbangkan keragaman dengan mereinterpretasikan lagu-lagu milik band pop-punk Endank Soekamti dalam musik jazz.

Tampil di Panggung Janaka, pria bernama lengkap Jalu Tegar Prastawa ini menyapa penonton lewat lagu ‘Cita-cita’. Jalu berhasil menarik para penonton yang awalnya menonton dari kejauhan, kemudian mendekat ke depan panggung. Ia juga membawakan lagu berlirik ’nakal’ Endank Soekamti, di antaranya ‘Asu Tenan’. Lagu yang bercerita tentang ketertarikan seorang pria pada wanita yang punya peliharaan seekor anjing ini disuguhkan jauh berbeda dari versi aslinya, yang cepat dan berdistorsi. Setelah menyanyikan tembang ‘Semoga Kau Di Neraka’, dan ‘Carikan Cinta’ Jalu berpamitan. Namun setelah penonton ‘setengah memaksanya’ untuk bernyanyi lagi, penampilannya pun ditutup dengan lagu ‘Bau Mulut’ dan ‘Satyo dan Rio’.

Menurut saya, akan lebih baik lagi jika penampilan Jalu diberi sentuhan Contra Bass, Snare Drum, dan sedikit Brass. Meski dengan format band, tapi keberadaan instrumen tersebut tentu tidak mengurangi kesederhanaan dan keunikan lagu yang dinyanyikan Jalu. Bahkan saya sempat berpikir, alangkah tambah elegan jika Jalu berdandan ala Tom Waits, namun masukan tersebut saya urungkan, karena nanti malah mirip Tompi.. :p 



Vokalis bernama lengkap Jalu Tegar Prastawa ini secara tidak sengaja “ditemukan” Erix Soekamti di YouTube. Suatu ketika Erix melihat video Jalu yang meng-cover lagu ‘Carikan Cinta’. Ketertarikan tersebut segera ditindaklanjuti dengan tawaran memproduseri album pertama Jalu. Saat ini Jalu sedang dalam proses rekaman, dan rencana albumnya akan dirilis tahun depan, bersamaan dengan album ke-7 Endank Soekamti. Album ini menjadi menarik karena mereinterpretasi lagu-lagu Endank Soekamti yang bergenre pop-punk menjadi akustik pop jazz yang dikemas sederhana dan unik.

“Kita coba menjembatani, mencairkan, dan lebih memasyarakatkan jazz yang seolah segmented, eksklusif, dan mahal, menjadi lebih menarik, layak, tapi tidak murahan,” kata Erix.


Lelaki kelahiran Klaten, 15 April 1992 ini bukan sekadar artis YouTube belaka, Jalu telah mengawali karirnya sebagai vokalis Sekawan & Friends Band sewaktu kuliah pada 2010. Tidak hanya itu, lulusan UKSW Salatiga ini pernah meraih beberapa penghargaan seperti Juara 2 Campus Jazz Festival se-Jateng DIY (2011), Juara 2 Jazz Goes to Campus Festival (2012), dan Best Vocalist Jazz Goes To Campus Festival (2012).

******
Berbeda dengan tahun lalu, dimana Ngayogjazz 2014 mengangkat tema ’Tung Tak Tung Jazz’. Kali ini Ngayogjazz 2015 mengusung tema ‘Bhinneka Tunggal Jazz-nya’, yang merupakan plesetan dari Bhinneka Tunggal Ika. Tagline ‘nyeleneh’ ini merupakan kalimat yang diambil dari Kakawin Sutasoma karya dari Mpu Tantular yang arti harafiahnya “beraneka itu satu’. Tema ini sengaja diangkat penyelenggara mengingat selama setahun ini keadaan Indonesia seringkali ‘panas’ karena perbedaan. Maka lewat musik, Ngayogjazz mengajak masyarakat  untuk mengingat kembali bahwa keanekaragaman bukanlah alasan untuk memecah belah satu sama lain.


Nikmatnya hadir di ‪‎Ngayogjazz ialah bisa menonton musik Jazz dengan mengenakan ‘sendal jepit’, dan jajan makanan-minuman khas ‘kampung’. Belum lagi uniknya panggung yang di tata di dekat kuburan, atau kandang sapi. “Keren kan, nonton jazz yang biasanya dekat dengan ‘orang-orang wangi’, dan hidangan mahal, kini telah dipatahkan oleh festival ini.”

Bagi saya menonton Ngayogjazz memang lebih enak di panggung-panggung kecil, karena biasanya akan banyak kejutan segar dari musisi muda, seperti Musikanan dan Jalu ini. Lha, Kalau urusan Tri Utami, Kua Etnika, Syahrani, dsb yaa udah selesai lah......



Sepertinya akan lebih berwarna jika pihak Ngayogjazz mengundang legenda pop-jazz lokal. Banyak musisi senior yang harusnya bisa tampil di perhelatan ini, misalnya Fariz RM, Oddie Agam, Mus Mujiono, Dedi Dukun, Dian PP, Vina Panduwinata, Ermy Kulit, dan sejenisnya. Apalagi Fariz RM yang baru aja bebas dari ‘rehabilitasi’, tentunya penampilan Fariz akan sangat dinanti khalayak tua dan muda, karena lagu-lagu ciptaannya yang tak lekang zaman. 
Ah, sepertinya saya ‘terpaksa’ menonton pertunjukan Fariz RM di sebuah hotel dengan tiket agak mahal pada akhir pekan ini.

Apalagi jika memang misi Ngayogjazz ialah untuk memasyarakatkan jazz, semestinya musisi-musisi yang biasa tampil di hotel-hotel mahal, dan hanya bisa dinikmati para borjuis itu, ya harus ditempatkan 'main’ di kandang kerbau, sapi, dan panggungnya persis di sebelah kuburan umum desa setempat. Nah, kalau hanya jadi semacam 'ritual tahunan', maka apa bedanya festival jazz kontemporer ini dengan tradisi gunungan atau apeman yang digelar Kraton ? :p

menyaksikan Kua Etnika dari atas kandang sapi, difoto oleh Liz Listyowening
Sayangnya lagi, ‪’‎jazz hujan’ warna pink yang sengaja saya beli diperjalanan ke venue nggak jadi dipakai, persoalannya perhelatan Ngayogjazz tahun ini 'Kering', tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang diguyur hujan. 
Ya, semoga ke depannya Ngayogjazz bukan cuma jadi 'ritual' tahunan yang wajib adanya. 'Break On Through, To The Other Side' kalo kata The Doors, atau istilah Fariz RM nya 'Selangkah Ke Seberang'.(*)

(nb) ini kali pertama saya datang ke Ngayogjazz bersama
seorang perempuan, yang Alhamdulillahnya istri sendiri :p

Foto Jalu oleh Deka Pramana
Foto Musikanan oleh Anggityas Sekarkinasih Putri
Foto lainnya saya colong dari instagram @pfijogja, silakan follow akunnya :p


Featured