BAND Rockabilly Jaksel, The Sleting
Down (TSD) akhirnya merilis album perdana mereka. Mengambil tajuk ‘Tuan Boogie’, album berisi delapan track ini kaya akan nuansa 50-60-an, dan tentunya enak
untuk mengiringi pesta dansa-dansi di sana-sini. Sebelum kita bicara apakah
album ini cukup ‘Rockabilly’, kita kupas dulu kulitnya satu-satu. Tapi
sebelumnya lagi gue mau cerita koneksi mereka dengan skena Yogyakarta. Oiya, biasanya
gue memakai kata ‘saya’ sebagai penulis, tapi khusus untuk anak-anak tengil
dari Jakarta Selatan ini, tepatnya Jaksel Pinggiran, kata ‘saya’ kita bunuh
aja. Nih gue mau cerita!
Showing posts with label Greasers. Show all posts
Showing posts with label Greasers. Show all posts
Thursday, October 25, 2018
Monday, February 19, 2018
Love Me Twice In Kuta Rock City (Undercovered)
Sebelumnya banyak pihak yang ‘shock’ ketika JRX mengumumkan bahwa Twice Bar tutup. Padahal sejak awal eksistensinya Twice Bar bagaikan rumah bagi skena rock bawah tanah Bali. Tempat ini telah melahirkan dan membesarkan band-band bawah tanah Bali. Karena tanggung jawab sejarah tersebut, JRX memutuskan untuk membangkitkan Twice Bar dari tidurnya. Lokasinya kini tetap di Kuta Rock City, hanya bergeser beberapa gang dari lokasi semula. Ciri khas Twice Bar yang sudah ‘mendarah daging’ tetap ia jaga sebagai ‘an underground rock n roll bar. Nothing fancy, just a simple, small international rock n roll venue with a local-friendly vibe. Di sinilah tempat dimana pengunjung lokal dan asing mendapat perlakuan yang sama=setara.
Monday, January 8, 2018
Motor Honda & Rock & Roll
Di balik hingar bingarnya motor besar dengan suara mesin yang memekakkan telinga, dan geng motor yang terkadang berujung pada kriminalitas, atau menimbulkan semacam 'kecemburuan sosial', ada jenis motor yang setidaknya bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin bergaya 'Rockers'. Motor Honda CB ini juga identik dengan kultur Rock & Roll, pada sebuah foto, tampak Mick Jagger dengan santainya mengendarai Honda CB 350. Selain itu tampak juga band CCR, Elvis Presley, Michael Jackson, juga Paul McCartney sedang berfoto dengan Honda CB, bahkan band Hard Rock/Glam Metal, Kiss pernah jadi model iklan motor produksi Jepang tersebut.
Rocker, Fesyen, & Harley Davidson
Sepeda Motor juga identik dengan para musisi Hard Rock, dan Heavy Metal. Salah satu vokalis Deep Purple, Ian Gillan juga menggemari sepeda motor, bisa dibayangkan betapa 'cool'nya vokalis bersuara melengking ini mengendarai motornya sambil mendendangkan 'Speed King'. Nama-nama lain, (alm) Lemmy Kilmister (Motorhead), Axl Rose (GNR), James Hetfield (Metallica), Tommy Lee (Motley Crue), Jon Bon Jovi, dan Steven Tyler (Aerosmith) juga identik dengan sepeda motor mereka. Bahkan sang vokalis 'Aerosmith' yang juga penggemar motor kustom tersebut, pernah mendesain motor 'Dirico Motorcycle' yang sebelumnya bernama Red Wing Motorcycles. Steven Tyler juga berpartisipasi dalam berbagai lelang amal yang berkaitan dengan sepeda motor, termasuk program amal 'Ride for Children'.
![]() |
| Lemmy Kilmister |
Rocker Dan Kecelakaan Motor
Menyoal soal kecelakaan bermotor, entah karena faktor perangai, maupun kecelakaan murni, ada beberapa Superstar yang pernah mengalaminya. Tahun 1966, Bob Dylan mengalami kecelakaan serius di dekat rumahnya di New York.
Bob Dylan terbanting dari atas motornya Triumph Tiger 500cc, hingga mengalami cedera leher. Peristiwa ini membuatnya vakum dari tur dan aktifitas produktifnya selama delapan tahun. Kecelakaan fatal juga pernah menimpa mantan vokalis AC/DC Bon Scott sebelum ia terkenal dan sedang mengalami masa depresi.
Pada tahun 1974, saat berusia 28 tahun, Bon Scott yang sedang mabuk terlibat adu mulut dengan personil band nya saat itu 'The Valentines'. Ia keluar venue dengan bringas, melempar botol Jack Daniels, dan berteriak-teriak ke arah motornya Suzuki 550cc lalu tancap gas.
Tiga jam kemudian istrinya mendapat kabar bahwa Bon terlibat kecelakaan parah dengan mobil yang mengakibatkannya patahtulang iga, rahang, dan hampir semua gigi seri nya. Ia mendapatkan jaritan di sekitar leher, koma tiga hari, dan dirawat di rumah sakit selama 18 hari.
Namun ternyata Bon selamat dari kecelakaan tersebut dan meraih sukses selama 6 tahun bersama AC/DC. Namun lantaran hobi berat menegak alkohol, ia tewas tersedak oleh muntah nya sendiri pada tahun 1980.
Bob Dylan terbanting dari atas motornya Triumph Tiger 500cc, hingga mengalami cedera leher. Peristiwa ini membuatnya vakum dari tur dan aktifitas produktifnya selama delapan tahun. Kecelakaan fatal juga pernah menimpa mantan vokalis AC/DC Bon Scott sebelum ia terkenal dan sedang mengalami masa depresi.
Pada tahun 1974, saat berusia 28 tahun, Bon Scott yang sedang mabuk terlibat adu mulut dengan personil band nya saat itu 'The Valentines'. Ia keluar venue dengan bringas, melempar botol Jack Daniels, dan berteriak-teriak ke arah motornya Suzuki 550cc lalu tancap gas.
Tiga jam kemudian istrinya mendapat kabar bahwa Bon terlibat kecelakaan parah dengan mobil yang mengakibatkannya patahtulang iga, rahang, dan hampir semua gigi seri nya. Ia mendapatkan jaritan di sekitar leher, koma tiga hari, dan dirawat di rumah sakit selama 18 hari.
Namun ternyata Bon selamat dari kecelakaan tersebut dan meraih sukses selama 6 tahun bersama AC/DC. Namun lantaran hobi berat menegak alkohol, ia tewas tersedak oleh muntah nya sendiri pada tahun 1980.
![]() |
| Bob Dylan |
Melihat Konflik Agraria di Pesisir Selatan
Awal Januari ini memulai riding dengan melintasi jalanan di pesisir selatan Jawa. Di sepanjang perjalanan aspal yang menghubungkan Bantul (Yogyakarta), Purworejo, Kebumen, hingga Cilacap yang memiliki panjang sekitar 130 kilometer ini dinamakan Belangrijke Wegenatau Jalan Raya Utama. Adalah A.D. Daendels yang menjabat sebagai asisten residen di wilayah Ambal (kini nama kecamatan di Kabupaten Kebumen) pada 1838. Nama jalan pantai selatan Jawa kerap disebut dengan nama Jalan Daendels hanya karena jalur tersebut melewati wilayah Ambal yang kala itu dipimpin oleh A.D. Daendels. (ini bukan Daendels yang Gubernur Hindia Belanda di Batavia itu yaak, beda lhoo..)
Sebelumnya, jalan ini sempat menyandang nama Jalur Diponegoro. Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya pernah bergerilya di ruas jalan ini sejak 1825 hingga 1830. Jalan pesisir Pantai Selatan sudah ada sejak abad ke-14, yang dijadikan sebagai penghubung kerajaan-kerajaan di Jawa.
Monday, November 28, 2016
Rock & Roll Maksimal di Hotrod Weekend Party
MUSIK
Rockabilly, sejak awalnya memang memiliki koneksi yang kuat dengan dunia dan
gaya hidup otomotif. Pada perkembangannya, musik asli Amerika yang muncul di
tahun 1950-an ini, kian populer dan mendunia. Membahas genre rockabilly yang
terdiri dari racikan blues, country, dan gospel ini bukan hanya melulu bicara
soal musik, tapi juga merambah ke budaya lainnya seperti; potongan rambut,
tarian, tattoo, grafiti, fesyen, dan otomotif.
Untuk urusan
otomotif, para pengusung genre ini akhirnya kental dengan nuansa mobil-mobil
Amerika lawas tahun 50-an yang juga dikenal dengan Hotrod. Di Amerika, setiap
tahunnya digelar event akbar 'Viva Las Vegas' yang khusus merayakan pernak
pernik kultur Rockabilly. Perkembangan
kultur ini juga sampai ke Indonesia, bahkan di Jogja yang menjadi 'magnet
Rockabilly', telah lama memiliki komunitas musik, dan beragam komunitas
otomotif. Mengadopsi acara Viva Las Vegas, komunitas Hotrodiningrat untuk kali
kedua menggelar Hotrod Weekend Party (HWP).
Wednesday, August 10, 2016
Jogja Magnet Rockabilly
TAK berlebihan kiranya jika Kota Jogja
dinobatkan sebagai magnet Rockabilly di Indonesia. Berbagai band Rockabilly
dari barat dan timur, setiap tahunnya datang dan tampil di acara-acara
bergengsi di Jogja. Sebagai sub budaya, Rockabilly semakin diminati anak muda
di Indonesia, terutama di Bali, Surabaya, Bandung, dan Jakarta.
Di Yogyakarta, kebangkitan kembali musik yang populer di era 50-an ini bermula pada acara Tattoo Show 2006, pihak penyelenggara acara tersebut menghadirkan The Hydrant, band pionir rockabilly asal Bali. Ternyata respon publik Yogyakarta sangat antusias dengan musik mereka, Sejak itu The Hydrant sering datang tampil di Yogyakarta.
Dengan seringnya The Hydrant tampil, ternyata memberi inspirasi untuk para penggemar Rockabilly di Yogyakarta untuk membentuk bandnya sendiri.
Di Yogyakarta, kebangkitan kembali musik yang populer di era 50-an ini bermula pada acara Tattoo Show 2006, pihak penyelenggara acara tersebut menghadirkan The Hydrant, band pionir rockabilly asal Bali. Ternyata respon publik Yogyakarta sangat antusias dengan musik mereka, Sejak itu The Hydrant sering datang tampil di Yogyakarta.
Dengan seringnya The Hydrant tampil, ternyata memberi inspirasi untuk para penggemar Rockabilly di Yogyakarta untuk membentuk bandnya sendiri.
Friday, April 15, 2016
Joni KKK: Pemuda Urakan Namun Klimis ((( PUNK )))
Hanya beberapa pekan saja tiba-tiba geliat saya membuat komik bergelora kembali. hal ini dipicu dari iseng-iseng beli cat sablon dan melukisnya di punggung jaket. Akhirnya menggambar sketsa dengan pensil pun tak terhindarkan. Dari sketsa tersebut tertuanglah cerita-cerita yang diangkat nggak jauh dari fenomena sosial, politik, kebudayaan dan kejadian-kejadian ringan di sekitar saya. Banyak hal yang membuat saya gelisah, terutama tentang isu keberagaman yang terancam oleh sekelompok orang yang memaksakan 'kebenaran'nya sendiri.
Kegelisahan-kegelisahan ini sepertinya tidak mungkin direpresentasikan menjadi sebuah lagu yang kemudian dibawakan band saya Kiki & The Klan, mengingat kualitas bermusik saya amat-amat minus. Namun lewat komik, meski tetap dengan prinsip absolut 90% Styles, 10% Skills semuanya bisa disederhanakan dengan teks dan gambar berkualitas rendahan.
Sunday, April 3, 2016
Sepeda Motor, Fesyen, dan Maskulinitas Rock & Roll
Fesyen menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari keseharian kita. Fesyen tidak hanya menyangkut soal busana dan aksesoris pendukungnya, seperti kalung, gelang, hingga body piercing dan tato. Jauh dari itu, benda-benda fungsional lain yang dipadukan dengan desain yang unik lagi canggih, menjadi representasi si pengguna. Bermacam jenis kendaraan seperti motor, mobil, sepeda, bahkan kuda, dan lainnya bukanlah sekadar alat transportasi belaka, lebih dari itu, kendaraan juga menjadi sebuah alat komunikasi untuk menyampaikan identitas seseorang. Singkatnya, fesyen adalah perlambang jiwa, dan tak bisa di pisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia.
Penggunaan kendaraan merupakan salah satu cara berekspresi. Dalam modernitas, fesyen adalah konstituen penting identitas seseorang, yang membantu menentukan bagaimana dia dikenali dan diterima. Mari menyoroti bagaimana kendaraan, dalam hal ini sepeda motor sebagai fesyen pada kultur Rock & Roll, melalui bagaimana cara para pengusungnya menggunakan kendaraan sebagai sebuah identitas. Para bintang rock, termasuk beberapa geng motor dengan pilihan kendaraan roda dua mereka setidaknya bisa menjadi representasinya.
Monday, January 11, 2016
Kiki & The Klan (KKK): Rockabilly 90% Styles, 10% Skills
KKK is a party-set band, Orkes Rockabilly berbahaya, yang siap mengajak Anda berdansa, sambil tersenyum bahagia. Musik mereka enak didengar, tampilan mereka sedap dipandang. Mendengarkan mereka adalah bercengkerama dengan musik 'ngak-ngik-ngok' yang dilarang Orde Lama, tapi dengan isian serta sikap yang hampir pasti diberangus Orde Baru. Itu semua menjadikan mereka sebagai anomali yang pantas untuk dinikmati. -M.Fikrie/Jurnalis-
******
Kiki Pea sehari-harinya bekerja sebagai jurnalis swasta di surat kabar lokal Yogyakarta. Karena keseringan nonton pertunjukkan musik, ia berpikir untuk mendirikan bandnya sendiri. Dari banyaknya jenis genre musik yang dilahapnya, kebetulan satu-satunya musik yang bisa ia mainkan adalah musik 'ngak ngik ngok' (tiga jurus alias three chord rock n' roll). Musik yang biasa dikenal dengan sebutan Rockabilly ini memang jadi kesukaannya sejak tiga turunan. Tembang-tembang milik Hank Williams, Elvis Presley, Ricky Nelson dan Johnny Cash sudah sangat akrab ditelinga Kiki sejak ia mulai bisa mengenal apa itu yang disebut nada.
2010 lalu, Kiki hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, kota yang memang ingin dijamahnya sejak lama. Setahun setelah bermukim di Yogyakarta, ia berkenalan dengan Rockin' Spades, yang dianggapnya sebagai lembaga nirlaba yang menaungi para penggemar musik dan subkultur Rockabilly ini. Pada awal 2012 lalu, Kiki memutuskan untuk membuat band sendiri. Nama Kiki & The Klan (KKK) kemudian keluar sebagai pilihan pertama dan terakhir.
Pemilihan nama Kiki & The Klan yang terkadang disingkat KKK ini jelas tidak ada hubungan sama sekali dengan organisasi fasis rasis terkutuk di Amerika itu (baca: Ku Klux Klan). adapun penggunaan pernak pernik dan bendera 'Rebel' juga tidak ada hubungan dengan sejarah perbudakan di Amerika. Bendera tersebut (yang dikenal dengan Confederate Flag) memang identik digunakan musisi Rockabilly/ Country di Amerika Serikat bagian Selatan. Seorang teman yang sering ke Amerika pun membawakan oleh-oleh tersebut kepada band ini.
Para musisi yang terlibat di proyek ini yang diutamakan dan dikedepankan adalah style ketimbang skill. Mereka memang sengaja dibajak dari band-band asuhan Rockin' Spades. Setelah beberapa kali bongkar pasang personel, Kini KKK ialah Kiki Pea (vokal), Okky Obbow (Gitar) , Mahadhana Dira (Bass), Bravandy (Piano), Jojo Desperados (Drum). Di beberapa kesempatan mereka juga kerap dibantu oleh beberapa musisi yakni; Rika Fadhila (Saxophone), Yoga (biola), Anas (Trompet), Rangga (gitar), beberapa nama yang pernah singgah di band ini di antaranya, Meynael, Alda Danger, Laurentius Kaboel (gitar), Chatra K, Wredha Laras (Drums), Valentius Nagata (Bass), Gita Negara (saxophone).
Gigs demi gigs KKK sambangi dengan tembang-tembang milik Elvis Presley, Johnny Cash, Carl Perkins, Buddy Holly dan sederet musisi yang menghebohkan jagad musik era 1950-an. nama-nama musisi seperti, Bob Dylan, Hank Williams, Tom Waits, Iggy Pop, Gene Vincent, Hank Williams III, Mike Ness, The Clash, Social Distortion, Deddy Stanzah, dan Stray Cats tentunya nggak lepas dari permainan audio, visual, dan performance yang dihasilkan.
Uniknya KKK telah main diberbagai gigs dan kesempatan, mulai dari acara pembukaan pameran seni rupa, otomotif, peluncuran buku, pesta sekolahan, ditanggap perusahaan, acara tattoo, stand up comedy, hingga diundang di kantor kementerian negara, dan pesta meriah lainnya. Ini merupakan uniknya musik Rockabilly, mampu merasuk berbagai kalangan. Kiki Pea berkata bahwa proyek ini sejatinya adalah kegiatan menghambur-hamburkan uang tabungannya. "Kami datang untuk menghidupi Rock N Roll, bukan hidup dari Rock N' Roll, jangan takut miskin lah karena Rock N Roll," ujarnya sedikit angkuh.
Dua single sudah ditelurkan band ini di dua album kompilasi berbeda. 'Tiger & Butterfly' dirilis bersama Soundbox Factory Compilation, dan videoklipnya dikerjakan oleh X-Code Films. Single kedua 'You're My Thunder' dirilis 2015 lalu bersama Kustomfest: Indonesian Rockabilly Compilation. Kini band ini sedang berusaha keras sekuat tenaga untuk memproduksi karya-karya olahan sendiri yang pastinya beradaptasi dengan kultur Indo Rock. Semoga band ini nggak berumur panjang, apalagi bisa terkenal dan jadi legenda, karena dalam sejarahnya, belum ada musisi rock yang matinya Moksa...
Twitter & Instagram: @KikiTheKlan
BACA JUGA:
Indonesia Greaser Party: Melawan Penjajahan Lewat Budaya Imperialis
Elvis Impersonator ada sampai Kiamat
Elvis Impersonator ada sampai Kiamat
Friday, October 9, 2015
((( Review ))) Kustomfest 2015 - Showin’ Soul Indonesian Rockabilly Compilation
KUSTOM Kulture memang amat identik dengan
musik Rock & Roll, terutama musik Rockabilly yang populer di Amerika
pertengahan tahun 1950an. Pada perhelatan Kustomfest 2015 ini, sederet band
Rockabilly dari seluruh Indonesia hadir lewat album kompilasi bertajuk Kustomfest
2015 - Showin’ Soul Indonesian Rockabilly Compilation Vol.01. Kompilasi ini
menyajikan 14 lagu, plus 1 lagu anthem Kustomfest Showin’ Soul yang dinyanyikan
Heru Shaggydog. Lagu tersebut menjadi bonus special di kompilasi ini. Sebanyak
tiga ribu keping CD dibagi-bagikan secara gratis pada perhelatan Kustomfest di
Jogja Expo Center, 3-4 Oktober lalu. Selanjutnya, oleh pihak Kustomfest, album
ini bakal dibawa ke perhelatan Kustom Kulture di seluruh dunia.
Menurut Athonk Sapto Raharjo dari Rockin'
Spades Rockabilly Club yang menjadi Co Producer di album ini, sebelumnya ada
sekitar 50an lagu, dan 30 band dari berbagai aliran genre yang diterima.
Setelah berdebat, diskusi dan adu argumen untuk menjagokan pilihan
masing-masing, akhirnya tim seleksi, bisa menentukan dan memilih lagu-lagu yang
pantas masuk. Menurut Athonk awalnya kuota hanya untuk 12 lagu, lalu ada ide
tambahan ekstra 2 lagu. “karena banyak lagu yang bagus dan sayang kalo di
eliminir,” tambahnya.
Wednesday, May 20, 2015
Mengintip Rekaman The Hydrant di Lokananta
BAND pionir Rockabilly Revival asal
Bali, The Hydrant sedang proses merilis album. Pekan lalu sepanjang 7-9 Mei
2015, mereka merekam materi lagu secara live di studio legendaris di kota Solo,
yakni Lokananta. Album ini merupakan album pertama setelah satu dekade
eksistensi mereka di blantika musik. The Hydrant kini adalah Marshello (vokal),
Vincent (gitar), Adi (bass) dan Christopper (drum) ini. Dengan spirit dan lagu-lagu baru yang memiliki
nuansa ala The Hydrant, album yang direkam secara ‘full live’ ini juga untuk mengenalkan
gitaris baru mereka, Vincent.
![]() |
| foto oleh Kiki Pea, lokasi Belakang Lokananta |
Melakukan proses rekaman di Lokananta
tentu saja bukan tanpa alasan, menurut Adi Hydrant konsep ini adalah sebagai
aksi ‘menolak lupa’. Mereka berusaha menolak lupa akan sejarah musik Indonesia,
terutama di era 1950-1960-an. Kualitas musik Indonesia pada jaman itu juga layak
disandingkan dengan band-band dari seluruh dunia. “Sebagian besar hasil karya
emas anak bangsa juga direkam di Studio Lokananta,” tambahnya.
Wednesday, April 15, 2015
Indonesia Greaser Party: Melawan Penjajahan Lewat Budaya Imperialis
*Cuma
sebuah catatan, siapa tahu bisa jadi rujukan sejarah
TREN dan gaya anak muda memang selalu
berubah-ubah, dan berulang. Lima tahun belakangan ini yang kembali lagi menjadi
hits yaitu para komunitas greaser. Budaya yang kini digandrungi kembali oleh
anak muda Indonesia ini sejatinya sudah eksis sejak tahun 1950-an silam,
terutama di Amerika dan Inggris. Fenomena mewabahnya kembali para Greaser ini
bisa dijumpai di berbagai kota besar Indonesia seperti, Jakarta, Bandung,
Yogyakarta, dan Bali. Eksistensi mereka pun cukup mengandalkan social media, simak
saja YouTube, website, facebook, instagram, twitter, dan lainnya.
Apa itu Greaser? Beliau ialah suatu
makhluk (baca: subkultur) yang berkembang di Amerika Serikat sekitar 1950-an.
Pada kisaran tahun tersebut banyak anak muda yang mencintai musik Rock & Roll,
dan kemudian mengembangkan kreasinya ke dalam seni otomotif, mural, fashion,
bahkan gaya rambut. Pada mulanya, Greaser adalah bentuk budaya tanding (counter-culture) yang menurut definisi
buku sih sebagai sebagian dari populasi suatu masyarakat yang secara kuat
menganut, atau memeluk satu atau lebih nilai-nilai budaya yang berbeda dengan
nilai-nilai yang ada dalam kebudayaan yang dominan.
Sunday, October 5, 2014
John Lennon Hanyalah Seorang Pemulung
PAKAR semiotika Roland Barthes berpendapat bahwa sebuah teks adalah suatu jaringan kombinasi makna yang otonom, yang selalu bisa ditafsirkan tanpa mengkaitkannya pada pengarangnya yang bukan lagi subyek atau produser. Yang terjadi kemudian justru kebalikannya, dimana gambaran tentang si penciptanya itu justru dibentuk oleh teks. Figur si pencipta/ pengarang/ seniman itu pada akhirnya menjadi tak terlalu penting.
Berkaitan dengan hal itu, konsep tentang "orisinalitas" pun berubah, dimana pada masa sebelumnya (modern,red) sangat berfokus pada pencarian orisinalitas. Kini, sistem referensi yang tanpa batas menjadikan penciptaan menjadi makin sulit untuk benar-benar "orisinil".
Proses penciptaan kini lebih cenderung berarti "perakitan baru" elemen-elemen atau barang-barang yang sudah siap-pakai. Dekonstruksi dalam arti dekontekstualisasi ialah melepaskan elemen-elemen tertentu dari konteksnya semula, kemudian merakitnya kembali dalam konteks baru yang tak terduga. Sekarang, mari kita baca sosok John Lennon sebagai 'teks'.
Berkaitan dengan hal itu, konsep tentang "orisinalitas" pun berubah, dimana pada masa sebelumnya (modern,red) sangat berfokus pada pencarian orisinalitas. Kini, sistem referensi yang tanpa batas menjadikan penciptaan menjadi makin sulit untuk benar-benar "orisinil".
Proses penciptaan kini lebih cenderung berarti "perakitan baru" elemen-elemen atau barang-barang yang sudah siap-pakai. Dekonstruksi dalam arti dekontekstualisasi ialah melepaskan elemen-elemen tertentu dari konteksnya semula, kemudian merakitnya kembali dalam konteks baru yang tak terduga. Sekarang, mari kita baca sosok John Lennon sebagai 'teks'.
Friday, October 3, 2014
LEATHER JACKET; "bejat, berbahaya, unpredictable, kejiwaan yang kompleks, namun rentan"
“BURY ME IN MY LEATHER JACKET, JEANS AND MOTORCYCLE BOOTS” – begitulah wasiat Sid Vicious pada surat bunuh diri yang ditemukan di saku jaketnya, beberapa hari setelah ia dimakamkan.
SEBAGAI penanda, jaket kulit telah melampaui batas definisi sosial. Gaya busana ini seolah telah menjadi seragam untuk para bintang rock. Jaket kulit bisa dibaca sebagai simbol 'pemberontakan', terutama jika dilihat dari sosok John Wayne, Marlon Brando, James Dean, Gene Vincent, The Ramones, Elvis Presley, dan The Sex Pistols.
Sejak awal, industri film sudah sadar akan fashion (wardrobe), dan memainkan peran besar dalam pertumbuhan tren. Pada tahun 1953 Hollywood merilis film "The Wild One" yang dibintangi Marlon Brando. Brando yang saat itu berusia 28 tahun berperan sebagai Johnny sang tokoh utama, pimpinan geng motor pemberontak dengan jaket kulit yang selalu dikenakannya.
Wednesday, June 4, 2014
10 Film Rockabilly Wajib Ditonton
Rockabilly adalah salah satu gaya paling awal dan paling berpengaruh dalam musik rock n' roll, genre ini muncul dan populer pada tahun 1950-an. Kini gaya dan semangatnya kembali digandrungi anak muda di berbagai kota. Jika ditengok dari sisi lainnya, Rockabilly merupakan sebuah sub-kultur yang kini simbol-simbolnya kembali bermunculan dimana-mana.
Rockabilly bukan sekedar musik tapi juga gaya rambut, fashion, tattoo, otomotif, mobil tua, graffiti, dan sebagainya.Karakter Rockabilly juga telah banyak difilmkan di berbagai era.
film rockabilly tidak jauh dari kenakalan remaja, cewek cantik,
musik rock’ n roll, dan mobil tua.
Monday, January 13, 2014
Elvis Impersonator Ada Sampai Kiamat !
PESONA Elvis Presley memang tak pernah pudar meski ia sudah tiada. Hingga kini para penggemarnya tidak bisa begitu saja menerima kematian Sang Raja Rock & Roll. Di berbagai generasi, para peniru Sang Raja selalu saja hadir bermunculan. Persetan orisinalitas, semua dijiplak habis mulai dandanan, pakaian, perhiasan, tata rambut, kacamata, jambang, dan sebagainya. Hal ini terjadi tidak hanya di Amerika dan Eropa, fenomena ini pun mendunia, karena hampir semua negara punya para peniru Elvis–nya masing-masing.
Wednesday, July 3, 2013
Prison Of Blues & Kereta Susana: Psychobilly Yang Bikin Mencekam
BAGAIMANA jadinya jika band-band Psychobilly terbaik dari
kota Yogyakarta, Bali, dan Bandung tampil dalam satu panggung. Hasilnya, Jumat malam, (28/6) lalu suasana
mencekam terjadi di Taman Budaya Yogyakarta. Nah, apa kah itu Psychobilly?
Makhluk ini merupakan genre musik yang mengawinkan unsur Punk Rock dan
Rockabilly, tema-tema lagu yang dimainkan memang mencekam, mulai horor, teror,
hingga pembunuhan, meski juga banyak yang mengangkat tema realitas dan kritik
sosial ke dalam lagu-lagunya.
| Suicidal Sinatra |
“Ghouls Night Out” adalah nama gigs malam tersebut, dan “Psycho
Punk Show” dijadikan sub judulnya, karena pada dasarnya Psychobilly dengan Punk
Rock memang masih satu akar dalam bermusik. Total tujuh band Psychobilly dan
Punk Rock dari Yogyakarta dan sekitarnya. Bahkan band Psychobilly dari pulau
dewata, Suicidal Sinatra yang sudah memiliki penggemar fanatiknya ikut ambil
bagian. Selain itu, Bloody Hollow ( Yogyakarta ), Prison Of Blues (Temanggung),
dan Kereta Susana (Bandung) adalah nama-nama yang membuat mata dan telinga
penontong yang datang langsung tercengang.
Wednesday, June 26, 2013
Wahai Lelaki: Ada Tiga Hal Yang Harus Diminyaki !!
Satu di antara pelengkap untuk memaksimalkan gaya rambut adalah pomade. Produk ini sebenarnya sudah sangat klasik, dan populer di era 1950-an, karenanya terkesan hanya dari golongan orang tua saja yang mengenakannya. Kini, popularitas pomade mulai bangkit kembali di berbagai komunitas dan subkultur anak muda, sebut saja penggemar motor dan mobil klasik, penyuka olahraga ekstrim, penggemar musik rockabilly, dan sebagainya.
![]() |
| Gene & Eddie |
Subscribe to:
Posts (Atom)

































