Monday, October 15, 2012

DEVILDICE: Berlian Asu Sak Modare


PEKAN lalu Devildice band asal Bali, selama dua kali berturut-turut, Minggu (7/10) lalu mereka berlaga di JEC, pada gelaran Kustomfest. Sehari setelahnya band yang dikomandoi Jerinx (JRX) yang juga merupakan drummer Superman Is Dead ini menggelar Private Show di Oxen Free, Jln Sosrowijayan. Band yang memainkan Punk Rock ini sebenarnya sudah berdiri sejak 1997 di Kuta, Bali.





                                                       FOTO: ---> Private With Devildice 

Devildice yang dibentuk oleh JRX (gitar/vokal) dan Kuzz (bass) ini awalnya bernama Culture On Fire. Mereka sepakat untuk menjadi band cover version yang melantunkan tembang-tembang milik Social Distortion, band rock n roll punk idola mereka. Setelah dibantu oleh beberapa kawan yang mengisi posisi drum dan gitar, Culture On Fire semakin rajin meramaikan acara-acara musik yang bersifat underground di Bali.

Kesibukan JRX yang juga drummer dan penulis lagu untuk Superman Is Dead (SID) membuat Culture On Fire semakin terproyeksi menjadi band yang bisa dikatakan 'agak kurang serius' dalam berkarir, dan mereka nyaman dengan status band cover version.

Tahun 2002, Jerinx menyadari ia punya banyak stok lagu yang tidak masuk dalam karakter SID namun bisa ia masukkan ke dalam karakter Culture On Fire yang lebih moody. Musisi bernama asli Ary Astina ini pun memutuskan untuk lebih serius lagi menjalani proyek band keduanya ini. Culture On Fire pun mengalami bongkar pasang personel, hingga melakukan perubahan nama menjadi Devildice yang diperkuat oleh JRX, Kuzz, Cash (gitar), T.R (drum) dan Mr.F (trumpet)  


Tahun 2004, JRX dan kawan-kawan akhirnya merilis mini album perdana Devildice bertitel 'In The Arms Of The Angels'. album ini diproduksi dengan biaya dan label sendiri. Hingga kini Devildice telah bermain di ratusan festival musik, baik acara amal, skate, surf, tattoos dan motor di stadion, pantai, lapangan, bar/club.

Selain bermusik, Devildice juga terlibat dalam beberapa proyek kampanye lingkungan, album kompilasi, skate video, surf video dan lain lain. Dalam berkesenian, Devildice banyak dipengaruhi film-film gangster jaman dulu, kustom kulture dan eksotisme khas punk tropikal. Album selanjutnya ‘Army Of The Black Rose’  bermaterikan 12 track dan dirilis oleh Sony Music. Album ini berkisah tentang banyak hal, mulai kehidupan dunia, kekasih, harapan, psikologis, masa lalu dan kesenangan terangkum dalam album yang semuanya dinyanyikan dengan bahasa Inggris ini.

Berikut beberapa cerita dan pesan dibalik lagu-lagu Devildice, menurut JRX lagu ‘Army Of The Black Rose’ yang dijadikan judul album ini bercerita tentang dunia dari kacamata kaum nihilis. Dimana mereka merasa dunia ini haus darah, rakus dan kebenaran hanyalah manipulasi teori kebencian. “Mereka kesepian, sangat kesepian,” ulasnya.

Track selanjutnya ‘Land Of No Angels’ merupakan anthem harapan untuk remaja-remaja broken home agar selalu ingat bahwa cinta itu ada dimana saja, belajar melupakan dan memaafkan adalah krusial. Lagu ‘Diamonds Are Forever’ merupakan lagu pop yang paling banyak diminati para penggemarnya, lagu yang dibantu oleh Sari Nymphea pada vokal, Leo dan Kape Suicidal Sinatra pada gitar/kontra bass ini terinsprasi oleh duet Johnny Cash-June Carter. lagu ini tentang tak bertemunya dua perasaan yang abadi. “Why? Simply coz hidup memang tak pernah sempurna,” tukas JRX.


Kemudian ‘Rock & Roll City’ yang kerap dijadikan penutup di setiap pertunjukan Devildice merupakan satu-satunya lagu riang yang JRX tulis untuk Devildice. lagu ini ditulis tahun 2004 di Hotel Paragon, Jakarta. Menurutnya lagu ini mengingatkannya akan malam-malam panas, penuh kejutan dan seringkali menjadi rahasia. “Malam-malam” itulah pencipta lagu ini sesungguhnya. Saya hanya menikmatinya. Dari ‘belakang’,” ujar JRX.


Di sela-sela santai, Jerinx bercerita perihal Yogyakarta, isu kekinian, dan band yang membersarkan namanya. Berikut petikannya:

TR: Apa momen terbaikmu selama menginjak kota Yogyakarta ini?
JRX: ‘Always love Jogja no matter what’, karakter dan vibe kota ini sungguh hangat dan membumi. Saya merasa setengah jiwa saya ada di Yogya, entah kenapa.

TR: Apa komentarmu tentang skena musik Yogyakarta.
JRX: Bagus adalah jawaban yang tipikal, maka saya akan jawab 'sangat sehat'. Bukan tentang seberapa banyak band Yogya yang sukses secara nasional, tapi lebih tentang beragam dan eklektik nya skena musik di Yogya, juga semangat saling support sesama musisi di Yogya sangat patut dicontoh oleh kota-kota lain. 

TR: Baru-baru ini  di Walikota Yogyakarta membuat keputusan yang dianggap masyarakat sebagai pengebirian semangat bersepeda, sebagai musisi yang sering menyuarakan kampanye bersepeda, apa komentarmu tentang ini?
JRX: Saya harap pak Walikota mengambil keputusan itu bukan karena iming-iming tender pengadaan proyek, tapi berdasar atas kepentingan yang lebih besar, dengan solusi yang lebih baik untuk alam dan nilai-nilai kearifan lokal juga, tentunya.

TR: Soal isu nasional, seberapa penting sih peran musisi dalam pemberantasan korupsi, bagaimana langkah terbaik sebagai aksi nyata?
JRX: Jika dilakukan secara konstan dan bersama-sama, saya optimis musisi dan musik bisa membantu mereduksi budaya korupsi hingga ke titik minim atau bahkal nol. Tapi ya itu tadi, harus konstan, bersama-sama, dan yang paling penting, kita juga jangan sampai ikut menjadi pelaku. Untuk long-term goal, aksi nyata seperti turun ke jalan dan mengedukasi fanbase untuk memusuhi korupsi itu signifikan efek nya.

TR: Ibarat anak, apa sih diferensiasi Superman Is Dead dan Devildice?
JRX: SID itu anak pertama yang sudah sangat mandiri, punya pekerjaan yang cukup terhormat dan dibanggakan oleh orangtua nya. Devildice ibarat anak paling kecil yang masih suka bertualang, pas-pas an, tapi bahagia karena tidak harus bangun pagi (tersenyum).  

******


Sosok JRX sebagai personel dari Superman Is Dead mungkin sudah banyak dikenal dan ditulis di media-media besar, namun di Devildice sosok yang tidak kalah penting dengan JRX adalah Kuzz.
Lewat obrolan santai, pencabik bass Devildice ini bercerita tentang Otomotif, Yogyakarta, dan Superman Is Dead.

TR: Ceritakan dong tentang mobil kustom yg kamu koleksi?
Kuzz: saya punya playmouth 1948, Ford tahun 1932 pick up mesin v8 ,dan motor Harley 1994.

TR: Sepanjang manggung bersama Devildice, acara apa yang menurutmu paling oke?
Kuzz: Acara Jogja Kustomfest 2012 kemarin, karena main di acara motor kustom dan hotrod. Berhubung saya pecinta motor dan mobil tua, jadi bisa sharing dan berkumpul dengan kalangan sesama pecinta Kustom seluruh Indonesia, sekalian membeli beberapa Part yang saya butuhkan untuk Kustom mobil tua saya.

TR: Kalau manggung paling oke dimana, bagaimana ceritanya?
Kuzz: Waktu Devildice main di acara tattoo di Yogya juga, tepatnya di Liquid  tahun 2008. Panitianya telat jemput, tapi acaranya semuanya jumping, and pogo, banyak Berandal dari seluruh Indonesia.

TR: Kalau begitu berikan komentarmu tentang kota Yogyakarta, apa yg paling kamu sukai? Kuzz: Yogya adalah kota budaya dan istimewa. Orangnya masih ramah dan sopan, namun bangunan minimalis sekarang semakin banyak, mengalahkan bangunan tua yang sarat dengan history bangsa Indonesia.
                                                         
TR:  Berikan komentarmu tentang Superman Is Dead
Kuzz: ‘Superman Is Dead is a good band’ yang pernah merangkak dari bawah ke atas. Kita datang dari rumah yang sama, namun dengan gaya dan latar yang berbeda. Saya sama Jerinx lebih ke Americano Style. Mungkin dari daerah pariwisata yang banyak bergaul sama masyarakat internasional, wawasan, pemikiran dan style lebih terbuka. 



FYI: Tulisan ini dimuat di Koran Tribun Jogja, edisi Minggu, (14/10/2012), hanya judulnya yang diganti



No comments:

Post a Comment

Featured