Showing posts with label subculture. Show all posts
Showing posts with label subculture. Show all posts

Wednesday, January 30, 2019

Warisan Ramones Buat Kita-Kita Yang Tampangnya Pas-Pasan, Minim Skill, Banyak Gaya, Kere Tapi Pengen Nge-Band!

Apa yang Ramones pernah lakukan untuk kita? Sesungguhnya mereka bukan hanya sekadar sebuah band...
Ramones were a Goddamn Revolution!


Tanpa Ramones, kira-kira ada berapa juta anak muda di seluruh dunia yang batal jadi anak band? Ya, mungkin termasuk kita-kita ini lah!
  
Hey, ini masih tentang Joey, Johnny, Dee Dee, dan Tommy, dan semua yang telah mereka berikan sebelum naik ke 'Cretin Heaven'.

Monday, February 19, 2018

Love Me Twice In Kuta Rock City (Undercovered)

Sebelumnya banyak pihak yang ‘shock’ ketika JRX mengumumkan bahwa Twice Bar tutup. Padahal sejak awal eksistensinya Twice Bar bagaikan rumah bagi skena rock bawah tanah Bali. Tempat ini telah melahirkan dan membesarkan band-band bawah tanah Bali. Karena tanggung jawab sejarah tersebut, JRX memutuskan untuk membangkitkan Twice Bar dari tidurnya. Lokasinya kini tetap di Kuta Rock City, hanya bergeser beberapa gang dari lokasi semula. Ciri khas Twice Bar yang sudah ‘mendarah daging’ tetap ia jaga sebagai ‘an underground rock n roll bar. Nothing fancy, just a simple, small international rock n roll venue with a local-friendly vibe. Di sinilah tempat dimana pengunjung lokal dan asing mendapat perlakuan yang sama=setara.



Monday, January 8, 2018

Rocker, Fesyen, & Harley Davidson


Sepeda Motor juga identik dengan para musisi Hard Rock, dan Heavy Metal. Salah satu vokalis Deep Purple, Ian Gillan juga menggemari sepeda motor, bisa dibayangkan betapa 'cool'nya vokalis bersuara melengking ini mengendarai motornya sambil mendendangkan 'Speed King'. Nama-nama lain, (alm) Lemmy Kilmister (Motorhead), Axl Rose (GNR), James Hetfield (Metallica), Tommy Lee (Motley Crue), Jon Bon Jovi, dan Steven Tyler (Aerosmith) juga identik dengan sepeda motor mereka. Bahkan sang vokalis 'Aerosmith' yang juga penggemar motor kustom tersebut, pernah mendesain motor 'Dirico Motorcycle' yang sebelumnya bernama Red Wing Motorcycles. Steven Tyler juga berpartisipasi dalam berbagai lelang amal yang berkaitan dengan sepeda motor, termasuk program amal 'Ride for Children'.

Lemmy Kilmister

Wednesday, September 13, 2017

Esek-Esek Film Horor Indonesia

oleh: Kiki Pea

Dibandingkan dengan bentuk seni lainnya, film merupakan bentuk yang paling baru. Sedangkan dibandingkan media elektronik lainnya, film merupakan medium yang paling tua. Dalam menyampaikan pesan, film adalah medium yang paling komunikatif. Film adalah media komunikasi massa yang sangat penting untuk menyampaikan suatu realita yang terjadi dalam kehidupan sehari–hari. Film sebagai komunikasi massa merupakan gabungan dari teknologi dan beragam disiplin seni lainnya seperti fotografi, rekaman suara, seni rupa, teater, sastra, arsitektur, serta seni musik. Kehadiran film di tengah kehidupan manusia dewasa ini semakin penting dan setara dengan media lain.



Sayangnya tolak ukur keberhasilan produk film selama ini masih berorientasi pasar. Perfilman idealnya tidak sekadar digarap demi kepentingan ekonomi, tetapi juga mengarahkan film sebagai produk kebudayaan, pendidikan, dan pengetahuan visual. Jadi, kepentingannya tidak semata didasari untung-rugi pasar, tetapi lebih mengutamakan kemajuan pada sebuah kebudayaan.

Tuesday, March 21, 2017

Komik Komuk: Petani & Raja



Jasa petani amat besar bagi makhluk di dunia ini. Petanilah yang menyediakan bahan pokok berupa pangan bagi masyarakat. Namun sayangnya penghargaan pemerintah untuk petani masih sangat kurang. Banyak lahan mereka yang digusur karena kepentingan industri, tak jarang hasil pertanian mereka pun dimonopoli oleh para pengusaha rakus yang sayangnya kerap dibeking aparat.

Thursday, January 5, 2017

NDX A.K.A FAMILIA: Hip Hop Campursari dari Pinggiran Yogyakarta

Pada gelaran acara Gugur Gunung, sebuah event amal yang dilakukan para musisi Jogja untuk korban bencana alam di Pidie, Aceh, saya berkesempatan ngobrol-ngobrol bareng NDX A.K.A Familia. Malam itu kebetulan mereka didaulat sebagai bintang tamu acara. Siapakah NDX? mereka adalah kelompok musik paling fenomenal saat ini. Gak tanggung-tanggung, di sepanjang 2016 nama kelompok musik yang berasal dari pinggiran Kota Jogja ini semakin melejit. Di balik NDX A.K.A adalah Yonanda Frisna Damara dan Fajar (PJR MC).

Musik mereka unik; Campursari, Hop Hop, Dangdut dikawinkan dan diblender jadi satu. Lagu-lagu NDX A.K.A seperti 'TTM (Tewas Tertimbun Masa lalu)', 'Sayang', 'Salah Kekancan', Kimcil Kepolen', 'Bojoku Di Gondol Bojone', 'dan lainnya terus terdengar dari pelosok hingga di hotel-hotel mewah perkotaan, tidak hanya itu, jadwal panggung mereka semakin padat.

Kini NDX a.k.a telah memiliki banyak fans sebagai Fans (Familia) dan tak ketinggalan juga para haters-nya.
Bagaimana tanggapan mereka, dan apa kata mereka tentang Endank Soekamti, Jogja Hip Hop Foundation, dan Young Lex? (*)

Simak videonya 


Monday, November 28, 2016

Rock & Roll Maksimal di Hotrod Weekend Party



MUSIK Rockabilly, sejak awalnya memang memiliki koneksi yang kuat dengan dunia dan gaya hidup otomotif. Pada perkembangannya, musik asli Amerika yang muncul di tahun 1950-an ini, kian populer dan mendunia. Membahas genre rockabilly yang terdiri dari racikan blues, country, dan gospel ini bukan hanya melulu bicara soal musik, tapi juga merambah ke budaya lainnya seperti; potongan rambut, tarian, tattoo, grafiti, fesyen, dan otomotif. 


Untuk urusan otomotif, para pengusung genre ini akhirnya kental dengan nuansa mobil-mobil Amerika lawas tahun 50-an yang juga dikenal dengan Hotrod. Di Amerika, setiap tahunnya digelar event akbar 'Viva Las Vegas' yang khusus merayakan pernak pernik kultur Rockabilly. Perkembangan kultur ini juga sampai ke Indonesia, bahkan di Jogja yang menjadi 'magnet Rockabilly', telah lama memiliki komunitas musik, dan beragam komunitas otomotif. Mengadopsi acara Viva Las Vegas, komunitas Hotrodiningrat untuk kali kedua menggelar Hotrod Weekend Party (HWP). 

Wednesday, August 10, 2016

Jogja Magnet Rockabilly

TAK berlebihan kiranya jika Kota Jogja dinobatkan sebagai magnet Rockabilly di Indonesia. Berbagai band Rockabilly dari barat dan timur, setiap tahunnya datang dan tampil di acara-acara bergengsi di Jogja. Sebagai sub budaya, Rockabilly semakin diminati anak muda di Indonesia, terutama di Bali, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. 

Di Yogyakarta, kebangkitan kembali musik yang populer di era 50-an ini bermula pada acara Tattoo Show 2006, pihak penyelenggara acara tersebut menghadirkan The Hydrant, band pionir rockabilly asal Bali. Ternyata respon publik Yogyakarta sangat antusias dengan musik mereka, Sejak itu The Hydrant sering datang tampil di Yogyakarta. 

Dengan seringnya The Hydrant tampil, ternyata memberi inspirasi untuk para penggemar Rockabilly di Yogyakarta untuk membentuk bandnya sendiri.

Monday, July 25, 2016

Perubahan Sosial Dimulai Dari Pos Kamling

‘PRAJURIT KALAH TANPA RAJA’

PADA sebuah cakruk atau Pos Kamling di Kampung Minggiran, Yogyakarta terdapat mural bergambar beberapa prajurit Kraton, wajah mereka tampak sedih, seolah kehilangan harapan. Di dada mereka tertancap anak panah, seolah para prajurit tersebut sedang kalah berperang. Di sisi lainnya tampak gambar prajurit Mantrijero yang sedang lunglai nyaris terkapar yang dipapah oleh seorang kawannya. Terdapat juga puisi berbunyi “Siapa lagi yang berjaga, Setelah kami tak ada” karya sastrawan Gunawan Maryanto.


Mural tersebut merupakan bagian dari serangkaian karya berjudul ‘Prajurit Kalah Tanpa Raja’ karya seniman muda bernama Prihatmoko Moki. Menurut Moki prajurit adalah representasi dari masyarakat Yogyakarta dan Raja ialah perwakilan para elit penguasa. Karya tersebut adalah metafor dari situasi di kota Jogja saat ini. Itulah keadaan Jogja saat ini dimata sang seniman. Rencananya gambar serupa juga akan dibuat di wilayah kampung lainnya sesuai dengan nama prajurit Kraton seperti, Kampung Daeng, Prawirotaman, Patang Puluhan, Bugisan, Wirobrajan, Nyutran, dan lainnya.

Sunday, April 3, 2016

Sepeda Motor, Fesyen, dan Maskulinitas Rock & Roll

Fesyen menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari keseharian kita. Fesyen tidak hanya menyangkut soal busana dan aksesoris pendukungnya, seperti kalung, gelang, hingga body piercing dan tato. Jauh dari itu, benda-benda fungsional lain yang dipadukan dengan desain yang unik lagi canggih, menjadi representasi si pengguna. Bermacam jenis kendaraan seperti motor, mobil, sepeda, bahkan kuda, dan lainnya bukanlah sekadar alat transportasi belaka, lebih dari itu, kendaraan juga menjadi sebuah alat komunikasi untuk menyampaikan identitas seseorang. Singkatnya, fesyen adalah perlambang jiwa, dan tak bisa di pisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia. 


Penggunaan kendaraan merupakan salah satu cara berekspresi. Dalam modernitas, fesyen adalah konstituen penting identitas seseorang, yang membantu menentukan bagaimana dia dikenali dan diterima. Mari menyoroti bagaimana kendaraan, dalam hal ini sepeda motor sebagai fesyen pada kultur Rock & Roll, melalui bagaimana cara para pengusungnya menggunakan kendaraan sebagai sebuah identitas. Para bintang rock, termasuk beberapa geng motor dengan pilihan kendaraan roda dua mereka setidaknya bisa menjadi representasinya.

Tuesday, February 2, 2016

Rocker Berambut Merah

BENARKAH potongan dan warna rambut mencerminkan kepribadian seseorang? Banyak pakar yang mencatat, untuk mengetahui karakter atau sifat seseorang bisa dilihat dari warna dan model rambutnya. Ada juga pakar warna yang bilang kalau pilihan warna saat mengecat rambut cenderung berhubungan dengan sifat dasar seseorang. Aneka rupa warna rambut, mulai dari yang hitam, coklat, pirang, hitam kecoklatan, biru, hijau, oranye, pink, dan merah api mempunyai sifat bawaan pemiliknya. Warna rambut yang bakal kita bahas ini, bukan warna yang berasal dari sananya, baik berdasarkan ras, ataupun geografis, dan sebagainya, tapi rambut-rambut yang sengaja di cat. Pastinya gak semua orang mau mewarnai rambutnya tanpa ada motivasi tertentu. 


Dikutip dari berbagai sumber, juga hasil ngarang sendiri bahwasannya; Rambut berwarna hitam menggambarkan karakter orang yang pantang menyerah, pekerja keras, dan menolak atau 'takut' dengan ketuaan. Warna hitam pada rambut melambangkan elegan. Sedangkan karakteristik pemilik warna rambut coklat biasanya adalah orang yang kalem dan santai, sifatnya yang rendah hati membuat orang ini mempunyai banyak teman. Rambut pirang melambangkan kepribadian yang dinamis, energik, dan cukup sensual. 

Nah, orang yang berambut merah bisa jadi ialah seseorang yang sangat menyenangkan, tetapi sangat mengerikan saat marah. Bila naik pitam, pemilik rambut merah tega bertindak kasar. Benarkah begitu kata sumber-sumber kita? mari kita simak karakter para Superstar musik rock idola saya yang mengecat rambutnya dengan warna merah.

1. Kurt Cobain

Ia adalah juru bicara Generasi X, dan 'Smells Like Teen Spirit' ialah pelopornya. Kurt adalah punggawa musik grunge yang membantai habis era hard rock juga heavy metal saat itu. Sepanjang hidupnya yang cukup singkat, Kurt pernah punya berbagai jenis gaya rambut, terkadang panjang hingga telinga, dan pernah juga dipotong pendek. Pentolan Nirvana ini juga kerap mengecat rambutnya dengan berbagai warna. Sebagai seorang 'punk', rambut Kurt Cobain pernah dicelup warna hijau, ungu, dan warna 'gak biasa' lainnya, namun yang sering terlihat ialah rambutnya yang berwarna merah. Di beberapa kesempatan ia terlihat mengenakan beberapa wig sebagai "gimmick". 


Ketika Kurt berusia muda, ia memiliki rambut pirang dan panjang hingga telinga. menurut beberapa keterangan, ia selalu menyisir rambutnya di pagi hari, dan menjaganya agar tetap lurus. Poninya pun dipotong lurus hingga tepat di atas alis. Kemudian ketika Kurt berada usia pertengahan remaja, ia menumbuhkan rambutnya hingga ke bahu. Era ini ialah saat ia diusir keluar dari rumahnya, dan sekitar waktu ini, ia mulai mengejar karir musiknya, pengaruh obat-obatan dan hal memabukkan lainnya juga hadir di era ini. 

Saat membentuk Nirvana dan merilis album Bleach, rambut Kurt masih terlihat dengan gaya yang sama. Pada Agustus 1992, ia memotong pendek rambutnya hingga berbulan-bulan kemudian, dan akhir tahun itu dia mulai menumbuhkan rambutnya kembali. Pada tahun terbesar dalam karir Nirvana, tepatnya ketika album Nevermind mencapai 'hits'nya seantero dunia, rambut Kurt mulai ada perubahan. Meski masih terlihat panjang, tapi lebih pendek dari era 'Bleach'. Di era yang sama Kurt mengecat rambutnya berwarna merah untuk pembuatan video klip 'In Bloom'. Rambut merah itu juga terlihat di beberapa sesi pemotretan. Kurt terus memiliki tampilan ini hingga merilis album 'Incesticide'. Namun beberapa kali ia mengubah warna rambutnya dari merah menjadi biru. Sejak peluncuran 'In Utero', hingga konser paling terkenal 'MTV Unplugged In New York', rambut Kurt cukup lama tampak sebahu hingga pada saat kematiannya.


Kesuksesan Nirvana ternyata membuat Kurt Cobain kehilangan kontrol atas dirinya. Ia merasa gagal hingga frustasi akan pesan dan visi artistiknya yang disalahtafsirkan oleh publik. Selama tahun-tahun terakhir kehidupannya, Cobain berjuang untuk lepas dari kecanduan heroin, penyakit dan depresi. Kurt Cobain meninggal pada 8 April 1994 di usia 27 tahun. Sertifikat kematiannya menyatakan bahwa penyebab kematian Kurt adalah tembakan di kepala, meski timbul polemik dari berbagai pihak, Kurt Cobain dinyatakan tewas bunuh diri. 

Krist Novoselic, bassist Nirvana sempat bertemu Cobain beberapa hari sebelum kematiannya. Ia bercerita, "Dia (Cobain) sangat pendiam, dia begitu terasing dari semua hubungan dengan orang lain. Dia tidak merasa terhubung dengan siapa pun...Aku menawarkannya membeli makan malam, tanpa sengaja ia melihat pengedar langganannya. Itu membuatnya kembali memakai heroin...dia ingin melupakan segalanya. Dia ingin mati, itulah yang ingin ia lakukan."


2. David Bowie

Bowie ialah 'Bapak para Glam Rocker', pengaruhnya di budaya pop bukan hanya musik dan tetek bengeknya, tapi juga buah pikir nan futuristik, hingga fesyen dan tata rambut. itulah sebabnya saya amat mengagumi Bowie. Ia adalah sosok flamboyan yang tidak sukar untuk ditiru. Bowie suka bereksperimentasi, ia selalu mencoba banyak hal tanpa takut gagal, percayalah, ia telah menggoncangkan dunia mode. Gaya Bowie sering berubah-ubah dari era ke era, dan itulah letak kekekalannya. Sebagai 'The cultural kleptomaniac' ia telah bertahun-tahun memantulkan gaya musik yang satu ke gaya yang lainnya. Ekspresi yang paling jelas dari kondisi pikiran David Bowie adalah melalui gaya rambutnya. David Bowie adalah 'bunglon kebudayaan', ia adalah 'pencuri', 'pembajak gaya rambut'. "


Bowie steals without prejudice. He steals musical styles, he steals countries, he steals clothes, and he steals thoughts. He steals when you are sleeping, he steals when you’re awake. Mick Jagger’s said that you should "never wear a new pair of shoes in front of him," because of course he’d run right out and buy them and they’d look better on him to boot.

Selama karirnya dia memiliki banyak stok gaya rambut yang tersedia untuk para pria dan wanita. Bowie mengubah gaya rambutnya di hampir setiap album. Sebelum ia menangkap imajinasi publik melalui Ziggy Stardust pada 1972, Bowie menghabiskan era 60-an dengan mengulik lagu-lagu ajaib yang bakal memicu karirnya. Dia telah menjadi trendsetter sejauh ia bersedia dan mampu memilih pengaruh yang tepat. 


Awal Januari 2016 lalu dunia dikejutkan dengan kematiannya. Bowie mangkat pada 8 Januari setelah baru saja merayakan ulang tahunnya, yang juga hari peluncuran album terbarunya 'BLACKSTAR'. David Bowie meninggal pada usia 69 tahun setelah berjuang melawan kanker. Hidup Bowie adalah kesenian, bahkan saat kematiannya. Hari kematian itu tampaknya sudah diprediksi olehnya lewat lagu baru nan misterius berjudul 'Lazarus' yang dirilis empat hari sebelum ia meninggal dunia. Lagu ini bernuansa menakutkan dan penuh dengan misteri. Bahkan video klip lagu tersebut menampilkan 
Bowie yang tengah berhadapan dengan kematian, lengkap dengan liriknya yang 'sadis'. Dalam tradisi alkitab, nama Lazarus dikenal sebagai seorang dari Betania, ia yang telah dibangkitkan Yesus setelah empat hari kematiannya.


3. Layne Staley

Sebagai anak generasi 90an, satu di antara idola saya adalah Alice In Chains. Hingga saat ini tidak ada bosan2nya mendengarkan lagu-lagu band asal Seattle ini, terutama album MTV Unplugged saat menjelang tidur. Bagi saya Alice In Chains ialah Layne Staley, vokalis orisinil yang meninggal secara tragis pada 5 April 2002 di usia 34. Ia memiliki suara seperti 'sosok yang lain'. Menurut beberapa catatan, Staley tahu jika kematiannya sudah dekat. Dalam sebuah wawancara, Staley mengatakan kepada wartawan Adriano Rubio bahwa ia tahu waktunya hidup di bumi sudah hampir habis. I know I'm near death. I did crack and heroin for years. I didn't want it to end this way, "Aku tahu aku tidak memiliki kesempatan. Sudah terlambat."


Layne Staley ialah 'The Self-Destructive Genius', ia bernyanyi tentang penyalahgunaan obat, depresi, dan hal-hal yang merugikan diri sendiri. Lagu-lagu yang ditulisnya bersama Alice In Chains bukanlah karya fiksi, melainkan realitas hidup mereka sendiri. Layne tidak pernah 'nyanyi bahagia', gaya bernyanyinya amat suram, liriknya seperti gulungan film yang menyeramkan, dia benar-benar menggambarkan setan ada dalam hidupnya sendiri. Pada sebuah wawancara yang menjadi quotes-nya yang terkenal Layne berujar "Whatever dramas are going on in my life, I always find that place inside my head where I see myself as the cleanest, tallest, strongest, wisest person that I can be".


4. Scott Weiland


Ia adalah satu di antara biduan rock kharismatik dari era 90-an. Selain rambut merahnya, Scott dikenal dengan gaya vokalnya yang menggeram. Ia mahir mengubah gaya vokal, dan kadang bernyanyi melalui megafon. Scott ialah vokalis dan penulis lirik untuk Stone Temple Pilots yang paling berhasil. lagu-lagu seperti Big Empty, Vasoline, dan Interstate Love Song, membawa album 'Purple' memuncaki tangga lagu Amerika di tahun 1994. Namun saat itu juga pertikaian dan keributan sesama anggota band dimulai. Mereka berpisah beberapa kali, sampai akhirnya Scott membentuk supergrup Velvet Revolver bersama bekas anggota Guns N' Roses, Slash, Duff McKagan, dan Matt Sorum di tahun 2002. Akhirnya kecanduan berat pada narkotika-lah yang kembali menjadi masalah keretakan band. Seperti yang terjadi di Stone Temple Pilots, ia juga didepak dari Velvet Revolver dengan kasus yang sama. 


Kematian biduan rock kharismatik asal California ini akhirnya menambah daftar panjang penyalahgunaan kokain dan heroin dalam musik rock. Scott Weiland ditemukan tidak bernyawa dalam tidurnya di Bloomington pada Kamis, 3 Desember 2015 lalu. Scott awalnya dijadwalkan akan tampil bersama grup terakhirnya, The Wildabouts. Setelah kematian Kurt Cobain, Scott dianggap sebagai korban selanjutnya, namun perlahan tapi pasti, hal itu terjadi juga. Apa pun komentar dunia pada Scott Weiland, namun lagu-lagu dan karakternya tetap abadi untuk 'selera' saya.


5. Johnny Rotten

Dari daftar nama di atas Johnny Rotten ialah nama legenda musik yang masih bernafas di alam dunia hingga tulisan ini di unggah. Ia adalah legenda hidup, Bersama Sex Pistols, ia menjadi sosok yang bertanggung jawab pada mulainya gerakan punk di Inggris. Meskipun karir mereka hanya sebentar, gak lebih dari tiga tahun, dan hanya menghasilkan satu album studio, 'Never Mind the Bollocks'. Johnny bersama Sex Pistols telah menjadi inspirasi banyak musisi punk rock, hingga musisi rock alternatif, contohnya adalah Kurt Cobain. 


Johnny Rotten ialah penyanyi rock'n'roll paling menakutkan yang pernah dikenal. Ia ada di zaman di mana kasta musisi berpendidikan formal mengancam untuk mendominasi apa yang tersisa dari musik rock di Inggris. Pemilik nama asli John Lydon ini adalah ikon budaya yang paling dikenal dan berpengaruh dari empat puluh tahun terakhir. ia menginspirasi pembentukan berbagai kelompok terobosan lainnya, John Lydon selalu menjadi sosok menawan juga dinamis.

"SEX PISTOLS ISN'T MUSIC,IT'S ATTITUDE !"


Eiits, masih ada dua nama lain juga masih hidup hingga saat ini, tapi saya sudah malas menguliknya, nanti aja kalo mereka udah mati. :)). Kedua nama itu adalah; John Taylor dari Duran Duran, grup musik electronic pop rock yang kemudian dikenal dengan istilah 'New Romantic'. Mereka melanjutkan 'invasi kedua Britania Raya' yang sebelumnya ditorehkan The Beatles dan The Rolling Stones. Satu lagi ialah Lee "Scratch" Perry, seorang produser musik kelahiran 20 Maret 1936. Musisi asal Kendal, Jamaika ini kini berumur 79 tahun. Perry adalah salah satu pelopor dalam perkembangan musik dub. 



Balik lagi ke atas, sesuai tema awal tulisan ini, bisa saja kita tarik kesimpulan bahwa secara psikologis, warna merah pada rambut memberikan kesan kuat, berani, dan bergairah. Rambut berwarna merah gelap memang terlihat berani, namun ia skeptis dan mudah marah. Mereka memiliki energi fisik yang besar dan kekuatan hampir brutal, lalu rambut merah terang bisa membuat seseorang terlihat pandai, cerdas, sensitif, dan punya semangat besar pada hal yang ditekuninya. Namun di sisi lain, ia termasuk orang yang sensitif, dan mudah terluka perasaannya. Ia akan merasa terbebani saat semua hal berada di luar kendalinya. 

Kepribadian pemilik rambut ini adalah frontal, ia mudah merasa tersinggung dan sangat pemberani, baik dalam berbicara maupun tindakannya yang......

persetan positif dan negatif, karena isi kandungan tulisan ini ialah 'nihil'. :p



Baca juga :



DICOMOT DARI BERBAGAI SUMBER ONLINE MAUPUN OFFLINE......

Monday, January 11, 2016

Kiki & The Klan (KKK): Rockabilly 90% Styles, 10% Skills


KKK is a party-set band, Orkes Rockabilly berbahaya, yang siap mengajak Anda berdansa, sambil tersenyum bahagia. Musik mereka enak didengar, tampilan mereka sedap dipandang. Mendengarkan mereka adalah bercengkerama dengan musik 'ngak-ngik-ngok' yang dilarang Orde Lama, tapi dengan isian serta sikap yang hampir pasti diberangus Orde Baru. Itu semua menjadikan mereka sebagai anomali yang pantas untuk dinikmati. -M.Fikrie/Jurnalis-


******

Kiki Pea sehari-harinya bekerja sebagai jurnalis swasta di surat kabar lokal Yogyakarta. Karena keseringan nonton pertunjukkan musik, ia berpikir untuk mendirikan bandnya sendiri. Dari banyaknya jenis genre musik yang dilahapnya, kebetulan satu-satunya musik yang bisa ia mainkan adalah musik 'ngak ngik ngok' (tiga jurus alias three chord rock n' roll). Musik yang biasa dikenal dengan sebutan Rockabilly ini memang jadi kesukaannya sejak tiga turunan. Tembang-tembang milik Hank Williams, Elvis Presley, Ricky Nelson dan Johnny Cash sudah sangat akrab ditelinga Kiki sejak ia mulai bisa mengenal apa itu yang disebut nada. 



2010 lalu, Kiki hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, kota yang memang ingin dijamahnya sejak lama. Setahun setelah bermukim di Yogyakarta, ia berkenalan dengan Rockin' Spades, yang dianggapnya sebagai lembaga nirlaba yang menaungi para penggemar musik dan subkultur Rockabilly ini. Pada awal 2012 lalu, Kiki memutuskan untuk membuat band sendiri. Nama Kiki & The Klan (KKK) kemudian keluar sebagai pilihan pertama dan terakhir. 

Pemilihan nama Kiki & The Klan yang terkadang disingkat KKK ini jelas tidak ada hubungan sama sekali dengan organisasi fasis rasis terkutuk di Amerika itu (baca: Ku Klux Klan). adapun penggunaan pernak pernik dan bendera 'Rebel' juga tidak ada hubungan dengan sejarah perbudakan di Amerika. Bendera tersebut (yang dikenal dengan Confederate Flag) memang identik digunakan musisi Rockabilly/ Country di Amerika Serikat bagian Selatan. Seorang teman yang sering ke Amerika pun membawakan oleh-oleh tersebut kepada band ini.






Para musisi yang terlibat di proyek ini yang diutamakan dan dikedepankan adalah style ketimbang skill. Mereka memang sengaja dibajak dari band-band asuhan Rockin' Spades. Setelah beberapa kali bongkar pasang personel, Kini KKK ialah Kiki Pea (vokal),  Okky Obbow (Gitar) , Mahadhana Dira (Bass), Bravandy (Piano), Jojo Desperados (Drum). Di beberapa kesempatan mereka juga kerap dibantu oleh beberapa musisi yakni; Rika Fadhila (Saxophone), Yoga (biola), Anas (Trompet), Rangga (gitar), beberapa nama yang pernah singgah di band ini di antaranya, Meynael, Alda Danger, Laurentius Kaboel (gitar), Chatra K, Wredha Laras (Drums), Valentius Nagata (Bass), Gita Negara (saxophone).

Gigs demi gigs KKK sambangi dengan tembang-tembang milik Elvis Presley, Johnny Cash, Carl Perkins, Buddy Holly dan sederet musisi yang menghebohkan jagad musik era 1950-an. nama-nama musisi seperti, Bob Dylan, Hank Williams, Tom Waits, Iggy Pop, Gene Vincent, Hank Williams III, Mike Ness, The Clash, Social Distortion, Deddy Stanzah, dan Stray Cats tentunya nggak lepas dari permainan audio, visual, dan performance yang dihasilkan. 




Uniknya KKK telah main diberbagai gigs dan kesempatan, mulai dari acara pembukaan pameran seni rupa, otomotif, peluncuran buku, pesta sekolahan, ditanggap perusahaan, acara tattoo, stand up comedy, hingga diundang di kantor kementerian negara, dan pesta meriah lainnya. Ini merupakan uniknya musik Rockabilly, mampu merasuk berbagai kalangan. Kiki Pea berkata bahwa proyek ini sejatinya adalah kegiatan menghambur-hamburkan uang tabungannya. "Kami datang untuk menghidupi Rock N Roll, bukan hidup dari Rock N' Roll, jangan takut miskin lah karena Rock N Roll," ujarnya sedikit angkuh.



Dua single sudah ditelurkan band ini di dua album kompilasi berbeda. 'Tiger & Butterfly' dirilis bersama Soundbox Factory Compilation, dan videoklipnya dikerjakan oleh X-Code Films. Single kedua 'You're My Thunder' dirilis 2015 lalu bersama Kustomfest: Indonesian Rockabilly Compilation. Kini band ini sedang berusaha keras sekuat tenaga untuk memproduksi karya-karya olahan sendiri yang pastinya beradaptasi dengan kultur Indo Rock. Semoga band ini nggak berumur panjang, apalagi bisa terkenal dan jadi legenda, karena dalam sejarahnya, belum ada musisi rock yang matinya Moksa... 


Twitter & Instagram: @KikiTheKlan 

BACA JUGA:


Wednesday, November 25, 2015

Yang 'Segar' dan Yang 'Kering' di Ngayogjazz 2015

FESTIVAL musik Ngayogjazz kembali digelar pada Sabtu, (21/11) lalu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini Ngayogjazz 2015 bertempat di Desa Budaya Pandowoharjo, Sleman. Dengan mengangkat tema ‘Bhinneka Tunggal Jazz-nya’, Ngayogjazz 2015 mengajak semua orang untuk merayakan keberagaman dalam satu spirit. Sebanyak enam panggung diisi oleh para musisi yang tampil dengan karakternya masing-masing.


Sederet bintang tamu yang tampil di Ngayogjazz tahun ini di antaranya: Trie Utami & Kua Etnika, ESQI:EF (Syaharani and the Queenfireworks), Indro Harjodikoro and Friends, Yuri Jo, Nita Aartsen, Megan O’Donoghue with GEMATI, INA Ladies, dan masih banyak lagi. Selain musik jazz, juga tampil kesenian tradisional dari desa setempat. Menariknya di Ngayogjazz ini selalu ada pasar tiban, yang diberi nama Pasar Jazz. Pasar tiban ini kebanyakan  diikuti oleh penduduk setempat sebagai usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat.


Ada beberapa penampil yang menyita perhatian saya di acara yang cukup berbeda dengan festival jazz lainnya ini, satu di antaranya ialah Musikanan. Kelompok yang beranggotakan Paksi Raras Alit (vocal), Agnes Tika (vokal), Andra Fahreza (gitar), Eko Widyamanto (keyboard) dan juga additional player Babas (Bas), dan Niko Yas (drum) ini baru saja merilis single berjudul 'Hikayat Pangeran Katak dan Kembang Teratai'. Seluruh komposisi, baik musik, teks, lirik, cerita, dan permainan mereka amat apik, dan 'mahal'. Single ini memang merupakan sebuah komposisi yang bernuansa drama musikal, dan saat ini jarang ada band yang membuat komposisi bernuansa tersebut.



Bagi sebagaian penikmat musik Yogyakarta, nama Paksi Raras Alit memang sudah dikenal baik dalam grup maupun solo vokal. Musikanan ini ialah proyek idealis yang dibangun oleh Paksi sejak akhir tahun 2014 lalu. Setelah terus mengasah warna musiknya, Musikanan kemudian mencampurkan berbagai aliran musik dalam menentukan identitas genrenya. Kini mereka sudah mulai menggarap lanjutan cerita dari single pertama, dan mencoba untuk menggarap album dengan konsep ‘lagu-lagu yang bercerita’.

Selain Musikanan, ada nama baru yang menyita sebagian besar penonton yang datang sejak sore hari, yakni penyanyi solo bernama Jalu. Sejalan dengan tema “Bhinneka Tunggal Jazz-nya”, Jalu menyumbangkan keragaman dengan mereinterpretasikan lagu-lagu milik band pop-punk Endank Soekamti dalam musik jazz.

Tampil di Panggung Janaka, pria bernama lengkap Jalu Tegar Prastawa ini menyapa penonton lewat lagu ‘Cita-cita’. Jalu berhasil menarik para penonton yang awalnya menonton dari kejauhan, kemudian mendekat ke depan panggung. Ia juga membawakan lagu berlirik ’nakal’ Endank Soekamti, di antaranya ‘Asu Tenan’. Lagu yang bercerita tentang ketertarikan seorang pria pada wanita yang punya peliharaan seekor anjing ini disuguhkan jauh berbeda dari versi aslinya, yang cepat dan berdistorsi. Setelah menyanyikan tembang ‘Semoga Kau Di Neraka’, dan ‘Carikan Cinta’ Jalu berpamitan. Namun setelah penonton ‘setengah memaksanya’ untuk bernyanyi lagi, penampilannya pun ditutup dengan lagu ‘Bau Mulut’ dan ‘Satyo dan Rio’.

Menurut saya, akan lebih baik lagi jika penampilan Jalu diberi sentuhan Contra Bass, Snare Drum, dan sedikit Brass. Meski dengan format band, tapi keberadaan instrumen tersebut tentu tidak mengurangi kesederhanaan dan keunikan lagu yang dinyanyikan Jalu. Bahkan saya sempat berpikir, alangkah tambah elegan jika Jalu berdandan ala Tom Waits, namun masukan tersebut saya urungkan, karena nanti malah mirip Tompi.. :p 



Vokalis bernama lengkap Jalu Tegar Prastawa ini secara tidak sengaja “ditemukan” Erix Soekamti di YouTube. Suatu ketika Erix melihat video Jalu yang meng-cover lagu ‘Carikan Cinta’. Ketertarikan tersebut segera ditindaklanjuti dengan tawaran memproduseri album pertama Jalu. Saat ini Jalu sedang dalam proses rekaman, dan rencana albumnya akan dirilis tahun depan, bersamaan dengan album ke-7 Endank Soekamti. Album ini menjadi menarik karena mereinterpretasi lagu-lagu Endank Soekamti yang bergenre pop-punk menjadi akustik pop jazz yang dikemas sederhana dan unik.

“Kita coba menjembatani, mencairkan, dan lebih memasyarakatkan jazz yang seolah segmented, eksklusif, dan mahal, menjadi lebih menarik, layak, tapi tidak murahan,” kata Erix.


Lelaki kelahiran Klaten, 15 April 1992 ini bukan sekadar artis YouTube belaka, Jalu telah mengawali karirnya sebagai vokalis Sekawan & Friends Band sewaktu kuliah pada 2010. Tidak hanya itu, lulusan UKSW Salatiga ini pernah meraih beberapa penghargaan seperti Juara 2 Campus Jazz Festival se-Jateng DIY (2011), Juara 2 Jazz Goes to Campus Festival (2012), dan Best Vocalist Jazz Goes To Campus Festival (2012).

******
Berbeda dengan tahun lalu, dimana Ngayogjazz 2014 mengangkat tema ’Tung Tak Tung Jazz’. Kali ini Ngayogjazz 2015 mengusung tema ‘Bhinneka Tunggal Jazz-nya’, yang merupakan plesetan dari Bhinneka Tunggal Ika. Tagline ‘nyeleneh’ ini merupakan kalimat yang diambil dari Kakawin Sutasoma karya dari Mpu Tantular yang arti harafiahnya “beraneka itu satu’. Tema ini sengaja diangkat penyelenggara mengingat selama setahun ini keadaan Indonesia seringkali ‘panas’ karena perbedaan. Maka lewat musik, Ngayogjazz mengajak masyarakat  untuk mengingat kembali bahwa keanekaragaman bukanlah alasan untuk memecah belah satu sama lain.


Nikmatnya hadir di ‪‎Ngayogjazz ialah bisa menonton musik Jazz dengan mengenakan ‘sendal jepit’, dan jajan makanan-minuman khas ‘kampung’. Belum lagi uniknya panggung yang di tata di dekat kuburan, atau kandang sapi. “Keren kan, nonton jazz yang biasanya dekat dengan ‘orang-orang wangi’, dan hidangan mahal, kini telah dipatahkan oleh festival ini.”

Bagi saya menonton Ngayogjazz memang lebih enak di panggung-panggung kecil, karena biasanya akan banyak kejutan segar dari musisi muda, seperti Musikanan dan Jalu ini. Lha, Kalau urusan Tri Utami, Kua Etnika, Syahrani, dsb yaa udah selesai lah......



Sepertinya akan lebih berwarna jika pihak Ngayogjazz mengundang legenda pop-jazz lokal. Banyak musisi senior yang harusnya bisa tampil di perhelatan ini, misalnya Fariz RM, Oddie Agam, Mus Mujiono, Dedi Dukun, Dian PP, Vina Panduwinata, Ermy Kulit, dan sejenisnya. Apalagi Fariz RM yang baru aja bebas dari ‘rehabilitasi’, tentunya penampilan Fariz akan sangat dinanti khalayak tua dan muda, karena lagu-lagu ciptaannya yang tak lekang zaman. 
Ah, sepertinya saya ‘terpaksa’ menonton pertunjukan Fariz RM di sebuah hotel dengan tiket agak mahal pada akhir pekan ini.

Apalagi jika memang misi Ngayogjazz ialah untuk memasyarakatkan jazz, semestinya musisi-musisi yang biasa tampil di hotel-hotel mahal, dan hanya bisa dinikmati para borjuis itu, ya harus ditempatkan 'main’ di kandang kerbau, sapi, dan panggungnya persis di sebelah kuburan umum desa setempat. Nah, kalau hanya jadi semacam 'ritual tahunan', maka apa bedanya festival jazz kontemporer ini dengan tradisi gunungan atau apeman yang digelar Kraton ? :p

menyaksikan Kua Etnika dari atas kandang sapi, difoto oleh Liz Listyowening
Sayangnya lagi, ‪’‎jazz hujan’ warna pink yang sengaja saya beli diperjalanan ke venue nggak jadi dipakai, persoalannya perhelatan Ngayogjazz tahun ini 'Kering', tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang diguyur hujan. 
Ya, semoga ke depannya Ngayogjazz bukan cuma jadi 'ritual' tahunan yang wajib adanya. 'Break On Through, To The Other Side' kalo kata The Doors, atau istilah Fariz RM nya 'Selangkah Ke Seberang'.(*)

(nb) ini kali pertama saya datang ke Ngayogjazz bersama
seorang perempuan, yang Alhamdulillahnya istri sendiri :p

Foto Jalu oleh Deka Pramana
Foto Musikanan oleh Anggityas Sekarkinasih Putri
Foto lainnya saya colong dari instagram @pfijogja, silakan follow akunnya :p


Friday, June 26, 2015

Barbarian Bersorban, Anarkisme, dan Syekh Siti Jenar


"STOP menyematkan kata 'Anarkis' pada ormas2 barbarian bersorban seperti FPI dan sejenisnya...!"

Miris sekali memang, karena banyak sekali oknum dari berbagai lapisan baik masyarakat, aparat, hingga pejabat yang ('belum mengenal' atau memang dengan sengaja) menggunakan kata 'Anarki' bukan pada tempatnya. Lebih menyedihkan lagi ketika hal ini di Amin-kan (di pakem-kan) oleh media massa bertaraf nasional.

Bicara soal ajaran Islam dan Anarkisme, sejatinya sosok Kanjeng Syekh Siti Jenar-lah yang patut di stempel 'Anarkis'. Apa itu Anarkisme, silakan klik > ini. Menurut Babad-Babad yang beredar, bisa disimpulkan kalau beliau telah menjadi Anarki bahkan sebelum kata Anarkisme itu populer. Pada zamannya, Di era awal berdirinya Kerajaan Demak, Kanjeng Syekh menolak untuk tunduk pada Khalifah Raden Patah, dan Majelis Ulama yang dipimpin Dewan Wali. Lebih unik lagi, Kanjeng Syekh mendirikan banyak Paguron (baca: komune) yang bernama Lemahabang (Siti Jenar sendiri berarti 'Tanah Merah').

Sehari-harinya Syekh Siti Jenar menjadi guru yang berpenampilan sederhana, pakaian luarnya tak jarang kelihatan robek-robek. Kalau beliau hidup di zaman sekarang, pastinya bisa digolongkan sebagai orang yang 'nyentrik'. Namanya mencuat bukan hanya karena keilmuannya yang mumpuni, melainkan praktik hidupnya yang egaliter, merasa sama dengan orang lain. Kalau begitu, biar lebih akrab, maka sapaan yang cocok untuk beliau ialah: 'Kangbro Siti Jenar'. 

"Tak ada tuan, tak ada hamba, Kehampaan ini bernyawa!"

Dalam pengajarannya, Kangbro tidak membedakan antara kyai dan santri, antara rakyat jelata dengan Raja. Menurut beliau hakikat manusia secara biologis diciptakan dari tanah merah yang berfungsi sebagai wadah bersemayamnya roh selama hidup di dunia ini. Karenanya jasad manusia (baik rakyat jelata maupun raja) tidak kekal eksistensinya, dan bakal membusuk kembali ke tanah. 

Dalam sebuah bentuk pemerintahan kerajaan, seorang rakyat harus mengabdi kepada raja yang dianggap sebagai keturunan Dewa. Kontroversi ajaran Syekh Siti Jenar inilah yang membuat sosok tokoh penyebar Islam di Jawa ini sangat diburu, dicari, dan ingin dimusnahkan oleh kerajaan yang dibeking oleh para Wali.

pemuda - pengagum Syekh Siti Jenar
Menurut kisah, suatu ketika Siti Jenar melihat fakta di wilayah Demak bahwa rakyat dihisap pajak. Rakyat miskin yang tidak bisa membayar pajak, diharuskan menjaga rumah pejabat, memotongi atau membabati rumput alun-alun. Siti Jenar sangat melawan itu. Selanjutnya sebagaimana Kangbro Siti Jenar, seorang Anarkis adalah perindu kebebasan martabat individu. Mereka menolak segala bentuk penindasan. Jika penindas itu kebetulan pemerintah, ia memilih sebuah bentuk masyarakat tanpa pemerintah. Sedangkan kondisi saat itu adalah awal eksistensi pemerintahan kerajaan di Jawa setelah runtuhnya Majapahit, yaitu Kasultanan Demak dan Cirebon. Konsep yang beredar bahwa raja adalah titisan Tuhan, yang di dalam unsur sosial disebut golongan 'gusti', dan di luar keraton adalah golongan 'kawulo'. 
Sekali lagi, Siti Jenar menolak itu dan dengan tegas mengatakan 'tidak'. 

Di sisi lain, para pencetus Anarkisme paska Revolusi Industri mencita-citakan sebuah kaum tanpa hirarki yang hidup damai berdampingan dalam suatu sistem sosial. Pada perkembangannya, Anarkisme sendiri memiliki banyak varian. Adanya kesamaan ide antara tradisi anarkisme dengan sejarah Islam, telah menjadi pembicaraan yang besar pada akhir abad ke-20. Islam mengajarkan hal mutlak bahwa 'ketundukkan hanya pada Allah’, ayat yang berbunyi ‘Tak ada paksaan dalam agama’ bermakna kita harus menyakini bahwa hanya Allah yang mempunyai kekuasaan atas individu. Dalam dunia Islam, kecenderungan penolakan terhadap kekuasaan yang korup juga terlihat pada jalan Sufisme lewat praktik, maupun tulisan-tulisannya.



"Aku katakan sabda batu kepada api, Di bawah tanah masih terdapat dataran tak berpijak. Di bawah tanah masih terdapat berlapis–lapis kerak neraka. Sehingga siapapun yang mengklaim dirinya pemimpin bumi adalah pendusta!" kurang lebih begitu ide Kanjeng Syekh Jenar yang diteriakkan unit Hip Hop asal Bandung, Homicide pada anthem 'Siti Jenar Cypher Drive'.

Semua manusia adalah Khalifah (Wakil) Allah di bumi, karenanya penting untuk mengaji (mengenal) diri kita sendiri. Banyak yang bilang meski dikaji sampai menjelang ajal pun, jika tidak dengan sungguh-sungguh, kita belum tentu bisa mengetahui siapa Sang Diri Sejati.

Sekali lagi, yang patut dicatat dari semua ini ialah bahwa jangan samakan Anarkisme dengan Barbarian Bersorban - (meminjam istilah FSTVLST), karena ide Anarkisme sejatinya jauh lebih mulia daripada selangkangan 'habib' dan pemimpin mereka yang mengatasnamakam agama untuk nafsu berkuasa !!!


Sorban, Jenggot, Gamis boleh sama, tapi raut muka kagak bisa ditipu.
Salam Manunggaling Kawula Muda dari Kangbro Siti Jenar, 

cheers !
(sejak 2005), bagi yang kenal sosok di tengah,
silakan hubungi penulis
bacaan cemilan > Islam dan Anarkisme
Featured