Sunday, May 5, 2013

Membaca Sejarah Sinema Indonesia Lewat Si 'Anak Sabiran'


SEBAGAI karya seni dan produk budaya, fungsi film tidak hanya untuk menghibur tapi juga seharusnya menjadi sumber ilmu pengetahuan yang punya nilai sejarah yang tinggi. Di sejarah film Indonesia, nama Misbach Yusa Biran dikenal sebagai orang yang mendokumentasikan segala sesuatu tentang perfilman Indonesia, dan mati-matian mengurus artefak-artefak yang sangat berharga tersebut.


Setelah memutuskan berhenti menjadi sutradara film sejak tahun 1971, Misbach Yusa Biran memantapkan pilihannya untuk merintis dan melakukan pengarsipan film hingga akhirnya berdirilah lembaga arsip dan dokumentasi filem, Sinematek Indonesia. Dengan sepenuh hati suami dari aktris Nani Wijaya ini membangun lembaga tersebut hingga tahun 2001.


Bertempat di Kedai Kebun Forum, Jl. Tirtodipuran No. 3 Yogyakarta, Kamis, (2/5) malam,  digelar pemutaran dokumenter berjudul 'Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip). Film berdurasi 160 menit ini merupakan buah karya sutradara Hafiz Rancajale bersama kolaboratornya Fuad Fauji, Mahardika Yudha, dan Syaiful Anwar.

“Sang Arsip” merupakan pembacaan gagasan pengarsipan film yang ada di dalam pikiran Misbach Yusa Biran yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengawetkan wacana dan memaknainya kembali sebagai sumber sejarah perfileman Indonesia.

Pada film ini penonton diajak untuk menelusuri jejak-jejak 'pengetahuan' dari Sang Arsip. Sinematek Indonesia yang dirintis dan kembangkan seniman kelahiran Rangkasbitung, 1933 ini  menjadi pusat pengarsipan film pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Kehadirannya bukan hanya sebagai sebuah ruang penyimpanan artefak-artefak bersejarah, tetapi juga sebagai ruang pengawetan sejarah gagasan dan wacana sinema Indonesia.


Seperti yang bisa dilihat pada film tersebut, kini situasi Sinematek Indonesia semakin memburuk, dan bisa mengancam artefak-artefak sejarah gagasan dan wacana kepada hal yang paling mengerikan dalam peradaban manusia, yaitu punahnya sejarah pengetahuan.
                   
Filem yang diproduksi sejak akhir tahun 2011 ini, menghadirkan dua sudut pandang dari generasi yang berbeda dalam memaknai arsip dan sejarah gagasan dan wacana sinema Indonesia. Misbach Yusa Biran sebagai tokoh sejarah filem yang mengalami perubahan dan perkembangan sinema Indonesia sejak tahun 50an dan generasi baru dunia filem Indonesia yang diwakili oleh beberapa narasumber.

Menurut F. Apriwan dari Komunitas Dokumenter Yogyakarta, ‘Sang Arsip’ adalah film yang intim, dimana antara penggemar film dalam hal ini, Hafiz (sutradara) dan Yusa Biran (subyek). Apriwan berujar bahwa Hafiz menunjukan empatinya terhadap arsip film melalui Misbach Yusa Biran.  “Dokumenter panjang ini menawarkan pendekatan artistik yang menawan, detail ruang arsip yang berdebu, dan usang, disajikan dengan teliti. Ini membuat saya, sebagai penonton diajak untuk menikmati, melumat habis pahitnya kondisi pengarsipan film di Sinematek Indonesia,” imbuhnya.

Sedangkan menurut seorang pengamat film Akbar Yumni, seperti yang dikutip dari tulisannya di Jurnal Footage, adegan akhir ‘Sang Arsip’, karya kolaborasi komunitas Forum Lenteng ini, adalah ‘horor-horor’ tentang pengarsipan film di Indonesia, yang mengalami perlakuan yang kurang memadai. Sebagai sebuah sistem pernyataan yang berlaku di masa lalu, bagi Akbar, arsip menjadi bagian yang begitu penting untuk membaca masa kini, dan bahkan masa depan.



Pada 11 April 2012 lalu, Misbach Yusa Biran ‘Sang Arsip’ meninggal dunia di Rumah Sakit Eka Hospital, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten, selama beberapa tahun proses pembuatannya hingga rampung, Misbach pun belum sempat menyaksikan film yang menceritakan tentang dirinya, arsip, dan film yang dicintainya. Sebagai sebuah karya, film ini tentunya menjadi penting dalam membaca sejarah, ideologi, hingga kontribusi negara terhadap perfilman Indonesia.

'Sang Arsip' adalah film dokumenter panjang ketiga yang diproduksi oleh komunitas Forum Lenteng. Sebelumnya komunitas ini telah mengerjakan 'Dongeng Rangkas' dan 'Naga Yang Berjalan di Atas Air'. Pemutaran di KKF ini adalah yang pertama kali diputar di Yogyakarta, setelah sebelumnya telah digelar dibeberapa kota, dan Taman Ismail Marzuki menjadi tempat pemutaran perdananya. (*)

Hafiz di Sinematek

*Seperti yang dimuat di Tribun Jogja, Art & Culture. Minggu, (5/5)

No comments:

Post a Comment

Featured