Wednesday, August 8, 2012

Jamphe Johnson: Dipertemukan Oleh Rock n' Roll



MUSIK Rock n roll tak pernah mati! mungkin kalimat ini tidak terdengar berlebihan jika kita melihat semakin banyaknya band yang memainkan musik yang identik dengan jiwa muda ini. Rolling Stones dan Led Zeppelin memang tidak pernah berhenti melahirkan generasi terbaiknya. Di setiap belahan negara mana pun, hampir dipastikan ada sekumpulan musisi yang terinsipasi musik mereka.


Abay, Mono, Buluq, Taphey, dan David adalah lima pemuda yang berdomisili di Yogyakarta dan dipertemukan atas nama musik rock n roll. Jamphe Johnson pun kemudian dikibarkan sebagai nama band mereka. Awal Agustus 2007 lalu, band ini sudah mulai eksis, namun hingga awal 2008 Jamphe Johnson tidak pernah berorientasi ke panggung dan hanya sibuk untuk session recording.



Abay menjelaskan bahwa nama Jamphe Johnson tercetus begitu saja ketika mereka berkumpul di studio. “Setelah sempat dua kali ganti nama, kita berlima sepikiran untuk pakai Jamphe Johnson sebagai nama yang akan dipakai, nggak ada arti khusus akan nama itu. hanya panggilan saja,” jelasnya.









Abay adalah seorang gitaris yang cukup lama aktif bermain reguler mencover lagu-lagu Rolling Stones di sebuah bar di Yogyakarta. Personil lainnya, Mono (drum), dan Buluq (bass) juga cukup lama bemain musik rock n roll, rhytem session yang dimainkan Taphey cenderung terinflunce dari Guns N Roses, sedangkan David sebagai vokalis sejak awal memang telah dibentuk dibawah pengaruh Aerosmith. Tak heran jika musik rock yang dimainkan band ini memiliki warna sendirinya.
“…dan orang-orang bilang itu rock'n roll, kami suka sebutan itu,” tukas Abay tertawa.










Pada mini album pertama mereka, ( #2) Jamphe Johnson lebih cenderung dengan lirik yang menggunakan bahasa Inggris, namun setelah dinilai kurang mengena, Album Pertama mereka "Harmony Yang Salah", Jamphe Johnson lebih fokus dengan lirik berbahasa Indonesia. Hingga kini album mereka sudah terjual 683 copy. “Mencapai segitu, ini sangat mengagetkan, karena awalnya tidak menduga, dan kami harus tiga kali melakukan penggandaan,” ucap David.

Karya mereka tersebut tidak hanya diminati oleh kalangan muda. “CD yang laku secara online dan angka penjualan merchandise yang cukup tinggi telah mengembalikan modal awal kami,” ujarnya.



Lagu-lagu Jamphe Johnson dengan sudut pandang anak muda, dan cara penyampaiannya yang gamblang ini bisa disimak lewat ‘Garuda Patah Hati’, ‘Nyonya Pertiwi’, ‘Ya Oma,’ ‘Coffee Blues Jogja’, dan beberapa lagu lainnya. Sedangkan lagu tentang nakalnya anak muda yang berbumbu cinta dengan lirik yang unik cukup terasa saat mendengarkan ‘Hitam Biru’, ‘Buka Kartu’, dan ‘Main Di Dua Hati’.

“Ternyata lagu ini menempati hati para Rockin Flowie (sebutan bagi fans cewek Jamphe Johnson) baik di Jogja, maupun di luar kota,” ucap Abay.





Single ‘Coffee Blues Jogja’ cukup mengangkat nama Jamphe Johnson setelah berhasil menempati Top Chart di beberapa radio di Indonesia. Di susul oleh ‘Garuda Patah Hati’ enam bulan selanjutnya. ‘Akhirnya Juli’ juga berhasil menempati topchart di radio-radio Yogya.

‘Belajar Terbang’, dan ‘Jarak Jauh’ kini mereka jagokan untuk kembali menjadi top chart seperti karya mereka sebelumnya.

Setelah menjadi second band untuk Slank di Pekan Raya Jakarta (PRJ) tahun lalu, yang menjadi target Jamphe Johnson saat ini adalah produksi album selanjutnya secara masif. “Kemungkinan terbesar adalah titip edar, kami masih mempertimbangkan beberapa tawaran label, dan ini belum kami "iya" kan,” ujarnya. 





No comments:

Post a Comment

Featured