Showing posts with label sufism. Show all posts
Showing posts with label sufism. Show all posts

Saturday, June 3, 2017

Syariat Telah Menjadi Palsu

Sayang banget, bangunan Islam yang indah dirusak oleh orang-orang yang memanfaatkan agama Islam utk memenangkan golongannya dalam perebutan kekuasaan duniawi.

Berapa banyak orang yang salat hanya karena takut pada golongannya, keluarganya, ulamanya, organisasinya daripada fokus pada pengabdian thd Tuhannya.

Hal ini udah terjadi sejak jaman Wali Songo dulu, bahkan jauh sebelumnya. Gak salah kalo Kanjeng Siti Jenar bilang syariat agama telah menjadi palsu.

Esensi salat sebagai pencegah sifat keji dan mungkar menjadi sirna. Gak heran kalo banyak orang salat tapi masih suka korupsi, mencuri, tebar fitnah sana-sini, berprasangka buruk thd orang lain, dan yang paling sederhana, suka buang sampah sembarangan.

Tuesday, May 30, 2017

Kalau Hijrah, Jangan Berak Sembarangan

konsep hijrah itu bukan hitam-putih seperti yang ada di kepalamu. Hijrah bukan soal ganti blue jeans jadi gamis, apalagi sekedar transformasi Lo-Gue jadi Ana-Antum. Hijrah juga bukan pindah tongkrongan, dari jalanan ke mesjid. Emang kau pikir di jalanan gak ada kebaikan, walau setitik, apakah di mesjid gak ada maksiat walau setitik?
Jika ada sepuluh keburukan pada orang lain, lihat satu kebaikannya, pasti ada! 
Jika ada sepuluh kebaikan pada kita, pandang satu keburukannya, pasti lebih!

Akhir jaman ini penuh dengan fitnah. Jangan kau tertipu oleh bentuk, oleh kostum, oleh fisik, plastik! cepat atau lambat semua akan busuk.
Hijrahkan lah otakmu, persepsimu, hatimu, nuranimu, dari kegelapan menuju cahaya, dari suuzon menuju khusnuzon, ujub ke tawadhu, sok pinter ke merasa bodoh, prasangka buruk ke prasangka baik. getaran negatif ke getaran positif.
Sampai kapan pun positif-negatif akan sulit bertemu, kecuali dengan 'Hijrah!'
*ngomong sama jojon & caki, dua kucingku tersayang yang gak pernah berak sembarangan. 

Komik Komuk: Abu Waswas & Kekafiran

Abu Waswas ialah seorang lelaki paruh baya yang belum lama belajar agama. Banyak hal yang ia serap mentah begitu saja, apa yang terjadi padanya?



Aksi Bela Ulama

Aksi bela ulama ialah, mendatangi rumah mereka, duduk di majelis mereka, bawain oleh-oleh, dengarkan wejangan mereka, dan tanyakan hal-hal yang perlu kita ketahui dalam menjalani hidup.
Jika hatimu teduh, insya Allah dia ulama yang haqq, jika hatimu gersang karena duduk di majelis yang penuh caci dan makian, tinggalkanlah!
Masih banyak kok ulama yang membuat teduh di jaman ini. emang kitanya yang harus ngulik sendiri.



Tuesday, March 21, 2017

Komik Komuk: Tiga Tingkatan Ilmu




Joni bertemu dengan tiga orang yang ia anggap berilmu, baik dalam bidang agama maupun filsafat, namun ada perbedaan di antara ketiganya....

Tuesday, January 3, 2017

Komik Komuk: Setan Disetanin!



Iblis itu berumur panjang, doi udah hidup sejak sebelum manusia diciptakan dan akan terus hidup sampai kiamat. Sepanjang hidupnya Iblis sudah bersumpah kepada Allah bahwa ia akan berusaha untuk menyesatkan anak cucu Adam AS agar mereka mau menjadi pengikutnya dan menjadi orang-orang yang tersesat. Sebenarnya, jauh sebelum nabi Adam AS diciptakan, Iblis adalah makhluk yang mulia dan paling dihormati oleh para Malaikat. Iblis beribadah sangat tekun, dan dimasukkan ke dalam kumpulan para malaikat.

Friday, April 15, 2016

Joni KKK: Pemuda Urakan Namun Klimis ((( PUNK )))

Hanya beberapa pekan saja tiba-tiba geliat saya membuat komik bergelora kembali. hal ini dipicu dari iseng-iseng beli cat sablon dan melukisnya di punggung jaket. Akhirnya menggambar sketsa dengan pensil pun tak terhindarkan. Dari sketsa tersebut tertuanglah cerita-cerita yang diangkat nggak jauh dari fenomena sosial, politik, kebudayaan dan kejadian-kejadian ringan di sekitar saya. Banyak hal yang membuat saya gelisah, terutama tentang isu keberagaman yang terancam oleh sekelompok orang yang memaksakan 'kebenaran'nya sendiri. 


Kegelisahan-kegelisahan ini sepertinya tidak mungkin direpresentasikan menjadi sebuah lagu yang kemudian dibawakan band saya Kiki & The Klan, mengingat kualitas bermusik saya amat-amat minus. Namun lewat komik, meski tetap dengan prinsip absolut 90% Styles, 10% Skills semuanya bisa disederhanakan dengan teks dan gambar berkualitas rendahan.

Saturday, July 4, 2015

20 Lagu Rohani yang (Tidak) Islami

SEMUA manusia menginginkan kebahagiaan dan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh kepuasan sejati. Nah, kali ini kita fokus pada kepuasan rohani..... jika melihat dari perspektif kaum bijak bestari, semua sepakat bahwa menjadi bahagia ialah dengan tidak menjadikan materi sebagai urusan segala-galanya, apalagi menjadi tujuan hidup. Lewat musik, sebagian orang percaya bahwa nada dan irama, juga lirik yang menggugah bisa menyembuhkan berbagai penyakit rohani.

artwork: Wawakz (@tempatkerja)

Belum lama ini saya mampir ke salah satu blog favorit saya, yakni masjaki.com. Lewat tulisannya 'Rezeki Lagu Religi' masjaki mencoba mencari pengertian antara lagu religi dengan lagu rohani. Meskipun ujung pangkalnya sama, yakni soal puja puji pada Sang Pencipta, ada semacam tembok tinggi antar dua kubu. Ia mencoba berdialog dengan Google, dan menemukan bahwa frasa lagu religi merujuk pada Bimbo, Hadad Alwi, serta Opick, sedangkan lagu rohani mengacu ke lagu-lagu paduan suara gereja.

Berhubung ini bulan Ramadan, maka sengaja saya pilih lagu-lagu rohani yang 'Islami'. Mengapa diberi tanda petik pada kata 'Islami'? karena Islam adalah agama yang sangat unik. Para penganut dan yang tidak menganutnya memiliki pandangan yang relatif berbeda. Islam tidak identik dengan Arab, karena tidak semua bangsa Arab pasti beragama Islam. Sebagian berpendapat bahwa Kebudayaan Islam tidak sama dengan Kebudayaan Arab, lagu religi Islam itu buat saya tidak selalu yang berirama padang pasir, berbahasa Arab, atau yang berlirik 'menyek-menyek'.

Lagu lagu yang saya kurasi berikut ini merupakan lagu yang akrab di telinga saya di waktu dan tempat yang berbeda. Lewat lagu lagu tersebut saya merasakan nuansa 'religius' yang membuat rohani bergetar. Jangan harap menemukan lagu-lagu religi rujukan Google seperti; Hadad Alwi, serta Opick. Karena ini adalah lagu-lagu 'religi' versi saya, teksnya pun ditafsir seenaknya sesuai isi kandungan rohani saya.

Semua teks termasuk di dalamnya lirik lagu, buku, novel, puisi, artikel koran, majalah, catatan harian, bahkan prasasti, hingga kitab suci adalah pesan-pesan tertulis yang berhak kita tafsir. Pakar semiotika, Roland Barthes dalam esainya 'The Death of The Author' memberi tahu bahwa ketika pengarang menulis karyanya, maka sebenarnya dia (pengarang) telah mati. Dia terpisah dari teksnya. Teks tersebut sekarang sudah bukan miliknya lagi. Pendek kata, ketika teks terlahir, maka pengarang telah tiada, dan digantikan oleh pembaca yang bebas menafsirkan teksnya. Pembacalah yang kemudian akan memaknai teks menurut pemahamannya masing-masing, menurut kepentingannya masing-masing pula. Nah cukup sudah mukadimah yang mulai rada rada kepanjangan ini, langsung saja ini dia 20 Lagu Religi yang (Tidak) Islami:

20. Hari Terakhir Peradaban - FSTVLST

Keliaran, sound yang kasar, lirik yang menusuk, hingga attitude yang ditawarkan FSTVLST memang menjadi tanggung jawab kelompok musik yang menjadikan Rock sebagai tunggangannya. Pada lagu ini Farid Stevy si pembuat lirik menuliskan frase seperti ‘Barbarian Bersorban’, ‘Gila belanja’, ‘Bangga berdosa’, ‘Cendikia pendusta’, dan sebagainya. Frase tersebut kemudian dirangkai seperti lagu karnaval yang isinya adalah dekadensi, sepertinya tidak sedang terjadi apa-apa, padahal kita sedang merayakan karnaval ‘kemunduran’.

Begitulah memang keadaan umat beragama mayoritas saat ini, banyak wanita menjadi budak atas kelaminnya, memeluk agama tanpa tuhan, dan ibadahnya adalah belanja. Sedangkan para lelakinya banyak yang menjadi sundal atas ambisi, memeluk agama tanpa tuhan, dan ibadahnya adalah berperang. Mendengarkan rintihan dalam lagu ini kerisauan saya bertambah, bagaimana cara memperbaiki keadaan umat akhir zaman yang sudah sedemikian kacaunya. Lagu ini adalah sebuah pecutan bagi para rohaniawan dalam membentengi umat dari para barbarian bersorban yang maniak perang lagi brilian dengan citra curian.

19. Entah Jadi Apa - Slank

Entah aku nanti jadi apa..?
Entah aku jadi apa saja (terserah)
Asal.. kecil disuka dan muda terkenal..
Tua kaya raya mati masuk surga.....



Kayaknya ini jadi keinginan banyak orang ya? Ketika lahir di dunia, kita belum mengenal Diri Sejati, keluarga lah yang kemudian memberi kita nama, untuk kepentingan identitas dan pengakuan administrasi akte kelahiran, KTP, dan sebagainya. Agar hidup merdeka dan tidak saling membohongi, manusia harus kembali mengenal dirinya. Setiap orang harus dididik untuk menyadari perannya dalam hidup ini. Surga dan neraka tidak bisa ditolak oleh manusia. Gak perlu nunggu mati untuk merasakan Surga, karena Surga di dunia adalah rasa bahagia, ketenangan, dan kesenangan batin. Sebaliknya rasa bingung, kalut, muak, risih, menderita itu adalah neraka di dunia.

18. Kau Dimana - Atik CB

Ini adalah lagu tentang kerinduan yang amat sangat. Bagaimana jika 'Kau' adalah kata ganti untuk Tuhan? Sebuah syair dari Abu Ali ats-Tsaqafy berbunyi: "Wahai yang tercekam rindu karena perpisahan panjang. Bersabarlah, siapa tahu esok engkau bertemu Sang Kekasih". An-Nashr Abadzy menyatakan, “Semua orang mempunyai tahap kerinduan. Namun tidak semuanya mengalami tahap gelora, dan siapa yang memasuki gelora itu, justru akan linglung,”

Jika Atiek CB bersenandung: "Kala Hati terpecah dua, Airmata terjatuh sudah.. Kau ada dimana ? Kau berada dimana ? maka Abu Utsman menuturkan, “Tanda rindu adalah mencintai kematian dengan hati yang ringan.”  

17. Aku tetap Aku - Gito Rollies

Di zaman kejayaannya sebagai bintang rock, Gito Rollies ialah sosok yang bengal, enerjik, dan sensasional, dan ini adalah lagunya para 'pemberontak'. Dengan lantang Sang Rocker berteriak kepada para pemuka agama "Sudah tutup saja semua khotbahmu, Kau berikan saja kepada anakmu, kepada cucumu, Sebab ini adalah kakiku, Kemana ku melangkah adalah kehendak diriku"


banyak orang yang merasa terancam keselamatannya oleh sekelompok orang yang merasa punya otoritas dalam memaksakan agama. Kelompok tersebut menganggap mereka yang berada diluar kelompoknya adalah 'kafir', 'sesat', dan makian makian tak pantas lainnya. Keimanan itu berdasar pilihan dengan kesadaran, bukan atas suatu tekanan. Sungguh tanpa paksaan, Sang Rocker beberapa tahun sebelum akhir hayatnya, kemudian justru berbalik menjadi seseorang yang taat beragama, dan mengisi hari-harinya dengan berdakwah. Saya sendiri pernah belajar langsung dengan beliau jaman kuliah dulu.. Gito Rollies adalah idola saya dunia akhirat. :p

16. Siti Jenar Cypher Drive - Homicide

Gak usah banyak deskripsi lagi, dari judulnya aja udah ketauan kalo ini adalah lagu rohani tingkat tinggi, dengerin aja sendiri. Puncak ekstasenya ada pada mantra: "ada adalah tiada dan kekosongan itu bernyawa. Bahwa ketidakberujungan semesta adalah kehampaan bernyala. Bagi mereka yang bernazar hidup tanpa hamba dan paduka"


15. Hio - Iwan Fals & Sawung Jabo (SWAMI)

Lagu ini sangat meditatif, jika terhanyut pada lirik dan musiknya bisa jadi membuat kita 'mabuk' seperti Rumi dan Tarian Darwisnya. Membaca liriknya kok sejalan ya dengan buku bacaan favorit saya, 'Menjadi Kekasih Allah' yang berisi tulisan ceramah Abdul Qodir Jaelani, syekh sufi, orang suci terbesar dalam Islam yang punya julukan Sulthonul Auliya, Quthubul Auliya’. Beberapa kali konser Sawung Jabo bersama Sirkus Barock, 'Hio' selalu menjadi tembang pamungkas menutup konser yang selalu dipenuhi penggemar fanatiknya yang datang dari berbagai lapisan masyarakat. "Aku tak mau bicara yang tentang aku sendiri tidak tahu, Aku tak mau mengerti kenapa orang saling mencaci. Aku mau sederhana, Mau baik baik saja, Aku tak mau mengingkari hati nurani"


Hati memang sering berubah-ubah, bolak-balik, maju-mundur dalam menerima kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan. Menurut saya pengertian bolak balik hati ini adalah penghadapan wajah yang terkadang terhadapkan pada-Nya, dan di saat yang lain, cenderung menghadap pada urusan dunia…. dan faktanya, seringkali kita terlena pada hal hal duniawi.

14. Perasaan - Koes Plus

Koes Plus adalah grup legendaris Indonesia, ratusan tembang lagu telah mereka luncurkan, sebagian besarnya dihafal luar kepala oleh penggemar musik lintas generasi. Ini adalah satu nomer favorit saya milik Koes Plus. Rajin berolahraga itu baik, namun berolahrasa jauh lebih baik. Dengan berolahrasa, manusia bisa mengontrol emosi, perasaan, dan hati agar bahagia meski dalam kondisi yang sulit, sakit, juga miskin. Beberapa orang bilang olah rasa itu seni.

13. Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan) - Seringai

Ini adalah tembang realitas umat akhir zaman, Arian13 berteriak lantang: Selamat datang di era kemunduran, pikiran tertutup jadi andalan. Praduga tumbuh tenteram, menghakimi sepihak, sebar ketakutan. Membakukan persepsi bukan jadi jawaban atau gagasan bijak.


Jika agama sudah dikaitkan dengan politik, maka pihak yang menang akan membuat aturan yang dipegangnya itu benar. Pihak yang kalah dinyatakan salah, yang gak sejalan dianggap kafir. Agama tak lagi menjadi jalan hidup, bukan jadi jalan damai bagi yang melaluinya. Ia hanya sebuah dogma yang dipaksakan pelaksanaannya dalam kehidupan.Pada akhirnya dengan pemaksaan tersebut kehidupan beragama hanya sebagai sebuah formalitas. Kalau ini terjadi, bukan ibadah yang subur namanya, melainkan upacara.

Ya, Mereka sedang bermain Tuhan. Merasa benar, menjajah nalar. Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya. Mari teriakkan "Individu, individu merdeka!".

12. Hidup Itu Indah Naif - Naif

Gak usah pake banyak deskripsi, mari dengarkan bareng-bareng sambil berdzikir: "Saat kau buka mata kita dilahirkan untuk sama. Saat kau telah dewasa kau akan mengerti semua Jalan hidup kita kan berbeda. Takdir itu telah ada sejak alam semesta tercipta, Segala suka dan duka 'kan menjadi sebuah cerita. Bagi anak cucu kita semua. Jalankanlah hidupmu yang indah. Jangan pernah kau berkeluh kesah, Walau kadang engkau lelah (hidup itu tetap indah)"

11. Cahayamu - Tony Q

Menyapa dan memuji Tuhan bisa dengan berbagai bahasa, sesuai dengan bahasa dan cara yang paling dekat dengan kita, jika itu dengan musik reggae, maka lakukanlah: "Langkah kaki tak lagi gontai, Cahayamu terangi gelap. Sisa murung pun terhapuskan. Ada getaran menyentuh kalbu".



10. Jalan Masih Panjang - 7 Bintang

Lirik musik rock Indonesia di era 80-an amat normatif dan moralis. Gak seperti di negara asalnya yang bercerita soal seks bebas, narkotika, dan hal-hal anti-norma lainnya. Di sini musik Rock bercerita soal, jangan menggunakan narkotika (Jarum Neraka), Sehat setelah bebas alkohol (Air Api), hingga anjuran agar tidak mencorat coret tembok (Tangan-Tangan Setan).. hmmmff. Tokoh-tokoh bintangnya antara lain, Ikang Fawzi, Gito Rollies, Nicky Astria, dan sebagainya. Nah, itu dari genre 'Rock', bagaimana dengan musik pop kreatif yang populer di zaman itu ? Dan mereka nyanyinya keroyokan, yah kayak gini jadinya.


9. Kuat Kita Bersinar – SID

Jika nafsu berkuasa sudah tertanam di dada, tak peduli dia itu pemuka agama, maka ia pasti lebih mementingkan perbedaan lahir daripada hidup damai bersama. Lebih mengutamakan kesatuan daripada persatuan. Lebih suka terhadap keseragaman daripada keberagaman. Sebagai manusia, semuanya sederajat, dan memiliki hak-hak yang sama, yang harus dihargai dan dihormati, baik yang menganut Islam dan yang tidak. Perbedaan derajat hanya terletak pada tingkat keimanan, dan  hanya Tuhan yang paling tahu. "Harus percaya tak ada yang sempurna dan dunia kembali tertawa". Cheers !



8. Kurnia Pesona - Fariz RM

Soal lirik dan musikalitas, semua mengakui bahwa Fariz RM telah mengungguli zamannya sendiri, dan lagu ini menjadi salah satu penandanya. Bahkan sebelum meninggal, pengamat musik Denny Sakrie mengunggah ucapan selamat ulang tahun untuk Fariz RM dalam blog pribadinya, 2 Januari 2015. Denny menuliskan kisah dan profil Fariz RM, dan sehari setalahnya sang maestro terpaksa ditahan kepolisian karena kepimilikan ganja. 
Ini menjadi tulisan terakhir Denny Sakrie > Fariz RM 


Dan semoga Om Fariz segera dibebaskan, Legalize It !

7. Live Upright - Ras Muhamad

Musik Reggae sangat erat hubungannya dengan spiritualitas Rastafari, suatu "jalan Kehidupan". Ada yang menyebutkan Rastafari adalah gerakan agama baru yang muncul dari agama Kristen, seperti halnya agama Kristen muncul dari Yudaisme. Bob Marley adalah Nabi kaum Rasta yang menyebarkan ajarannya ke seluruh dunia lewat musik reggae. Di Indonesia, Ras Muhamad menjadi yang terbaik dalam menerjemahkan kultur ini.

6. Bendera Kuning – Betrayer

Kematian adalah hal yang pasti dialami semua makhluk bernyawa. Kematian pasti terjadi, sebuah ayat suci berbunyi: “Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS. Qaaf:19)

Menurut tradisi sufi, keuntungan mengingat mati ialah mencegah kerakusan dan ketamakan terhadap duniawi. Melembutkan hati, membuat mata menangis, memberi semangat untuk mendalami agama dan menghapuskan keinginan hawa nafsu. Mungkin lewat lagu ini lah ada mantan personel Betrayer yang kini menjadi pendakwah agama yang paling aktif di antara barisan rocker yang ber'hijrah'.

"Kembali ke asalnya, Bendera kuning dengan jenazah ikut menangis bersama bunga kamboja tanah kuburan, Ingatkan aku pada azab-Nya".

5. Cahaya terang - Sheila on 7

Band kebanggaan Yogyakarta ini dikenal dengan 'Band Sejuta Copy'. Lagu-lagu mereka banyak bertemakan cinta, namun apik, ringan, puitis, tapi nggak murahan. Soal teks dibawah ini, silakan langsung tanyakan pada Sakti Ariseno, gitaris yang keluar dari Sheila On 7 pada 2006, Sakti kini berganti nama menjadi Salman Al Jugjawy.


"Ketika aku lihat cahaya terang
Aku dapat menemukan tujuan hidupku
Hilanglah sudah semua masa laluku
Akan kulewati semua dengan hal yang baru
Aku takkan bisa hidup tanpa dirinya
Aku takkan mampu hidup tanpa sentuhannya
Mampu hidup tanpa sentuhannya"

4. JHF - Ngelmu Pring 

Jogja Hiphop Foundation merilis album berbentuk buku yang berjudul 'Semar Mesem Romo Mendem'; the Book of Sindhunata. Album ini merupakan kumpulan puisi Sindhunata, seorang Romo Katolik yang nyambi jadi aktivis seni-budaya. 'Ngelmu Pring' bercerita tentang pengupasan diri. Bambu memang banyak manfaatnya bagi manusia, dan sifatnya bisa dicontoh oleh manusia. 

'Ngelmu Pring' membahas bagaimana seharusnya manusia itu bersikap dan selalu 'ingat'. Ingat terhadap dirinya, sesamanya, kematiannya, dan ingat Tuhannya. Jadilah seperti bambu, tidak punya apa-apa, namun bisa menjadi apa saja.
]
3. Kosong - Pure Saturday

Pure Saturday adalah pembuka jalan. Album pertamanya dan lagu ini adalah pionir pergerakan musik indie tanah air. Temukan diri di dalam dunia, Tak terkira... Semua mati dan menghilang. Terlalu pagi temukan arti.... dua personelnya secara tiba-tiba, si kembar gitaris dan drummer Adhitya Adhi Nugraha (Adhi) dan Yudhistira Ardi Nugraha (Udhi) menyatakan keluar dari band karena ingin mendalami agama. 


2. Mati Suri – Rumahsakit

Mati suri merupakan sebuah fenomena yang unik. Bagaimana bisa orang yang sudah mati dapat hidup kembali. Hal itu bisa jadi berada diluar logika manusia. Band ini menjadi favorit saya saat beranjak 'setengah tua' (jika tak mau disebut dewasa, :p). Hampir setiap akhir pekan saya mendatangi pertunjukan mereka. Bahkan saat pesta rilis album kedua mereka 'nol derajat' dimana lagu ini terdapat di dalamnya, saya nyaris 'mati suri' karena kebanyakan mengonsumsi sesuatu. 

Kini sepeninggal Andri LMS, rumahsakit tetap berjalan, dan menelurkan album. Kini Andri aktif berdakwah bersama Ex musisi yang tergabung dalam The Strangers Al Ghuroba, mereka antara lain: Alfi Chaniago (ex. The Upstairs), Madmor (Ex. Purgatory), Fani (Ex. Innocenti), Reda Samudera (Ex. Speaker First), Agus Sasongko (Ex. MEdia Distorsi), dan lainnya.

1.Suci Dalam Debu - Iklim

Percayalah...ini lagu amat sangat paling sufistik di zamannya. Dalam tataran syariat Islam, debu adalah suci dan mensucikan, jika hendak salat namun tidak ditemui air untuk berwudhu, maka debu dapat menggantikannya. Saleem Iklim kisah hidupnya pun menarik, mabuk2an, narkotika, penjara, keluar, dituduh membunuh seorang polisi lokal malaysia, penjara, dan akhirnya tobat. Kini ia aktif di berdakwah syiar Islam, dan masih bermain musik. Beberapa tahun lalu merilis album solo berjudul 'Maaf'. Sebagaimana judulnya, single 'Maaf' berkisah tentang pertobatan dari masa lalunya yang awur-awuran.


'Suci Dalam Debu' berbicara cinta di tahapan hakikat, dan makrifat. Mari kita selami dan pahami makna lirik di bawah ini sesuai interpretasi dan tingkat keimanan masing-masing: 

"Suatu hari nanti, Pastikan bercahaya, Pintu akan terbuka, Kita langkah bersama.
Di situ kita lihat, Bersinarlah hakikat, Debu jadi permata, Hina jadi mulia'
Bukan khayalan yang aku berikan, Tapi keyakinan yang nyata.
Kerana cinta lautan berapi, Pasti akan kurenang jua"

Dalam kacamata para sufi, cinta merupakan suatu konsep yang sulit dipahami. Ibnu Arabi menjelaskan, jika ada orang mengaku bahwa ia dapat mendefinisikan cinta, maka dapat dipastikan bahwa sesungguhnya ia belum mengenal apa itu arti cinta sejati. Saking dahsyatnya, dalam dunia para sufi ada istilah “Tiada Tuhan Selain Cinta”.





Friday, June 26, 2015

Barbarian Bersorban, Anarkisme, dan Syekh Siti Jenar


"STOP menyematkan kata 'Anarkis' pada ormas2 barbarian bersorban seperti FPI dan sejenisnya...!"

Miris sekali memang, karena banyak sekali oknum dari berbagai lapisan baik masyarakat, aparat, hingga pejabat yang ('belum mengenal' atau memang dengan sengaja) menggunakan kata 'Anarki' bukan pada tempatnya. Lebih menyedihkan lagi ketika hal ini di Amin-kan (di pakem-kan) oleh media massa bertaraf nasional.

Bicara soal ajaran Islam dan Anarkisme, sejatinya sosok Kanjeng Syekh Siti Jenar-lah yang patut di stempel 'Anarkis'. Apa itu Anarkisme, silakan klik > ini. Menurut Babad-Babad yang beredar, bisa disimpulkan kalau beliau telah menjadi Anarki bahkan sebelum kata Anarkisme itu populer. Pada zamannya, Di era awal berdirinya Kerajaan Demak, Kanjeng Syekh menolak untuk tunduk pada Khalifah Raden Patah, dan Majelis Ulama yang dipimpin Dewan Wali. Lebih unik lagi, Kanjeng Syekh mendirikan banyak Paguron (baca: komune) yang bernama Lemahabang (Siti Jenar sendiri berarti 'Tanah Merah').

Sehari-harinya Syekh Siti Jenar menjadi guru yang berpenampilan sederhana, pakaian luarnya tak jarang kelihatan robek-robek. Kalau beliau hidup di zaman sekarang, pastinya bisa digolongkan sebagai orang yang 'nyentrik'. Namanya mencuat bukan hanya karena keilmuannya yang mumpuni, melainkan praktik hidupnya yang egaliter, merasa sama dengan orang lain. Kalau begitu, biar lebih akrab, maka sapaan yang cocok untuk beliau ialah: 'Kangbro Siti Jenar'. 

"Tak ada tuan, tak ada hamba, Kehampaan ini bernyawa!"

Dalam pengajarannya, Kangbro tidak membedakan antara kyai dan santri, antara rakyat jelata dengan Raja. Menurut beliau hakikat manusia secara biologis diciptakan dari tanah merah yang berfungsi sebagai wadah bersemayamnya roh selama hidup di dunia ini. Karenanya jasad manusia (baik rakyat jelata maupun raja) tidak kekal eksistensinya, dan bakal membusuk kembali ke tanah. 

Dalam sebuah bentuk pemerintahan kerajaan, seorang rakyat harus mengabdi kepada raja yang dianggap sebagai keturunan Dewa. Kontroversi ajaran Syekh Siti Jenar inilah yang membuat sosok tokoh penyebar Islam di Jawa ini sangat diburu, dicari, dan ingin dimusnahkan oleh kerajaan yang dibeking oleh para Wali.

pemuda - pengagum Syekh Siti Jenar
Menurut kisah, suatu ketika Siti Jenar melihat fakta di wilayah Demak bahwa rakyat dihisap pajak. Rakyat miskin yang tidak bisa membayar pajak, diharuskan menjaga rumah pejabat, memotongi atau membabati rumput alun-alun. Siti Jenar sangat melawan itu. Selanjutnya sebagaimana Kangbro Siti Jenar, seorang Anarkis adalah perindu kebebasan martabat individu. Mereka menolak segala bentuk penindasan. Jika penindas itu kebetulan pemerintah, ia memilih sebuah bentuk masyarakat tanpa pemerintah. Sedangkan kondisi saat itu adalah awal eksistensi pemerintahan kerajaan di Jawa setelah runtuhnya Majapahit, yaitu Kasultanan Demak dan Cirebon. Konsep yang beredar bahwa raja adalah titisan Tuhan, yang di dalam unsur sosial disebut golongan 'gusti', dan di luar keraton adalah golongan 'kawulo'. 
Sekali lagi, Siti Jenar menolak itu dan dengan tegas mengatakan 'tidak'. 

Di sisi lain, para pencetus Anarkisme paska Revolusi Industri mencita-citakan sebuah kaum tanpa hirarki yang hidup damai berdampingan dalam suatu sistem sosial. Pada perkembangannya, Anarkisme sendiri memiliki banyak varian. Adanya kesamaan ide antara tradisi anarkisme dengan sejarah Islam, telah menjadi pembicaraan yang besar pada akhir abad ke-20. Islam mengajarkan hal mutlak bahwa 'ketundukkan hanya pada Allah’, ayat yang berbunyi ‘Tak ada paksaan dalam agama’ bermakna kita harus menyakini bahwa hanya Allah yang mempunyai kekuasaan atas individu. Dalam dunia Islam, kecenderungan penolakan terhadap kekuasaan yang korup juga terlihat pada jalan Sufisme lewat praktik, maupun tulisan-tulisannya.



"Aku katakan sabda batu kepada api, Di bawah tanah masih terdapat dataran tak berpijak. Di bawah tanah masih terdapat berlapis–lapis kerak neraka. Sehingga siapapun yang mengklaim dirinya pemimpin bumi adalah pendusta!" kurang lebih begitu ide Kanjeng Syekh Jenar yang diteriakkan unit Hip Hop asal Bandung, Homicide pada anthem 'Siti Jenar Cypher Drive'.

Semua manusia adalah Khalifah (Wakil) Allah di bumi, karenanya penting untuk mengaji (mengenal) diri kita sendiri. Banyak yang bilang meski dikaji sampai menjelang ajal pun, jika tidak dengan sungguh-sungguh, kita belum tentu bisa mengetahui siapa Sang Diri Sejati.

Sekali lagi, yang patut dicatat dari semua ini ialah bahwa jangan samakan Anarkisme dengan Barbarian Bersorban - (meminjam istilah FSTVLST), karena ide Anarkisme sejatinya jauh lebih mulia daripada selangkangan 'habib' dan pemimpin mereka yang mengatasnamakam agama untuk nafsu berkuasa !!!


Sorban, Jenggot, Gamis boleh sama, tapi raut muka kagak bisa ditipu.
Salam Manunggaling Kawula Muda dari Kangbro Siti Jenar, 

cheers !
(sejak 2005), bagi yang kenal sosok di tengah,
silakan hubungi penulis
bacaan cemilan > Islam dan Anarkisme

Friday, April 24, 2015

Turban Segala Bangsa: Know What You Wear !


"SESUNGGUHNYA Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling  kenal-mengenal". Berikut kurang lebihnya yang tertulis dalam Al Qur’an pada Surat Al Hujuraat. Setiap daerah, suku, bangsa, maupun agama memiliki sesuatu yang dijadikan simbol, satu di antaranya lewat pakaian (fesyen). Gaya pakaian, dandanan, rambut, segala macam aksesoris yang menempel, bahkan selera musik, atau pilihan-pilihan kegiatan yang dilakukan, adalah bagian dari pertunjukan identitas dan kepribadian diri. Sorban, serban atau turban yang yang dikenakan di kepala, pada perkembangannya adalah simbol bagi suku, bangsa, dan agama tertentu. Sejarah pemakaian turban sebenarnya sudah populer sejak ribuan tahun dahulu. Pada mulanya, turban digunakan di negara-negara Asia, terutama di India, Timur Tengah, Afghanistan, Afrika Utara, hingga Jamaika.


Saturday, March 21, 2015

Materialisme & Mistisisme George Harrison

"Without going out of your door
You can know all things on Earth
Without looking out of your window
You could know the ways of Heaven

The farther one travels
The less one knows
The less one really knows

Arrive without travelling
See all without looking
Do all without doing"

Lirik di atas adalah petikan dari tembang 'The Inner Light' milik The Beatles yang direkam tahun 1968. Percaya atau tidak, lagu yang ditulis oleh George Harrison ini membuat saya selalu berjoget sejak pertama mendengarnya lewat album Past Masters vol 2. Album bersampul putih tersebut dibelikan ibu sewaktu saya beranjak remaja. Lagu tersebut sudah tentu amat berbeda dengan nuansa musik Rock & Roll di lagu-lagu Beatles lainnya. Menyimak isi yang terkandung dalam liriknya, saya pun semakin terkesima dengan sosok George Harrison, Beatle yang paling kalem dan amat tenang perangainya.

Dalam otobiografinya 'I, Me, Mine' George menulis jikalau lagu itu terinspirasi dari surat Juan Mascaro, seorang sarjana Sansekerta di Cambridge University, yang mengirimi salinan bukunya tentang antologi luas dari tulisan-tulisan agama, termasuk beberapa dari Tao Te Ching, buku tersebut berjudul 'Lamps of Fire'. 

Monday, August 6, 2012

Sufi Kontemporer di Yogyakarta

Fenomena menarik  yang  berkembang di masyarakat kontemporer, khususnya di kota-kota besar, termasuk Yogyakarta adalah maraknya  bentuk  wacana  spiritual. Saat ini masyarakat perkotaan semakin haus dengan spiritualitas.Banyak dari mereka yang mengikuti tarekat di komunitas sufi yang memang dapat dijadikan satu cara menjaga kesucian jiwa di tengah masyarakat yang kian diserang oleh gejolak pelepasan hasrat tanpa batas. Jika di satu pihak, Islam diserang dengan isu terorisme, maka di pihak yang lain, sufisme justru semakin digandrungi. 




TAREKAT sendiri artinya adalah jalan, upaya untuk bersungguh dalam mengamalkan Islam, dan menjadi muslim yang baik. Menurut terminologinya, tarekat berasal dari kata ‘thoriqoh’, bentuk jamak dari ‘thoroiq’ yang berarti ‘jalan’, ‘cara’ atau ‘metode’. Jika dipilah dari sudut keilmuan, Islam memiliki beberapa unsur di antaranya, hukum, astronomi, geologi, kelautan, hati, dan lain sebagainya. Ilmu mengenai hati disebut tasawuf, ilmu ini bertujuan untuk melatih hati (qalb) agar dapat menjadi manusia yang mulia. 

Saturday, July 28, 2012

Tentang Musik, Sufi, dan Cinta



SAYA memang awam dengan Islam, namun sebagai bentuk ‘kebudayaan’, adalah penting bagi saya untuk mengapresiasi musik, lukisan, sastra, bahkan fashion dari agama yang dibawa oleh Rasul Allah Muhammad SAW ini. Zaman kontemporer ini, banyak kesenian Islam yang masih sekedar topeng, bahkan parahnya menjadi ajang kepentingan industri untuk meraih keuntungan finansial. Bisa kita lihat bagaimana karya lukisan, novel, lagu, film, apalagi sinetron hanya menggunakan ‘simbol’ yang dianggap representasi Islam, sebut saja peci, gamis, jilbab, sajadah, dan lainnya. Di bulan Ramadan ini adalah kesempatan para pelaku industri untuk mengemas apapun yang berbau Islami untuk dijual.




Sunday, July 22, 2012

Gimbal: Simbol Pemberontakan & Kekuatan Magis

Di dunia modern, rambut gimbal cukup fenomenal. Model rambut ini sebenarnya adalah hasil alami karena tidak sisiran selama tiga hingga enam bulan, dan rambut tersebut akan terjalin bersama lalu menggumpal berbentuk seperti tali. Namun menurut banyak catatan, terdapat bukti awal manusia masa silam juga berambut gimbal. Teks tersebut banyak terdapat di dalam hieroglif, lukisan gua, legenda tradisional, adat dan cerita rakyat. Pengusung rambut gimbal yang paling populer masa ini dan jadi ketakutan bagi pikiran barat adalah gerakan Rastafari dan Sadhu.


Ganja Menuju Manunggaling Kawulo Gusti



LELAKI suci pertapa itu berambut panjang, gimbal, terkadang di konde dan bersurban. Badan mereka dilumuri abu atau bedak warna putih, mereka merokok dengan pipa panjang. Rokok mereka bukan sembarang rokok, begitupun modus dibalik penggunaannya.  Pemakaian ganja dalam ritual keagamaan, membuat ganja identik dengan kesakralan.



Saturday, June 9, 2012

Rotor: Musik Metal, dan Dakwah Islam Non Komersial


SIAPA mengira bahwa dibalik gamis putih, dan sorban tebal yang selalu melilit di kepala pria yang selalu berjalan dengan gagah ke masjid setiap lima kali sehari ini adalah seorang Raja Thrash Metal Indonesia. Ia bahkan pernah membuat serangkaian sensasi dan langkah fenomenal dalam permetalan nasional.

Dialah Irfan Sembiring yang kini seluruh waktunya digunakan untuk mengabdi kepada Allah Swt. Baginya, Masjid adalah rumah, sehari-hari Irfan berada di rumah Allah tersebut meski bukan pada waktu-waktu sholat. Beberapa tahun silam, saya sering menginap di rumah teman di Cinere, Selatan Jakarta, yang kebetulan dekat dengan rumah Irfan di Komplek AL.Saat itulah saya berkesempatan untuk dekat dengan idola saya semasa duduk di bangku SMP ini.

Kalau lagi tidak keliling dunia untuk berdakwah, di Jakarta, ia biasa nongkrong di Masjid Imam Bonjol, atau Masjid Al-Ittihad di dekat Cinere Mall. Kerjaannya kalau nggak Ibadah, Dzikir Qalbi, Dakwah, dan Nongkrong. Kalau lagi nongkrong pun obrolannya gak bakal jauh dari Keagungan Allah, meski sesekali diselingi dengan ngobrol musik, terutama musik Rock. “Orang Islam itu kalo di Masjid ibarat ikan dalam air,” ujarnya berkali-kali kepada saya yang pendosa ini.


Thursday, August 25, 2011

Energi Positif dari Tebango, Lombok Utara

tulisan ini pernah dimuat di www.akumassa.org 26 Januari 2010

Di sebuah tempat, tampak beberapa anak sedang bercanda dan bermain dan berlari-larian. Tak lama kemudian datanglah seorang pemuda yang bersahaja menegur mereka:

Pemuda: Hey…Hey.. berhenti- berhenti! Sini, kalian tahu ini tempat apa?

Anak-anak: Tempat Sembahyang.

Pemuda: Sembahyang umat apa?

Anak-anak: Buddha.

Pemuda: Bagus, di tempat sembahyang atau di tempat peribadatan lain, tidak boleh dijadikan tempat bermain, paham?

Anak-anak: Paham.

Pemuda: Kalau Umat Islam sembahnyangnya di mana?

Anak-anak: Masjid.

Pemuda: Pintar-pintar , ingat, peliharalah dan jagalah tempat peribadatan setiap agama, ngerti?

Anak-anak: Yaa…

Pemuda: Kalian main di tempat lain saja yaa!!

Anak-anak: Iyaaa…

Berikut cuplikan dialog dari salah satu adegan dalam film Sunan Kalijaga yang dibintangi Dedy Mizwar. Film yang diproduksi tahun 1984 itu mengandung pesan toleransi antar agama. Pada umumnya, toleransi diartikan sebagai pemberian kebebasan kepada sesama manusia dan masyarakat untuk menjalankan keyakinan-NYA atau mengatur hidup dan menentukan nasibnya masing-masing. Sikap toleransi membangun kesadaran yang mantap bagi masyarakat untuk saling menghargai dan membangun Indonesia.


Featured