Showing posts with label Gigs. Show all posts
Showing posts with label Gigs. Show all posts

Friday, October 19, 2018

Eloprogo, Potro Joyo, dan Nusasonic

Sekitar 1,5 km dari Candi Borobudur terdapat sebuah desa yang tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Di desa tersebut terdapat sungai yang airnya mengaliri bebatuan, ada dua sungai yang bertemu, Sungai Elo dan Sungai Progo. Di alam hijau yang subur, tepat di pinggir pertemuan dua sungai tersebut terdapat sebuah bangunan yang ekstotis. Bagunan sederhana namun megah itu berdiri di tanah yang menurut saya seluas tiga kali lapangan sepakbola.

Tempat yang dinamakan Eloprogo Art House ini terletak di Desa Bejen, Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Saya pertama kali ke sana sekitar tahun 2011, diajak seorang kawan dekat yang kerap bersama saya saat berakhir pekan. Sebelum benar-benar menginjakkan kaki di sana, berbulan-bulan sebelumnya kawan saya sering bercerita tentang tempat tersebut, namun ia selalu bilang; “pokoknya nggak bisa gue jelasin dengan kata-kata, lo harus ke sana lihat sendiri deh”. Persis seperti ucapannya beberapa tahun silam, hingga kini saya pun sulit mendeskripsikan tempat itu.

Monday, February 19, 2018

Love Me Twice In Kuta Rock City (Undercovered)

Sebelumnya banyak pihak yang ‘shock’ ketika JRX mengumumkan bahwa Twice Bar tutup. Padahal sejak awal eksistensinya Twice Bar bagaikan rumah bagi skena rock bawah tanah Bali. Tempat ini telah melahirkan dan membesarkan band-band bawah tanah Bali. Karena tanggung jawab sejarah tersebut, JRX memutuskan untuk membangkitkan Twice Bar dari tidurnya. Lokasinya kini tetap di Kuta Rock City, hanya bergeser beberapa gang dari lokasi semula. Ciri khas Twice Bar yang sudah ‘mendarah daging’ tetap ia jaga sebagai ‘an underground rock n roll bar. Nothing fancy, just a simple, small international rock n roll venue with a local-friendly vibe. Di sinilah tempat dimana pengunjung lokal dan asing mendapat perlakuan yang sama=setara.



“CINTA DAN BENCANA” Komik Pertama Karya Geologist

Beberapa pekan lalu saya diundang pada peluncuran Komik 'Cinta dan Bencana'. Awalnya penulis komik ini, Andeskal Suryawan menghubungi saya lewat direct message di instagram. Lha, dia pikir saya ini komikus beneran apa ya? Hehehe.. akhirnya beliau saya ajak ketemuan di sebuah bar di kawasan Prawirotaman Yogyakarta, kebetulan saat itu saya diajak featuringan sama The Blue Train, band country, bluegrass yang baru saja ditinggal pergi vokalisnya. Saat itu saya kedatangan tamu, band dari Bali, The Catroll namanya. Semuanya saya ajak ketemuan di bar bernama Easy Goin’ Grill & Garden tersebut.
Untuk mensiasati agar Andes tidak mati gaya saat band sedang bermain, saya mengajak Mbronk Mbrink, komikus dan desainer grafis untuk Endank Soekamti. Jambronk (begitu panggilan akrabnya) juga sudah merilis dua buku komik Endank Soekamti, pasti mereka cocok ngobrolnya, pikir saya.
Perbincangan pun berlanjut, hingga akhirnya saya dan Jambronk dikirim draft komik sekian halaman tersebut. Setelah berkomunikasi via wassap dan email, akhirnya launching disepakati di sebuah tempat bernama Arcaf Cafe, 5 februari 2018. Saya, Jambronk, dan komikus fenomenal Kharisma Jati didaulat sebagai pembicara membahas komik tersebut.
'Cinta dan Bencana' adalah komik yang menarik. Disajikan dengan gaya campuran antara manga dan komik Amerika, komik ini bercerita tentang beberapa fakta peristiwa besar di Yogyakarta. Kita ketahui bahwa Yogyakarta adalah kota dengan sejarah yang besar dan dihuni oleh orang-orang yang kuat. Meski kerap ditimpa bencana alam; gunung meletus, gempa bumi, banjir, dan lainnya, warga Yogyakarta yang terbiasa bahu membahu semakin solid dan saling mengisi sesuai perannya masing-masing.

Monday, November 28, 2016

Rock & Roll Maksimal di Hotrod Weekend Party



MUSIK Rockabilly, sejak awalnya memang memiliki koneksi yang kuat dengan dunia dan gaya hidup otomotif. Pada perkembangannya, musik asli Amerika yang muncul di tahun 1950-an ini, kian populer dan mendunia. Membahas genre rockabilly yang terdiri dari racikan blues, country, dan gospel ini bukan hanya melulu bicara soal musik, tapi juga merambah ke budaya lainnya seperti; potongan rambut, tarian, tattoo, grafiti, fesyen, dan otomotif. 


Untuk urusan otomotif, para pengusung genre ini akhirnya kental dengan nuansa mobil-mobil Amerika lawas tahun 50-an yang juga dikenal dengan Hotrod. Di Amerika, setiap tahunnya digelar event akbar 'Viva Las Vegas' yang khusus merayakan pernak pernik kultur Rockabilly. Perkembangan kultur ini juga sampai ke Indonesia, bahkan di Jogja yang menjadi 'magnet Rockabilly', telah lama memiliki komunitas musik, dan beragam komunitas otomotif. Mengadopsi acara Viva Las Vegas, komunitas Hotrodiningrat untuk kali kedua menggelar Hotrod Weekend Party (HWP). 

Wednesday, October 12, 2016

Terberkatilah God Bless!!

Sabtu malam, 8 Oktober 2016 pecinta musik rock segala usia tumpah ruah di Jogja Expo Center. Yes, pada hari pertama gelaran Kustomfest 2016, pihak penyelenggara mengundang legenda musik rock Indonesia, God Bless. Di panggung utama Ahmad Albar dkk tampil lebih dari satu jam. Di atas aspal yang sempat basah karena hujan lebat membasahi lapangan, para penonton, termasuk juga saya.tersihir oleh penampilan rocker yang bisa dikatakan sudah tidak muda lagi.

hantam kiri kanan persetan, penting tahta bertabur intan, lagu kematian, lantang dan bergema

Wednesday, November 25, 2015

Yang 'Segar' dan Yang 'Kering' di Ngayogjazz 2015

FESTIVAL musik Ngayogjazz kembali digelar pada Sabtu, (21/11) lalu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini Ngayogjazz 2015 bertempat di Desa Budaya Pandowoharjo, Sleman. Dengan mengangkat tema ‘Bhinneka Tunggal Jazz-nya’, Ngayogjazz 2015 mengajak semua orang untuk merayakan keberagaman dalam satu spirit. Sebanyak enam panggung diisi oleh para musisi yang tampil dengan karakternya masing-masing.


Sederet bintang tamu yang tampil di Ngayogjazz tahun ini di antaranya: Trie Utami & Kua Etnika, ESQI:EF (Syaharani and the Queenfireworks), Indro Harjodikoro and Friends, Yuri Jo, Nita Aartsen, Megan O’Donoghue with GEMATI, INA Ladies, dan masih banyak lagi. Selain musik jazz, juga tampil kesenian tradisional dari desa setempat. Menariknya di Ngayogjazz ini selalu ada pasar tiban, yang diberi nama Pasar Jazz. Pasar tiban ini kebanyakan  diikuti oleh penduduk setempat sebagai usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat.


Ada beberapa penampil yang menyita perhatian saya di acara yang cukup berbeda dengan festival jazz lainnya ini, satu di antaranya ialah Musikanan. Kelompok yang beranggotakan Paksi Raras Alit (vocal), Agnes Tika (vokal), Andra Fahreza (gitar), Eko Widyamanto (keyboard) dan juga additional player Babas (Bas), dan Niko Yas (drum) ini baru saja merilis single berjudul 'Hikayat Pangeran Katak dan Kembang Teratai'. Seluruh komposisi, baik musik, teks, lirik, cerita, dan permainan mereka amat apik, dan 'mahal'. Single ini memang merupakan sebuah komposisi yang bernuansa drama musikal, dan saat ini jarang ada band yang membuat komposisi bernuansa tersebut.



Bagi sebagaian penikmat musik Yogyakarta, nama Paksi Raras Alit memang sudah dikenal baik dalam grup maupun solo vokal. Musikanan ini ialah proyek idealis yang dibangun oleh Paksi sejak akhir tahun 2014 lalu. Setelah terus mengasah warna musiknya, Musikanan kemudian mencampurkan berbagai aliran musik dalam menentukan identitas genrenya. Kini mereka sudah mulai menggarap lanjutan cerita dari single pertama, dan mencoba untuk menggarap album dengan konsep ‘lagu-lagu yang bercerita’.

Selain Musikanan, ada nama baru yang menyita sebagian besar penonton yang datang sejak sore hari, yakni penyanyi solo bernama Jalu. Sejalan dengan tema “Bhinneka Tunggal Jazz-nya”, Jalu menyumbangkan keragaman dengan mereinterpretasikan lagu-lagu milik band pop-punk Endank Soekamti dalam musik jazz.

Tampil di Panggung Janaka, pria bernama lengkap Jalu Tegar Prastawa ini menyapa penonton lewat lagu ‘Cita-cita’. Jalu berhasil menarik para penonton yang awalnya menonton dari kejauhan, kemudian mendekat ke depan panggung. Ia juga membawakan lagu berlirik ’nakal’ Endank Soekamti, di antaranya ‘Asu Tenan’. Lagu yang bercerita tentang ketertarikan seorang pria pada wanita yang punya peliharaan seekor anjing ini disuguhkan jauh berbeda dari versi aslinya, yang cepat dan berdistorsi. Setelah menyanyikan tembang ‘Semoga Kau Di Neraka’, dan ‘Carikan Cinta’ Jalu berpamitan. Namun setelah penonton ‘setengah memaksanya’ untuk bernyanyi lagi, penampilannya pun ditutup dengan lagu ‘Bau Mulut’ dan ‘Satyo dan Rio’.

Menurut saya, akan lebih baik lagi jika penampilan Jalu diberi sentuhan Contra Bass, Snare Drum, dan sedikit Brass. Meski dengan format band, tapi keberadaan instrumen tersebut tentu tidak mengurangi kesederhanaan dan keunikan lagu yang dinyanyikan Jalu. Bahkan saya sempat berpikir, alangkah tambah elegan jika Jalu berdandan ala Tom Waits, namun masukan tersebut saya urungkan, karena nanti malah mirip Tompi.. :p 



Vokalis bernama lengkap Jalu Tegar Prastawa ini secara tidak sengaja “ditemukan” Erix Soekamti di YouTube. Suatu ketika Erix melihat video Jalu yang meng-cover lagu ‘Carikan Cinta’. Ketertarikan tersebut segera ditindaklanjuti dengan tawaran memproduseri album pertama Jalu. Saat ini Jalu sedang dalam proses rekaman, dan rencana albumnya akan dirilis tahun depan, bersamaan dengan album ke-7 Endank Soekamti. Album ini menjadi menarik karena mereinterpretasi lagu-lagu Endank Soekamti yang bergenre pop-punk menjadi akustik pop jazz yang dikemas sederhana dan unik.

“Kita coba menjembatani, mencairkan, dan lebih memasyarakatkan jazz yang seolah segmented, eksklusif, dan mahal, menjadi lebih menarik, layak, tapi tidak murahan,” kata Erix.


Lelaki kelahiran Klaten, 15 April 1992 ini bukan sekadar artis YouTube belaka, Jalu telah mengawali karirnya sebagai vokalis Sekawan & Friends Band sewaktu kuliah pada 2010. Tidak hanya itu, lulusan UKSW Salatiga ini pernah meraih beberapa penghargaan seperti Juara 2 Campus Jazz Festival se-Jateng DIY (2011), Juara 2 Jazz Goes to Campus Festival (2012), dan Best Vocalist Jazz Goes To Campus Festival (2012).

******
Berbeda dengan tahun lalu, dimana Ngayogjazz 2014 mengangkat tema ’Tung Tak Tung Jazz’. Kali ini Ngayogjazz 2015 mengusung tema ‘Bhinneka Tunggal Jazz-nya’, yang merupakan plesetan dari Bhinneka Tunggal Ika. Tagline ‘nyeleneh’ ini merupakan kalimat yang diambil dari Kakawin Sutasoma karya dari Mpu Tantular yang arti harafiahnya “beraneka itu satu’. Tema ini sengaja diangkat penyelenggara mengingat selama setahun ini keadaan Indonesia seringkali ‘panas’ karena perbedaan. Maka lewat musik, Ngayogjazz mengajak masyarakat  untuk mengingat kembali bahwa keanekaragaman bukanlah alasan untuk memecah belah satu sama lain.


Nikmatnya hadir di ‪‎Ngayogjazz ialah bisa menonton musik Jazz dengan mengenakan ‘sendal jepit’, dan jajan makanan-minuman khas ‘kampung’. Belum lagi uniknya panggung yang di tata di dekat kuburan, atau kandang sapi. “Keren kan, nonton jazz yang biasanya dekat dengan ‘orang-orang wangi’, dan hidangan mahal, kini telah dipatahkan oleh festival ini.”

Bagi saya menonton Ngayogjazz memang lebih enak di panggung-panggung kecil, karena biasanya akan banyak kejutan segar dari musisi muda, seperti Musikanan dan Jalu ini. Lha, Kalau urusan Tri Utami, Kua Etnika, Syahrani, dsb yaa udah selesai lah......



Sepertinya akan lebih berwarna jika pihak Ngayogjazz mengundang legenda pop-jazz lokal. Banyak musisi senior yang harusnya bisa tampil di perhelatan ini, misalnya Fariz RM, Oddie Agam, Mus Mujiono, Dedi Dukun, Dian PP, Vina Panduwinata, Ermy Kulit, dan sejenisnya. Apalagi Fariz RM yang baru aja bebas dari ‘rehabilitasi’, tentunya penampilan Fariz akan sangat dinanti khalayak tua dan muda, karena lagu-lagu ciptaannya yang tak lekang zaman. 
Ah, sepertinya saya ‘terpaksa’ menonton pertunjukan Fariz RM di sebuah hotel dengan tiket agak mahal pada akhir pekan ini.

Apalagi jika memang misi Ngayogjazz ialah untuk memasyarakatkan jazz, semestinya musisi-musisi yang biasa tampil di hotel-hotel mahal, dan hanya bisa dinikmati para borjuis itu, ya harus ditempatkan 'main’ di kandang kerbau, sapi, dan panggungnya persis di sebelah kuburan umum desa setempat. Nah, kalau hanya jadi semacam 'ritual tahunan', maka apa bedanya festival jazz kontemporer ini dengan tradisi gunungan atau apeman yang digelar Kraton ? :p

menyaksikan Kua Etnika dari atas kandang sapi, difoto oleh Liz Listyowening
Sayangnya lagi, ‪’‎jazz hujan’ warna pink yang sengaja saya beli diperjalanan ke venue nggak jadi dipakai, persoalannya perhelatan Ngayogjazz tahun ini 'Kering', tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang diguyur hujan. 
Ya, semoga ke depannya Ngayogjazz bukan cuma jadi 'ritual' tahunan yang wajib adanya. 'Break On Through, To The Other Side' kalo kata The Doors, atau istilah Fariz RM nya 'Selangkah Ke Seberang'.(*)

(nb) ini kali pertama saya datang ke Ngayogjazz bersama
seorang perempuan, yang Alhamdulillahnya istri sendiri :p

Foto Jalu oleh Deka Pramana
Foto Musikanan oleh Anggityas Sekarkinasih Putri
Foto lainnya saya colong dari instagram @pfijogja, silakan follow akunnya :p


Wednesday, May 20, 2015

Mengintip Rekaman The Hydrant di Lokananta

BAND pionir Rockabilly Revival asal Bali, The Hydrant sedang proses merilis album. Pekan lalu sepanjang 7-9 Mei 2015, mereka merekam materi lagu secara live di studio legendaris di kota Solo, yakni Lokananta. Album ini merupakan album pertama setelah satu dekade eksistensi mereka di blantika musik. The Hydrant kini adalah Marshello (vokal), Vincent (gitar), Adi (bass) dan Christopper (drum) ini. Dengan spirit dan lagu-lagu baru yang memiliki nuansa ala The Hydrant, album yang direkam secara ‘full live’ ini juga untuk mengenalkan gitaris baru mereka, Vincent.

foto oleh Kiki Pea, lokasi Belakang Lokananta
Melakukan proses rekaman di Lokananta tentu saja bukan tanpa alasan, menurut Adi Hydrant konsep ini adalah sebagai aksi ‘menolak lupa’. Mereka berusaha menolak lupa akan sejarah musik Indonesia, terutama di era 1950-1960-an. Kualitas musik Indonesia pada jaman itu juga layak disandingkan dengan band-band dari seluruh dunia. “Sebagian besar hasil karya emas anak bangsa juga direkam di Studio Lokananta,” tambahnya.

Wednesday, April 15, 2015

Indonesia Greaser Party: Melawan Penjajahan Lewat Budaya Imperialis



*Cuma sebuah catatan, siapa tahu bisa jadi rujukan sejarah

TREN dan gaya anak muda memang selalu berubah-ubah, dan berulang. Lima tahun belakangan ini yang kembali lagi menjadi hits yaitu para komunitas greaser. Budaya yang kini digandrungi kembali oleh anak muda Indonesia ini sejatinya sudah eksis sejak tahun 1950-an silam, terutama di Amerika dan Inggris. Fenomena mewabahnya kembali para Greaser ini bisa dijumpai di berbagai kota besar Indonesia seperti, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Eksistensi mereka pun cukup mengandalkan social media, simak saja YouTube, website, facebook, instagram, twitter, dan lainnya. 
 

Apa itu Greaser? Beliau ialah suatu makhluk (baca: subkultur) yang berkembang di Amerika Serikat sekitar 1950-an. Pada kisaran tahun tersebut banyak anak muda yang mencintai musik Rock & Roll, dan kemudian mengembangkan kreasinya ke dalam seni otomotif, mural, fashion, bahkan gaya rambut. Pada mulanya, Greaser adalah bentuk budaya tanding (counter-culture) yang menurut definisi buku sih sebagai sebagian dari populasi suatu masyarakat yang secara kuat menganut, atau memeluk satu atau lebih nilai-nilai budaya yang berbeda dengan nilai-nilai yang ada dalam kebudayaan yang dominan.

Tuesday, February 24, 2015

SUGUHAN TANAH INDAH YANG MAHA OKE

SEBUAH band memang bukan hanya mengerjakan karya dalam bentuk musik. Hal ini dibuktikan oleh band independen asal Yogyakarta FSTVLST. Hampir seluruh elemen seni dipresentasikan pada acara bertajuk Tanah Indah di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) yang sebelumnya dikenal sebagai Gedung Purna Budaya Yogyakarta. FSTVLST mampu menyajikan elemen baik, musik, seni rupa, fotografi, video, sastra, dan seni kontemporer lainnya.

Pada Rabu, (18/2) lalu pukul 19:00 WIB, band yang digawangi oleh Farid Stevy Asta (vocal), Roby Setiawan (guitar), Humam Mufid (bass), Danish Wisnu (drum), dan Rio Faradino (add) ini menggelar konser bertajuk TANAH INDAH. Lewat konser ini mereka menampilkan lagu-lagu dari album teranyar FSTVLST, bertitel HITS KITSCH, yang telah diluncurkan 12 September lalu.

Nirmana Records Rilis Ulang Starlit Carousel

Frau Tampil Memukau

Untuk memuaskan para penggemarnya, Nirmana Records label baru asal Yogyakarta menerbitkan ulang album debut Frau berjudul Starlit Carousel. Frau dikenal sebagai musisi yang memiliki karakter unik. Sebagai seorang antropolog muda yang ditempa musik tradisional sejak dini, penyanyi bernama asli Leilani Hermiasih ini dikenal dengan alunan piano yang indah dengan lirik unik dan puitis, dipadu dengan penampilannya yang apik. Semuanya berpadu dengan indah membuai siapapun yang mendengarnya.

Tuesday, May 20, 2014

Mari Macankan Dunia !!!

MACAN tutul adalah hewan penyendiri, sifat mereka adalah saling menghindari satu sama lain. Hewan ini merupakan pemburu oportunitis, yang menggunakan segala kesempatan untuk mendapatkan mangsanya. Lepas dari sifatnya, warna kulit macan tutul lebih menarik dan memberikan inspirasi para desainer untuk membuat model baju yang lebih dikenal dengan model baju leopard.

Motif leopard memang memiliki eksotika tersendiri. Bila diperhatikan, motif ini tak pernah benar-benar hilang dari perputaran tren mode dunia. Uniknya lagi, motif ini dapat disesuaikan dengan selera siapa pun. Motif klasik macan tutul memang tak menampakkan tanda-tanda akan memudar pada musim berikut. Beberapa merek terkenal internasional dipastikan bakal mempopulerkan motif ini pada musim berikutnya.

Sunday, January 12, 2014

5 Kota di Indonesia Rayakan Elvis Bday Bash 2014

Meski jasadnya sudah tiada sejak tahun 1977 lalu, lagu-lagu ‘Sang Raja Rock & Roll’ Elvis Presley selalu dikenang para penggemarnya. Regenerasi pun terus berlanjut, kini anak muda yang mayoritas lahir sepuluh tahun setelah sang raja meninggal masih fasih menyanyikan lagu-lagunya. Elvis Presley memang membawa pengaruh besar di jagat musik. Ia adalah pionir Rockabilly, sebuah jejak awal dalam musik Rock & Roll yang muncul di tahun 1950-an.  Elvis lahir pada 8 Januari 1935 di Tupelo, Missisipi, Amerika Serikat.


Saturday, October 5, 2013

Macanista For Sangkakala: Rangkaian Heavymetalithicum Project


Kekurangan dana untuk merilis album perdana, tidak membuat Sangkakala lantas menyerah. Band Heavy Metal ternama asal Bantul ini menggelar malam penggalangan dana di Kedai Kebun Forum, Jl Tirtodipuran, Rabu, (2/10) kemarin. Acara yang digelar mulai pukul 12.00 – 22.00 WIB ini juga menjadi rangkaian Heavymetalithicum Project, yang puncaknya yaitu Rilis Album. Menurut Blankon, vokalis Sangkakala album perdana tersebut akan keluar pada Oktober ini.

Friday, September 20, 2013

Konser Rumahan Endank Soekamti Di Rumah Cahya


TAK bisa dibayangkan betapa terkejutnya seorang fans ketika tiba-tiba di sore hari, band yang dipuja tampil di garasi rumahnya. Pada Sabtu, (14/9) Endank Soekamti mendatangi rumah seorang gadis di kota Malang. Gadis bernama lengkap Cahya Herwindyasari terpilih menjadi pemenang edisi pertama konser rumahan yang digelar band asal Yogyakarta tersebut. Rasa kaget, kagum, bingung, histeris bercampur jadi satu ketika Cahya membuka garasi rumahnya dan sontak Endank Soekamti sudah siap memainkan tembang-tembang dari album terbaru mereka. Sebelumnya, lebih dari tiga ribu Kamtis yang melayangkan ajuannya untuk mengikuti proyek ini, setelah dilakukan seleksi yang ketat, Cahya dianggap memenuhi syarat dan pantas mendapat hadiah istimewa berupa konser privat di rumahnya.

Sunday, September 8, 2013

Aksi Seniman Yogya Untuk Satria Berkendang #3

Untuk meringakan beban yang dipikul Satria Berkendang, Sujud Sutrisno, sepekan lalu sekelompok seniman Yogyakarta menggelar pentas penggalangan dana untuk sang seniman kendang ini. Menurut Eko Nuryono, pengelola akun Info Seni Jogja yang juga menjadi inisiator aksi amal tersebut, pada malam donasi yang digelar di Panggung Seni Kampayo XT Square tersebut terkumpul dana sebesar Rp 8,5 juta. Uang tersebut kemudian diserahkan sepenuhnya pada Selasa sore (3/9) kepada Sujud yang terbaring di RS Wirosaban Yogyakarta.

Eko menambahkan, kini sebagian besar masyarakat hanya fokus pada biaya operasi yang harus dibayar, padahal masih ada beban yang lebih berat, yaitu biaya tambahan paska operasi. “Sudah sebulan ini mbah Sujud tidak mengamen, otomatis pemasukannya tidak ada, setelah operasi tentu saja ia juga tidak bisa mengamen, dan butuh biaya hidup sehari-hari,” ujarnya.

Saturday, August 31, 2013

CONG YANG BILLY: Keroncong digoyang Rockabilly.


MUSIK keroncong memang bisa dinikmati segala lapisan usia dari hulu hingga ke hilir. Kesan membosankan bagi musik yang katanya milik orang tua konservatif yang konon hanya membuat rasa mengantuk telah dipatahkan oleh Pemuda-Pemudi Yogyakarta yang menggelar pagelaran ‘Kerontjong Rebel Rockabilly’.
Cong-Idol yang diselenggarakan setiap minggu ke-2 dan ke-4 di Pelataran Bentara Budaya Yogyakarta, Jln.Suroto No.2, Kotabaru ini selalu menampilkan grup-grup musik keroncong yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada Kamis, 29 Agustus 2013 kemarin, sekumpulan anak muda yang biasa memainkan jenis musik ‘ngak ngik ngok’nya rock n roll tampil menghibur tua muda, tuan dan puan.
Kerontjong Rebel Rockabilly

Wednesday, July 3, 2013

Prison Of Blues & Kereta Susana: Psychobilly Yang Bikin Mencekam


BAGAIMANA jadinya jika band-band Psychobilly terbaik dari kota Yogyakarta, Bali, dan Bandung tampil dalam satu panggung.  Hasilnya, Jumat malam, (28/6) lalu suasana mencekam terjadi di Taman Budaya Yogyakarta. Nah, apa kah itu Psychobilly? Makhluk ini merupakan genre musik yang mengawinkan unsur Punk Rock dan Rockabilly, tema-tema lagu yang dimainkan memang mencekam, mulai horor, teror, hingga pembunuhan, meski juga banyak yang mengangkat tema realitas dan kritik sosial ke dalam lagu-lagunya.

Suicidal Sinatra
“Ghouls Night Out” adalah nama gigs malam tersebut, dan “Psycho Punk Show” dijadikan sub judulnya, karena pada dasarnya Psychobilly dengan Punk Rock memang masih satu akar dalam bermusik. Total tujuh band Psychobilly dan Punk Rock dari Yogyakarta dan sekitarnya. Bahkan band Psychobilly dari pulau dewata, Suicidal Sinatra yang sudah memiliki penggemar fanatiknya ikut ambil bagian. Selain itu, Bloody Hollow ( Yogyakarta ), Prison Of Blues (Temanggung), dan Kereta Susana (Bandung) adalah nama-nama yang membuat mata dan telinga penontong yang datang langsung tercengang.

Tuesday, July 2, 2013

Membaca Mata Rantai Pemberhalaan (Catatan dari Soundrenaline 2013)


...Sebuah Kajian Budaya dengan pisau semiotika... 
ditulis oleh ghembrang

“Only sick music makes money today,” Nietzsche.

Pernyataan Nietzsche mengenai musik membuka mata kita akan suatu wacana baru. Lebih tepatnya ketika dunia telah dihantui musik-musik sakit. Apa yang menjadi penyebab kesakitan tersebut adalah bibit-bibit penyakit yang dicetak oleh sistem kapitalisme global. Seluruh sektor kehidupan, dialihfungsikan menjadi lahan kapital untuk menghasilkan laba secara besar-besaran. Dalam tulisan kali ini, lebih menitikberatkan bagaimana sistem tersebut mewabah pada dunia musik Indonesia. konsekuensi yang dimunculkan dari penyakit 'musik yang sakit' adalah orang-orang fanatik (Fans).


Hari itu 29 Juni 2013, Yogyakarta dimeriahkan dengan perhelatan musik Soundrenaline yang disponsori oleh salahsatu perusahaan rokok ternama. Dalam acara tersebut didatangkan puluhan group band besar Indonesia. Tersebutlah Slank, SID, The SIGIT, Koil, BIP, Endank Soekamti, Netral, dan masih banyak lagi. Dari tiap band memiliki klub fans dengan nama tertentu. Fans tersebut datang dari beragam daerah bukan hanya dalam wilayah Yogyakarta.

Monday, May 27, 2013

Rumble Royale: Eat The Fashion, Wear The Poison!


SETELAH memiliki lima cabang di Bali,  Rumble membuka gerai pertamanya di pulau Jawa, tepatnya di Yogyakarta. Pada pesta peresmian Rumble Royale Store yang terletak di Jl. R.E Martadinata ini, pada Jumat, (24/5/2013) sederet kelompok musik dari Yogyakarta dan Bali membakar semangat yang sama dengan konsep berdirinya Rumble. 

Devildice
Mulai sore harinya, Rebel Of Law, Broken Rose, Dirty Glass, The Sneakers, dan Desperados unjuk gigi. Selanjutnya grup Rockabilly Kiki & The Klan dilanjutkan Disc Jockey oleh SoundbwoyDodix menemani penonton membunuh senja.

Tuesday, May 14, 2013

Bermalam Minggu di Jogja Bersama Paddy's & Rude Boys


DUA genre berbeda yang berawal dari Irlandia dan Jamaika bertemu dan berpesta di satu stage pada sebuah akhir pekan di kota Yogyakarta. Meski acara tersebut bertajuk Celtic Punk vs Ska, namun perbedaan bukanlah hambatan untuk terus berekplorasi dan menggiatkan kreatifitas serta apresiasi dalam berkarya. Atas dasar pemikiran itulah sekelompok anak muda Yogyakarta menggulirkan acara tersebut. Sebanyak 4 band celtic punk dan 4 band ska yang semuanya berasal dari Yogyakarta saling unjuk gigi. 

Featured