Showing posts with label New Wave. Show all posts
Showing posts with label New Wave. Show all posts

Friday, October 20, 2017

ROKET YK: Lugas, Keras, dan Melesat Cepat



Sekira 2013 lalu, Agib dan Fendee mengajak Kiki Pea untuk membentuk band dengan nuansa Punk Rock 70an. Kala itu beberapa kali Kiki diajak sebagai penyanyi tamu untuk band mereka NYK Guns. Namun rencana tersebut ternyata hanya di atas awang-awang, karena kemudian Agib memilih bekerja sebagai wartawan penuh waktu di ibu kota dan nyaris meninggalkan semua aktivitas bermusiknya.

Bertahun-tahun berlalu, Agib kembali ke Jogja, lantas menghubungi Kiki dan Fendee, serta menggaet Tutoet sebagai penggebuk drum. Wacana band ini akhirnya menjadi nyata setelah keempat lelaki paruh baya ini melakukan sesi latihan untuk perdana di Gegana MUSIC Studio.

Tuesday, February 2, 2016

Rocker Berambut Merah

BENARKAH potongan dan warna rambut mencerminkan kepribadian seseorang? Banyak pakar yang mencatat, untuk mengetahui karakter atau sifat seseorang bisa dilihat dari warna dan model rambutnya. Ada juga pakar warna yang bilang kalau pilihan warna saat mengecat rambut cenderung berhubungan dengan sifat dasar seseorang. Aneka rupa warna rambut, mulai dari yang hitam, coklat, pirang, hitam kecoklatan, biru, hijau, oranye, pink, dan merah api mempunyai sifat bawaan pemiliknya. Warna rambut yang bakal kita bahas ini, bukan warna yang berasal dari sananya, baik berdasarkan ras, ataupun geografis, dan sebagainya, tapi rambut-rambut yang sengaja di cat. Pastinya gak semua orang mau mewarnai rambutnya tanpa ada motivasi tertentu. 


Dikutip dari berbagai sumber, juga hasil ngarang sendiri bahwasannya; Rambut berwarna hitam menggambarkan karakter orang yang pantang menyerah, pekerja keras, dan menolak atau 'takut' dengan ketuaan. Warna hitam pada rambut melambangkan elegan. Sedangkan karakteristik pemilik warna rambut coklat biasanya adalah orang yang kalem dan santai, sifatnya yang rendah hati membuat orang ini mempunyai banyak teman. Rambut pirang melambangkan kepribadian yang dinamis, energik, dan cukup sensual. 

Nah, orang yang berambut merah bisa jadi ialah seseorang yang sangat menyenangkan, tetapi sangat mengerikan saat marah. Bila naik pitam, pemilik rambut merah tega bertindak kasar. Benarkah begitu kata sumber-sumber kita? mari kita simak karakter para Superstar musik rock idola saya yang mengecat rambutnya dengan warna merah.

1. Kurt Cobain

Ia adalah juru bicara Generasi X, dan 'Smells Like Teen Spirit' ialah pelopornya. Kurt adalah punggawa musik grunge yang membantai habis era hard rock juga heavy metal saat itu. Sepanjang hidupnya yang cukup singkat, Kurt pernah punya berbagai jenis gaya rambut, terkadang panjang hingga telinga, dan pernah juga dipotong pendek. Pentolan Nirvana ini juga kerap mengecat rambutnya dengan berbagai warna. Sebagai seorang 'punk', rambut Kurt Cobain pernah dicelup warna hijau, ungu, dan warna 'gak biasa' lainnya, namun yang sering terlihat ialah rambutnya yang berwarna merah. Di beberapa kesempatan ia terlihat mengenakan beberapa wig sebagai "gimmick". 


Ketika Kurt berusia muda, ia memiliki rambut pirang dan panjang hingga telinga. menurut beberapa keterangan, ia selalu menyisir rambutnya di pagi hari, dan menjaganya agar tetap lurus. Poninya pun dipotong lurus hingga tepat di atas alis. Kemudian ketika Kurt berada usia pertengahan remaja, ia menumbuhkan rambutnya hingga ke bahu. Era ini ialah saat ia diusir keluar dari rumahnya, dan sekitar waktu ini, ia mulai mengejar karir musiknya, pengaruh obat-obatan dan hal memabukkan lainnya juga hadir di era ini. 

Saat membentuk Nirvana dan merilis album Bleach, rambut Kurt masih terlihat dengan gaya yang sama. Pada Agustus 1992, ia memotong pendek rambutnya hingga berbulan-bulan kemudian, dan akhir tahun itu dia mulai menumbuhkan rambutnya kembali. Pada tahun terbesar dalam karir Nirvana, tepatnya ketika album Nevermind mencapai 'hits'nya seantero dunia, rambut Kurt mulai ada perubahan. Meski masih terlihat panjang, tapi lebih pendek dari era 'Bleach'. Di era yang sama Kurt mengecat rambutnya berwarna merah untuk pembuatan video klip 'In Bloom'. Rambut merah itu juga terlihat di beberapa sesi pemotretan. Kurt terus memiliki tampilan ini hingga merilis album 'Incesticide'. Namun beberapa kali ia mengubah warna rambutnya dari merah menjadi biru. Sejak peluncuran 'In Utero', hingga konser paling terkenal 'MTV Unplugged In New York', rambut Kurt cukup lama tampak sebahu hingga pada saat kematiannya.


Kesuksesan Nirvana ternyata membuat Kurt Cobain kehilangan kontrol atas dirinya. Ia merasa gagal hingga frustasi akan pesan dan visi artistiknya yang disalahtafsirkan oleh publik. Selama tahun-tahun terakhir kehidupannya, Cobain berjuang untuk lepas dari kecanduan heroin, penyakit dan depresi. Kurt Cobain meninggal pada 8 April 1994 di usia 27 tahun. Sertifikat kematiannya menyatakan bahwa penyebab kematian Kurt adalah tembakan di kepala, meski timbul polemik dari berbagai pihak, Kurt Cobain dinyatakan tewas bunuh diri. 

Krist Novoselic, bassist Nirvana sempat bertemu Cobain beberapa hari sebelum kematiannya. Ia bercerita, "Dia (Cobain) sangat pendiam, dia begitu terasing dari semua hubungan dengan orang lain. Dia tidak merasa terhubung dengan siapa pun...Aku menawarkannya membeli makan malam, tanpa sengaja ia melihat pengedar langganannya. Itu membuatnya kembali memakai heroin...dia ingin melupakan segalanya. Dia ingin mati, itulah yang ingin ia lakukan."


2. David Bowie

Bowie ialah 'Bapak para Glam Rocker', pengaruhnya di budaya pop bukan hanya musik dan tetek bengeknya, tapi juga buah pikir nan futuristik, hingga fesyen dan tata rambut. itulah sebabnya saya amat mengagumi Bowie. Ia adalah sosok flamboyan yang tidak sukar untuk ditiru. Bowie suka bereksperimentasi, ia selalu mencoba banyak hal tanpa takut gagal, percayalah, ia telah menggoncangkan dunia mode. Gaya Bowie sering berubah-ubah dari era ke era, dan itulah letak kekekalannya. Sebagai 'The cultural kleptomaniac' ia telah bertahun-tahun memantulkan gaya musik yang satu ke gaya yang lainnya. Ekspresi yang paling jelas dari kondisi pikiran David Bowie adalah melalui gaya rambutnya. David Bowie adalah 'bunglon kebudayaan', ia adalah 'pencuri', 'pembajak gaya rambut'. "


Bowie steals without prejudice. He steals musical styles, he steals countries, he steals clothes, and he steals thoughts. He steals when you are sleeping, he steals when you’re awake. Mick Jagger’s said that you should "never wear a new pair of shoes in front of him," because of course he’d run right out and buy them and they’d look better on him to boot.

Selama karirnya dia memiliki banyak stok gaya rambut yang tersedia untuk para pria dan wanita. Bowie mengubah gaya rambutnya di hampir setiap album. Sebelum ia menangkap imajinasi publik melalui Ziggy Stardust pada 1972, Bowie menghabiskan era 60-an dengan mengulik lagu-lagu ajaib yang bakal memicu karirnya. Dia telah menjadi trendsetter sejauh ia bersedia dan mampu memilih pengaruh yang tepat. 


Awal Januari 2016 lalu dunia dikejutkan dengan kematiannya. Bowie mangkat pada 8 Januari setelah baru saja merayakan ulang tahunnya, yang juga hari peluncuran album terbarunya 'BLACKSTAR'. David Bowie meninggal pada usia 69 tahun setelah berjuang melawan kanker. Hidup Bowie adalah kesenian, bahkan saat kematiannya. Hari kematian itu tampaknya sudah diprediksi olehnya lewat lagu baru nan misterius berjudul 'Lazarus' yang dirilis empat hari sebelum ia meninggal dunia. Lagu ini bernuansa menakutkan dan penuh dengan misteri. Bahkan video klip lagu tersebut menampilkan 
Bowie yang tengah berhadapan dengan kematian, lengkap dengan liriknya yang 'sadis'. Dalam tradisi alkitab, nama Lazarus dikenal sebagai seorang dari Betania, ia yang telah dibangkitkan Yesus setelah empat hari kematiannya.


3. Layne Staley

Sebagai anak generasi 90an, satu di antara idola saya adalah Alice In Chains. Hingga saat ini tidak ada bosan2nya mendengarkan lagu-lagu band asal Seattle ini, terutama album MTV Unplugged saat menjelang tidur. Bagi saya Alice In Chains ialah Layne Staley, vokalis orisinil yang meninggal secara tragis pada 5 April 2002 di usia 34. Ia memiliki suara seperti 'sosok yang lain'. Menurut beberapa catatan, Staley tahu jika kematiannya sudah dekat. Dalam sebuah wawancara, Staley mengatakan kepada wartawan Adriano Rubio bahwa ia tahu waktunya hidup di bumi sudah hampir habis. I know I'm near death. I did crack and heroin for years. I didn't want it to end this way, "Aku tahu aku tidak memiliki kesempatan. Sudah terlambat."


Layne Staley ialah 'The Self-Destructive Genius', ia bernyanyi tentang penyalahgunaan obat, depresi, dan hal-hal yang merugikan diri sendiri. Lagu-lagu yang ditulisnya bersama Alice In Chains bukanlah karya fiksi, melainkan realitas hidup mereka sendiri. Layne tidak pernah 'nyanyi bahagia', gaya bernyanyinya amat suram, liriknya seperti gulungan film yang menyeramkan, dia benar-benar menggambarkan setan ada dalam hidupnya sendiri. Pada sebuah wawancara yang menjadi quotes-nya yang terkenal Layne berujar "Whatever dramas are going on in my life, I always find that place inside my head where I see myself as the cleanest, tallest, strongest, wisest person that I can be".


4. Scott Weiland


Ia adalah satu di antara biduan rock kharismatik dari era 90-an. Selain rambut merahnya, Scott dikenal dengan gaya vokalnya yang menggeram. Ia mahir mengubah gaya vokal, dan kadang bernyanyi melalui megafon. Scott ialah vokalis dan penulis lirik untuk Stone Temple Pilots yang paling berhasil. lagu-lagu seperti Big Empty, Vasoline, dan Interstate Love Song, membawa album 'Purple' memuncaki tangga lagu Amerika di tahun 1994. Namun saat itu juga pertikaian dan keributan sesama anggota band dimulai. Mereka berpisah beberapa kali, sampai akhirnya Scott membentuk supergrup Velvet Revolver bersama bekas anggota Guns N' Roses, Slash, Duff McKagan, dan Matt Sorum di tahun 2002. Akhirnya kecanduan berat pada narkotika-lah yang kembali menjadi masalah keretakan band. Seperti yang terjadi di Stone Temple Pilots, ia juga didepak dari Velvet Revolver dengan kasus yang sama. 


Kematian biduan rock kharismatik asal California ini akhirnya menambah daftar panjang penyalahgunaan kokain dan heroin dalam musik rock. Scott Weiland ditemukan tidak bernyawa dalam tidurnya di Bloomington pada Kamis, 3 Desember 2015 lalu. Scott awalnya dijadwalkan akan tampil bersama grup terakhirnya, The Wildabouts. Setelah kematian Kurt Cobain, Scott dianggap sebagai korban selanjutnya, namun perlahan tapi pasti, hal itu terjadi juga. Apa pun komentar dunia pada Scott Weiland, namun lagu-lagu dan karakternya tetap abadi untuk 'selera' saya.


5. Johnny Rotten

Dari daftar nama di atas Johnny Rotten ialah nama legenda musik yang masih bernafas di alam dunia hingga tulisan ini di unggah. Ia adalah legenda hidup, Bersama Sex Pistols, ia menjadi sosok yang bertanggung jawab pada mulainya gerakan punk di Inggris. Meskipun karir mereka hanya sebentar, gak lebih dari tiga tahun, dan hanya menghasilkan satu album studio, 'Never Mind the Bollocks'. Johnny bersama Sex Pistols telah menjadi inspirasi banyak musisi punk rock, hingga musisi rock alternatif, contohnya adalah Kurt Cobain. 


Johnny Rotten ialah penyanyi rock'n'roll paling menakutkan yang pernah dikenal. Ia ada di zaman di mana kasta musisi berpendidikan formal mengancam untuk mendominasi apa yang tersisa dari musik rock di Inggris. Pemilik nama asli John Lydon ini adalah ikon budaya yang paling dikenal dan berpengaruh dari empat puluh tahun terakhir. ia menginspirasi pembentukan berbagai kelompok terobosan lainnya, John Lydon selalu menjadi sosok menawan juga dinamis.

"SEX PISTOLS ISN'T MUSIC,IT'S ATTITUDE !"


Eiits, masih ada dua nama lain juga masih hidup hingga saat ini, tapi saya sudah malas menguliknya, nanti aja kalo mereka udah mati. :)). Kedua nama itu adalah; John Taylor dari Duran Duran, grup musik electronic pop rock yang kemudian dikenal dengan istilah 'New Romantic'. Mereka melanjutkan 'invasi kedua Britania Raya' yang sebelumnya ditorehkan The Beatles dan The Rolling Stones. Satu lagi ialah Lee "Scratch" Perry, seorang produser musik kelahiran 20 Maret 1936. Musisi asal Kendal, Jamaika ini kini berumur 79 tahun. Perry adalah salah satu pelopor dalam perkembangan musik dub. 



Balik lagi ke atas, sesuai tema awal tulisan ini, bisa saja kita tarik kesimpulan bahwa secara psikologis, warna merah pada rambut memberikan kesan kuat, berani, dan bergairah. Rambut berwarna merah gelap memang terlihat berani, namun ia skeptis dan mudah marah. Mereka memiliki energi fisik yang besar dan kekuatan hampir brutal, lalu rambut merah terang bisa membuat seseorang terlihat pandai, cerdas, sensitif, dan punya semangat besar pada hal yang ditekuninya. Namun di sisi lain, ia termasuk orang yang sensitif, dan mudah terluka perasaannya. Ia akan merasa terbebani saat semua hal berada di luar kendalinya. 

Kepribadian pemilik rambut ini adalah frontal, ia mudah merasa tersinggung dan sangat pemberani, baik dalam berbicara maupun tindakannya yang......

persetan positif dan negatif, karena isi kandungan tulisan ini ialah 'nihil'. :p



Baca juga :



DICOMOT DARI BERBAGAI SUMBER ONLINE MAUPUN OFFLINE......

Wednesday, November 25, 2015

Yang 'Segar' dan Yang 'Kering' di Ngayogjazz 2015

FESTIVAL musik Ngayogjazz kembali digelar pada Sabtu, (21/11) lalu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini Ngayogjazz 2015 bertempat di Desa Budaya Pandowoharjo, Sleman. Dengan mengangkat tema ‘Bhinneka Tunggal Jazz-nya’, Ngayogjazz 2015 mengajak semua orang untuk merayakan keberagaman dalam satu spirit. Sebanyak enam panggung diisi oleh para musisi yang tampil dengan karakternya masing-masing.


Sederet bintang tamu yang tampil di Ngayogjazz tahun ini di antaranya: Trie Utami & Kua Etnika, ESQI:EF (Syaharani and the Queenfireworks), Indro Harjodikoro and Friends, Yuri Jo, Nita Aartsen, Megan O’Donoghue with GEMATI, INA Ladies, dan masih banyak lagi. Selain musik jazz, juga tampil kesenian tradisional dari desa setempat. Menariknya di Ngayogjazz ini selalu ada pasar tiban, yang diberi nama Pasar Jazz. Pasar tiban ini kebanyakan  diikuti oleh penduduk setempat sebagai usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat.


Ada beberapa penampil yang menyita perhatian saya di acara yang cukup berbeda dengan festival jazz lainnya ini, satu di antaranya ialah Musikanan. Kelompok yang beranggotakan Paksi Raras Alit (vocal), Agnes Tika (vokal), Andra Fahreza (gitar), Eko Widyamanto (keyboard) dan juga additional player Babas (Bas), dan Niko Yas (drum) ini baru saja merilis single berjudul 'Hikayat Pangeran Katak dan Kembang Teratai'. Seluruh komposisi, baik musik, teks, lirik, cerita, dan permainan mereka amat apik, dan 'mahal'. Single ini memang merupakan sebuah komposisi yang bernuansa drama musikal, dan saat ini jarang ada band yang membuat komposisi bernuansa tersebut.



Bagi sebagaian penikmat musik Yogyakarta, nama Paksi Raras Alit memang sudah dikenal baik dalam grup maupun solo vokal. Musikanan ini ialah proyek idealis yang dibangun oleh Paksi sejak akhir tahun 2014 lalu. Setelah terus mengasah warna musiknya, Musikanan kemudian mencampurkan berbagai aliran musik dalam menentukan identitas genrenya. Kini mereka sudah mulai menggarap lanjutan cerita dari single pertama, dan mencoba untuk menggarap album dengan konsep ‘lagu-lagu yang bercerita’.

Selain Musikanan, ada nama baru yang menyita sebagian besar penonton yang datang sejak sore hari, yakni penyanyi solo bernama Jalu. Sejalan dengan tema “Bhinneka Tunggal Jazz-nya”, Jalu menyumbangkan keragaman dengan mereinterpretasikan lagu-lagu milik band pop-punk Endank Soekamti dalam musik jazz.

Tampil di Panggung Janaka, pria bernama lengkap Jalu Tegar Prastawa ini menyapa penonton lewat lagu ‘Cita-cita’. Jalu berhasil menarik para penonton yang awalnya menonton dari kejauhan, kemudian mendekat ke depan panggung. Ia juga membawakan lagu berlirik ’nakal’ Endank Soekamti, di antaranya ‘Asu Tenan’. Lagu yang bercerita tentang ketertarikan seorang pria pada wanita yang punya peliharaan seekor anjing ini disuguhkan jauh berbeda dari versi aslinya, yang cepat dan berdistorsi. Setelah menyanyikan tembang ‘Semoga Kau Di Neraka’, dan ‘Carikan Cinta’ Jalu berpamitan. Namun setelah penonton ‘setengah memaksanya’ untuk bernyanyi lagi, penampilannya pun ditutup dengan lagu ‘Bau Mulut’ dan ‘Satyo dan Rio’.

Menurut saya, akan lebih baik lagi jika penampilan Jalu diberi sentuhan Contra Bass, Snare Drum, dan sedikit Brass. Meski dengan format band, tapi keberadaan instrumen tersebut tentu tidak mengurangi kesederhanaan dan keunikan lagu yang dinyanyikan Jalu. Bahkan saya sempat berpikir, alangkah tambah elegan jika Jalu berdandan ala Tom Waits, namun masukan tersebut saya urungkan, karena nanti malah mirip Tompi.. :p 



Vokalis bernama lengkap Jalu Tegar Prastawa ini secara tidak sengaja “ditemukan” Erix Soekamti di YouTube. Suatu ketika Erix melihat video Jalu yang meng-cover lagu ‘Carikan Cinta’. Ketertarikan tersebut segera ditindaklanjuti dengan tawaran memproduseri album pertama Jalu. Saat ini Jalu sedang dalam proses rekaman, dan rencana albumnya akan dirilis tahun depan, bersamaan dengan album ke-7 Endank Soekamti. Album ini menjadi menarik karena mereinterpretasi lagu-lagu Endank Soekamti yang bergenre pop-punk menjadi akustik pop jazz yang dikemas sederhana dan unik.

“Kita coba menjembatani, mencairkan, dan lebih memasyarakatkan jazz yang seolah segmented, eksklusif, dan mahal, menjadi lebih menarik, layak, tapi tidak murahan,” kata Erix.


Lelaki kelahiran Klaten, 15 April 1992 ini bukan sekadar artis YouTube belaka, Jalu telah mengawali karirnya sebagai vokalis Sekawan & Friends Band sewaktu kuliah pada 2010. Tidak hanya itu, lulusan UKSW Salatiga ini pernah meraih beberapa penghargaan seperti Juara 2 Campus Jazz Festival se-Jateng DIY (2011), Juara 2 Jazz Goes to Campus Festival (2012), dan Best Vocalist Jazz Goes To Campus Festival (2012).

******
Berbeda dengan tahun lalu, dimana Ngayogjazz 2014 mengangkat tema ’Tung Tak Tung Jazz’. Kali ini Ngayogjazz 2015 mengusung tema ‘Bhinneka Tunggal Jazz-nya’, yang merupakan plesetan dari Bhinneka Tunggal Ika. Tagline ‘nyeleneh’ ini merupakan kalimat yang diambil dari Kakawin Sutasoma karya dari Mpu Tantular yang arti harafiahnya “beraneka itu satu’. Tema ini sengaja diangkat penyelenggara mengingat selama setahun ini keadaan Indonesia seringkali ‘panas’ karena perbedaan. Maka lewat musik, Ngayogjazz mengajak masyarakat  untuk mengingat kembali bahwa keanekaragaman bukanlah alasan untuk memecah belah satu sama lain.


Nikmatnya hadir di ‪‎Ngayogjazz ialah bisa menonton musik Jazz dengan mengenakan ‘sendal jepit’, dan jajan makanan-minuman khas ‘kampung’. Belum lagi uniknya panggung yang di tata di dekat kuburan, atau kandang sapi. “Keren kan, nonton jazz yang biasanya dekat dengan ‘orang-orang wangi’, dan hidangan mahal, kini telah dipatahkan oleh festival ini.”

Bagi saya menonton Ngayogjazz memang lebih enak di panggung-panggung kecil, karena biasanya akan banyak kejutan segar dari musisi muda, seperti Musikanan dan Jalu ini. Lha, Kalau urusan Tri Utami, Kua Etnika, Syahrani, dsb yaa udah selesai lah......



Sepertinya akan lebih berwarna jika pihak Ngayogjazz mengundang legenda pop-jazz lokal. Banyak musisi senior yang harusnya bisa tampil di perhelatan ini, misalnya Fariz RM, Oddie Agam, Mus Mujiono, Dedi Dukun, Dian PP, Vina Panduwinata, Ermy Kulit, dan sejenisnya. Apalagi Fariz RM yang baru aja bebas dari ‘rehabilitasi’, tentunya penampilan Fariz akan sangat dinanti khalayak tua dan muda, karena lagu-lagu ciptaannya yang tak lekang zaman. 
Ah, sepertinya saya ‘terpaksa’ menonton pertunjukan Fariz RM di sebuah hotel dengan tiket agak mahal pada akhir pekan ini.

Apalagi jika memang misi Ngayogjazz ialah untuk memasyarakatkan jazz, semestinya musisi-musisi yang biasa tampil di hotel-hotel mahal, dan hanya bisa dinikmati para borjuis itu, ya harus ditempatkan 'main’ di kandang kerbau, sapi, dan panggungnya persis di sebelah kuburan umum desa setempat. Nah, kalau hanya jadi semacam 'ritual tahunan', maka apa bedanya festival jazz kontemporer ini dengan tradisi gunungan atau apeman yang digelar Kraton ? :p

menyaksikan Kua Etnika dari atas kandang sapi, difoto oleh Liz Listyowening
Sayangnya lagi, ‪’‎jazz hujan’ warna pink yang sengaja saya beli diperjalanan ke venue nggak jadi dipakai, persoalannya perhelatan Ngayogjazz tahun ini 'Kering', tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang diguyur hujan. 
Ya, semoga ke depannya Ngayogjazz bukan cuma jadi 'ritual' tahunan yang wajib adanya. 'Break On Through, To The Other Side' kalo kata The Doors, atau istilah Fariz RM nya 'Selangkah Ke Seberang'.(*)

(nb) ini kali pertama saya datang ke Ngayogjazz bersama
seorang perempuan, yang Alhamdulillahnya istri sendiri :p

Foto Jalu oleh Deka Pramana
Foto Musikanan oleh Anggityas Sekarkinasih Putri
Foto lainnya saya colong dari instagram @pfijogja, silakan follow akunnya :p


Thursday, November 13, 2014

10 Film Yang Dibintangi Rocker

Bagaimana jika Rockstar Main Film? mereka (para rocker) ini bermain dalam sebuah film, dan bukan sekedar numpang lewat atau menjadi cameo, tapi berperan aktif sebagai bintang utama dan berakting penuh.


Film yang melibatkan penyanyi terkenal, biasanya bukan hanya bertujuan mendongkrak popularitasnya sebagai penyanyi, namun juga sebagai bintang film. Hal ini juga diikuti oleh penjualan soundtrack film yang biasanya juga dibuat untuk tujuan komersial.................

Friday, October 3, 2014

LEATHER JACKET; "bejat, berbahaya, unpredictable, kejiwaan yang kompleks, namun rentan"

“BURY ME IN MY LEATHER JACKET, JEANS AND MOTORCYCLE BOOTS” – begitulah wasiat Sid Vicious pada surat bunuh diri yang ditemukan di saku jaketnya, beberapa hari setelah ia dimakamkan.


SEBAGAI penanda, jaket kulit telah melampaui batas definisi sosial. Gaya busana ini seolah telah menjadi seragam untuk para bintang rock. Jaket kulit bisa dibaca sebagai simbol 'pemberontakan', terutama jika dilihat dari sosok John Wayne, Marlon Brando, James Dean, Gene Vincent, The Ramones, Elvis Presley, dan The Sex Pistols. 

Sejak awal, industri film sudah sadar akan fashion (wardrobe), dan memainkan peran besar dalam pertumbuhan tren. Pada tahun 1953 Hollywood merilis film "The Wild One" yang dibintangi Marlon Brando. Brando yang saat itu berusia 28 tahun berperan sebagai Johnny sang tokoh utama, pimpinan geng motor pemberontak dengan jaket kulit yang selalu dikenakannya.

Friday, July 5, 2013

STRAY CATS: Kelakuan si Tiga Kucing Garong


NGOMONG-ngomong soal Rockabilly, jangan pernah kita lewatkan ‘Trio Kucing Garong’ asal New York ini. Nama Stray Cats memang sangat menjulang tinggi di awal tahun 80an.  Bukan cuma musiknya yang segar, tapi fesyen dan aksi panggung mereka benar-benar memikat anak muda yang juga punya mental menjadi ‘Kucing Garong’ nan seksi bin gagah. Mereka sering mengenakan jaket ala Rockers yang ditambal banyak emblem, terkadang juga kaos oblong dengan pernak pernik penuh warna yang menantang. Rambut mereka selalu tertata dengan baik, khas Rock n Roll 50an, meski juga dirasuki gaya New Wave yang sedang trendy saat itu.

Friday, April 8, 2011

Aku (sempat) Ingin Menjadi Mick Jagger


pernah dimuat di www.akumassa.org, 9 Mei 2010
* * *

Gambar lidah ‘melet’ berwarna merah sudah tidak asing lagi di mata kita. Gambar itu ada dimana-mana dari jaman ke jaman, di kamar tidur, di stiker angkot, di kaos-kaos, di tembok-tembok gang sempit hingga di pertokoan elit.

Mick Jagger

Pemilik logo tersebut kini berusia lebih dari 60 tahun, bahkan ia lebih tua daripada usia Republik ini. Ia kaya raya dan sering gonti-ganti istri, pacar dan jenis narkotika. Sir Michael Philip ‘Mick’ Jagger adalah musisi rock asal Inggris kelahiran 26 Juli 1943. Ia dikenal sebagai vokalis The Rolling Stones (Batu yang Menggelinding -dalam Bahasa Indonesia) yang mulai terkenal sejak tahun 1960-an dan masih eksis hingga sekarang. Sesuai namanya, ‘Batu yang Menggelinding’, mereka bertahan melewati beberapa dekade entah sampai kapan. The Rolling Stones sendiri dibentuk di London pada Januari 1963. Mereka tidak hanya menjual musik yang hingar-bingar dan penuh sensasi tapi juga menjual life style (gaya hidup) yang membuat resah kalangan tua saat itu bahkan mungkin hingga sekarang.

Featured