Tuesday, December 11, 2012

FSTVLST: Dari Mati Muda hingga Hari Terakhir Peradaban


DI Dunia panggung, mulai pentas seni sekolahan, hingga acara-acara alternatif yang digelar secara komunal, Festivalist adalah nama yang patut diperhitungkan eksistensinya. Keliaran, sound yang kasar, lirik yang menusuk, hingga attitude yang mereka keluarkan baik di atas panggung, maupun di baliknya, sudah menjadi tanggung jawab sejatinya sebuah kelompok musik yang menjadikan Rock sebagai tunggangannya. Sang frontman, Farid Stevy Asta tak perlu diragui bagaimana cara ia membius penontonnya ketika melantunkan lirik-lirik yang ditulisnya, dengan gaya yang puitik, lirik-lirik tersebut bercerita tentang rutinitas sehari-hari, kehidupan, hingga kematian manusia. Lagu-lagu seperti ‘Maha Oke’, ‘Menangisi Akhir Pekan’, ‘Monster Karaoke’, ‘Mati Muda’, hingga ‘Hari Terakhir Peradaban’ sudah dihafal luar kepala oleh ribuan pendengarnya yang juga mereka sebut dengan Festivalist.



Festivalist merupakan kelanjutan dari sebuah band bernama Jenny yang dibentuk 2003 lalu di kampus  seni rupa ISI Yogyakarta, kini mereka adalah Roby Setiawan (gitar), Human Movid Arifin (bass), Danish Wisnu Nugraha (drum) dan Farid Stevy Asta (vokal), mereka juga dibantu Rio Faridino (Keyboard).




Di bawah nama Jenny, mereka telah menelurkan album bertitel ‘Manifesto’ (2009) yang di produksi secara independen. Kini bagaimana kelanjutan cerita dari band yang kian meroket ini, beberapa waktu lalu Tribune Rockers mengunjungi Farid Stevy Asta dan Roby Setiawan di Libstud, studio mereka di Selatan Kota Yogyakarta. Berbeda dengan keliarannya di atas panggung, Farid dan Roby adalah sosok yang ramah, hangat, dan penuh candaan. Keseriusannya terhadap apa yang dikerjakannya, terlihat lewat sorot matanya saat menjelaskan beberapa project-nya, baik bersama Festivalist maupun kesibukan pribadi.

TR: Bagaimana Kelanjutan full album Festivalist, rumornya kan mau dirilis dalam waktu dekat ini?
Farid: Kami memang belum bisa tepat waktu menyelesaikan album, selalu saja meleset. Materinya sudah 50%, tapi sudah jadi kebiasaan dimana materi lagunya datang sesuai pengalaman. Ternyata karakter prosesnya begitu, penulisan lagu mengalir begitu saja, dan ditulis mengikuti suatu kejadian.




TR: lalu apa saja yang saat ini Festivalist kerjakan untuk membuat semacam pertanggung jawaban terhadap pendengar kalian?
Farid:  Maka itu, sekarang kami membuat project yang terpecah-pecah jadi beberapa bagian, di antaranya ‘One Gig, One Video’, yaitu setiap manggung, kami akan memposting satu video di blog. Lalu, kami akan merilis satu lagu secara akustik setiap bertambah 500 followers di twitter @FSTVLST, sebelumnya lagu ‘The Only Way’ sudah diedarkan. Project selanjutnya adalah ‘Menulis di Blog Festivalist’, ini membuka buat teman-teman yang mau menulis apapun, tidak harus tentang Festivalist, apapun tulisannya nanti dikurasi dulu, project ini dikelola teman kami Belia Paki, yang juga membuka perpustakaan dan Kedai Buku Jenny di Makassar.

TR: Bagaimana sih proses berkarya kalian, terutama dalam hal pembuatan lagu?
Farid: Awalnya kami mencoba menulis lagu ketika jamming di studio atau duduk bersama untuk menulis lagu, tapi kok nggak bisa ya, akhirnya ya seperti cara saat ini, kami mencipta lagu secara separatis. Roby bikin komposisi kosong yang dia kasih judul seenaknya, seperti ‘Mati Muda’, ‘Monster Karaoke’ dan sebagainya, lalu saya mengisi teksnya.

TR: Nah, lagu ‘Monster Karaoke’ itu akhirnya jadi judul lagu, liriknya bercerita tentang apa, dan bagaimana latar belakang penciptaan lirik di lagu ‘Hari Terakhir Peradaban’?
Farid: Ketika sedang bekerja di rutinitasnya, manusia cenderung tidak menjadi dirinya sendiri, dan selepas bekerja barulah terbebas keluar menjadi diri sendiri, lalu merayakan kesenangannya. ‘Monster Karaoke’ terinspirasi dari sini. Lirik ‘Hari Terakhir Peradaban’ saya rangkai dari beberapa frase yang selalu saya tulis di ‘Buku Hitam Festivalist’ (buku kecil yang selalu dibawanya, bahkan ke atas panggung,red). Buku tersebut selalu merekam setiap pengalaman dan kejadian di sekitar, saya hanya menuliskan frase seperti ‘Barbarian Bersorban’, ‘Gila belanja’, ‘Bangga berdosa’, ‘Cendikia pendusta’, dan sebagainya. untuk lagu ‘Hari Terakhir Peradaban’, frase tersebut kemudian dirangkai seperti lagu karnaval yang isinya adalah dekadensi, sepertinya tidak sedang terjadi apa-apa, padahal kita sedang merayakan karnaval ‘kemunduran’.


TR: Apa sih yang menjadi dasar hingga kalian menjadi Festivalist seperti sekarang ini?
Farid: Sejak jaman band ini masih bernama Jenny, kami selalu meneriakkan kesetaraan meski lewat hal-hal yang sederhana. Sudah menjadi ‘common sense’ bahwa setiap orang butuh dihormati, dan merasa nyaman dengan ‘Kesetaraan’, itu yang dilakukan anak-anak, maka tidak ada jarak lagi antara band-penggemar, band kami bernama Festivalist dan pendengarnya pun bernama Festivalist. Festivalist itu kan harfiahnya orang datang, bersenang-senang, merayakan apa saja,lalu pulang, begitu pun dengan siklus hidup manusia.

TR: Secara pribadi, bagaimana kamu mendeskripsikan musik Festivalist?
Farid: ‘Almost Rock Barely Art’, tanpa tendensi berlebih, kami hanya ingin memberikan pesan dan berbagi kebahagiaan lewat musik, banyak yang bilang musik kami ‘garage rock’, tapi kalau mengaku-ngaku ‘Garage’, sungkan juga sama yang ‘garage’ beneran. (tertawa..)


TR: Dalam waktu dekat ini, lagu baru apa yang dirilis Festivalist?
Farid: Kami punya lagu baru yang beberapa kali sudah dimainkan di atas panggung, judulnya ‘Menantang Rasi Bintang’. lagu itu bercerita tentang bagaimana kita membalik garis tangan, banyak orang-orang yang lahir, besar, berpikir lalu tersadar bahwa ia anak orang biasa, dan bukan siapa-siapa lalu melawan apa yang sudah digariskan. Misalnya saya yang lahir di Wonosari dan dianggap sebagai daerah tertinggal, lalu bagaimana cara dengan keterbatasan kita bisa melawannya dengan prinsip ‘Bahagia itu Sederhana’. (tersenyum)

TR: Sebagai individu, saat ini apa yang menjadi uneg-unegmu?
Farid: Hidup manusia itu singkat, paling hanya 70 tahun, sedangkan setiap hari adalah pengalaman kecil dari hidup. Apa yang kita lakukan sehari-hari menjadi penting, kalau kita nggak bisa memberikan apa-apa terhadap banyak orang, maka perbuat apa yang bisa dilakukan dengan kalimat ‘Bahagia itu Sederhana’. Senang bisa mensyukuri hal-hal sederhana, dan disampaikan lewat band, itulah yang membuat saya masih bisa berdiri sampai sekarang.



                                                                              *****

SELAIN bermusik, Farid Stevy Asta juga dikenal sebagai seorang desainer dan perupa. Pria kelahiran Wonosari, 20 Oktober 1982 ini kerap mengikuti berbagai eksebisi seni rupa kontemporer. Beberapa hasil desainnya juga digunakan untuk banyak kalangan, termasuk logo PT Kereta Api Indonesia yang merupakan buah karyanya. Farid memulai main musik sejak kuliah di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2000 silam. Bersama teman kuliahnya, Anis Setiaji ia membentuk band yang pernah beberapa kali tampil di Wonosari. Setelah bertemu dengan Roby Setiawan dan Arjuna Bangsawan, ia membentuk Jenny. Sejak kecil, ternyata Farid memang bercita-cita untuk menjadi seniman. Di kancah seni rupa, kini ia sedang menyiapkan Solo Exebition di Deux Ex Machina, Jakarta. Pameran tersebut juga menjadi pameran perdana di galery yang baru dibuka di wilayah Kemang tersebut. Pameran berjudul ‘GDRS GTH’ ini juga merupakan kelanjutan dari eksebisi di Deus Ex Machina Bali pada 2010 lalu. Apa yang dikerjakan Farid baik itu lewat musik, seni rupa bisa dibilang tidak ada perbedaan karakter. Ia menganggap ketika bernyanyi, menulis, dan melukis adalah hal yang sama, perbedaannya hanya pada, nada, kata, dan warna. Kesehariannya, pria yang kini gemar berjalan-jalan dengan vespanya ini juga sibuk di Libstud, studio yang melayani jasa desain komersial. Di studio yang merupakan kantornya tersebut, Farid bersama beberapa teman, dan adik-adik kelasnya mengerjakan desain untuk beberapa sekolah, kampus, dan instansi pemerintahan.

FOTO: Sebagian oleh saya, sebagian boleh membajak! 

No comments:

Post a Comment

Featured