Friday, April 8, 2011

Aku (sempat) Ingin Menjadi Mick Jagger


pernah dimuat di www.akumassa.org, 9 Mei 2010
* * *

Gambar lidah ‘melet’ berwarna merah sudah tidak asing lagi di mata kita. Gambar itu ada dimana-mana dari jaman ke jaman, di kamar tidur, di stiker angkot, di kaos-kaos, di tembok-tembok gang sempit hingga di pertokoan elit.

Mick Jagger

Pemilik logo tersebut kini berusia lebih dari 60 tahun, bahkan ia lebih tua daripada usia Republik ini. Ia kaya raya dan sering gonti-ganti istri, pacar dan jenis narkotika. Sir Michael Philip ‘Mick’ Jagger adalah musisi rock asal Inggris kelahiran 26 Juli 1943. Ia dikenal sebagai vokalis The Rolling Stones (Batu yang Menggelinding -dalam Bahasa Indonesia) yang mulai terkenal sejak tahun 1960-an dan masih eksis hingga sekarang. Sesuai namanya, ‘Batu yang Menggelinding’, mereka bertahan melewati beberapa dekade entah sampai kapan. The Rolling Stones sendiri dibentuk di London pada Januari 1963. Mereka tidak hanya menjual musik yang hingar-bingar dan penuh sensasi tapi juga menjual life style (gaya hidup) yang membuat resah kalangan tua saat itu bahkan mungkin hingga sekarang.


Sensasi The Rolling Stones yang tercatat menjadi monumental bagai gelindingan batu yang menabrak tatanan sosial masyarakat normatif. Peristiwa monumental itu di antaranya, ditemukannya gitaris Brian Jones yang tewas di kolam renang setelah berenang semalaman pada 3 Juli 1969, Jones tenggelam karena pengaruh alkohol dan drugs. Tiada hari dilewati kelompok ini tanpa obat-obatan yang melibatkan seluruh personil. Kurungan penjara dan denda ratusan dolar pun tak membuat mereka jera. Tingkah para personil ini terkenal urakan dan liar.

Mick Jagger

Bulan Oktober 1968 Lagu Street Fighting Man dilarang beredar oleh banyak stasiun radio Amerika, karena liriknya dianggap tidak baik untuk didengar. Bahkan pada 6 Desember 1975 seorang pendeta di Tallahassee, menyatakan bahwa rekaman Rolling Stones berdosa, setelah menyimpulkan survei dari 1000 ibu yang tidak menikah dan menemukan bahwa 984 dari mereka yang hamil disebabkan karena pengaruh musik rock. Kebanyakan dari mereka menyukai lagu-lagu Rolling Stones. Ada lagi sensasi lainnya, Pada 21 November 1990, Mick Jagger dan Jerry Hall menikah di Bali dengan upacara Agama Hindu. Belakangan pernikahan mereka dipertanyakan keabsahannya, karena keduanya bukan pemeluk Hindu.

Pada tahun 1988, Ono Artist Promotion mengundang Mick Jagger tampil di Indonesia tanpa The Rolling Stones. Antusias masyarakat terutama kaum muda sangat tinggi menyambut kedatangan Jagger, maklum saat itu Indonesia sedang dilanda demam Mick Jagger. Namun konser itu kemudian berakhir rusuh. Penonton yang tidak kebagian dan tidak mampu membeli tiket berusaha masuk ke Stadion Utama Senayan, hal ini mengakibatkan bentroknya mereka dengan petugas keamanan berakhir dengan terbakarnya berbagai jenis kendaraan dan rusaknya sarana umum.

Saat konser itu berlangsung, saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar di Jakarta. Namun perkenalan saya dengan sosok Mick Jagger jauh sebelum itu. Lagu-lagu seperti ‘Party Doll’, ‘Paint In Black’, ’Angie’ dan sebagainya sudah cukup akrab di telinga kecil saya karena Ayah sering memutarnya. Hal yang menarik saat itu adalah saya belum mengenal Mick Jagger sungguhan yang bule itu. Yang saya kenal adalah Untung Wb (adik bapak saya) yang tinggal di Surabaya. Sosoknya waktu itu mirip dengan Mick Jagger, bahkan ketika melihat foto Jagger di sampul kaset atau penampilannya di televisi, saya selalu berteriak “Itu Om Untung lagi nyanyi!”



Untung Wb Si Jagger Jawa
Untung Wb Si Jagger Jawa
Untung Wb adalah salah satu remaja Indonesia di zamannya yang terpengaruh sosok Jagger. Ia mengaku pertama kali mendengarkan The Rolling Stones ketika masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Waktu di Purwokerto, lagu As Tears Go Bye sering diputar oleh kakak-kakaknya (salah satunya pasti ayah saya). Sejak SMP dan SMA di Jakarta ia mulai serius mendengarkan dan menghafal lagu-lagu The Rolling Stones dan mencoba menjadi duplikatnya mulai tahun 1984 sampai awal 90-an.

Tahun 1988 di Surabaya, ia membentuk band Illegal Snotes. Sebelumnya band ini bernama Illegal Stone, namun kemudian diplesetkan oleh penggemarnya menjadi Snote, yang berarti ‘Senut-senut=Pusing’, dalam Bahasa Jawa. Ia mengaku sulit bagi kita di Indonesia yang disebut negeri ‘paling sopan’ untuk benar-benar mengikuti gaya hidup Mick Jagger yang ’slebor’, tapi paling tidak cara dia mengolah vokal jeleknya menjadi sesuatu yang berbeda dan memiliki ciri khas adalah pelajaran yang sangat berharga untuknya dan banyak orang Indonesia yang buta dengan teknik vokal. Gaya panggungnya sempat menjadikan teman-temannya di Surabaya menyebutnya “Jagger Jawa”. Setelah band ini bubar tahun 1991, ia menjadi vokalis HR Project, band ini membawakan lagu hard rock 90-an seperti Whitesnake, Night Ranger, Bon Jovi, Winger, Poison dan lain-lain. Band tersebut eksis sejak 1989 hingga 1993. salah satu gitarisnya bernama Koko kebetulan adalah kakak dari Kaka Slank.

HR Project

Menurut Om saya, Mick Jagger tanpa Keith Richards dan The Rolling Stones, mungkin sama dengan musisi atau vokalis lain yang ada. Dia justru menjadi istimewa ketika bersama The Rolling Stones. Jadi Mick Jagger=Rolling Stones. Dan yang menjadi terpenting adalah Mick Jagger dan Rolling Stones-nya membuat Blues dan Rock ‘n Roll menjadi mudah dicerna oleh semua kalangan. Dari sekian puluh album The Rolling Stones, album favoritnya adalah Sticky Fingers. Ia mengaku suka seluruh lagu di album tersebut, sedangkan lagu lain yang menjadi favoritnya adalah Sittin On a Fence, Love In vain, Let it Bleed dan Sympathy For The Devil. Kini Om saya tersebut bekerja sebagai karyawan swasta, menjadi event organizer consultant & producer di sebuah label dan ia telah memiliki dua orang putra yang juga bermain band.

Deddy Stanzah, Jagger-nya Bandung
Deddy Stanzah, Jagger-nya Bandung
Saya sangat menyukai musisi rock ternama Indonesia asal Bandung yang terpengaruh Mick Jagger, ia adalah Deddy Stanzah yang tetap konsisten dengan musik rock hingga ajal menjemputnya tahun 2001 lalu. Pamornya mulai melejit ketika membentuk The Rollies pada 1967. Ada yang mengatakan bahwa The Rollies adalah singkatan dari ‘The Rolling Stones dan The Hollies’, namun Deddy Stanzah memberi nama The Rollies karena dua personel berambut ikal atau roll dan dua lainnya berambut lurus, dan jika digabung dan jadilah Rollies.
Karena ketergantungannya dengan narkotika, The Rollies harus mengambil keputusan yang ekstrim, yaitu memecat Deddy Stanzah pada tahun 1974. Selepas dari The Rollies, Deddy Stanzah, sempat membentuk Superkid dan akhirnya bersolo karier.

Di Kota Malang tahun 1970-an sejak munculnya Bentoel Rock Band muncul nama-nama seperti Mickey Jaguar, Ian Antono dan Teddy Sujaya. Ketika musisi Ibu Kota masih demam musik pop dan menyanyikan lagu-lagu karya The Beatles dan Everly Brothers, Bentoel Rock Band dengan vokalis andalannya Mickey Jaguar dan Silvia Sartje sudah meneriakkan lagu-lagu hard rock milik The Rolling Stones, Led Zeppelin dan Deep Purple dengan sound yang lebih garang.

Rico Korompis
Rico Korompis
Di Indonesia ternyata banyak sekali orang dengan wajah bernuansa Jagger. Salah satunya adalah Rico Korompis yang mendirikan Acid Speed Band di Jakarta pada bulan Juli 1982. Rico mengaku pertama kali mengenal The Rolling Stones lewat kawannya yang bernama Vedi Hadiz saat masih menjadi siswa SMP di New York City Tahun 1972. Saat itu dia masih nge-fans dengan grup-grup pop, lalu kawannya tersebut mengatakan, “Coba dengerin grup ini, The Rolling Stones, mereka luar biasa!” Dan ternyata benar, setelah tampil dalam sebuah acara peringatan ulang tahun The Rolling Stones yang digelar di Taman Ismail Marzuki pada 5 Desember 1982, image The Rolling Stones melekat kuat pada Acid Speed Band.

Acid Speed Band
Dua personil Acid Speed Band (Boy dan Holdun) bersama musisi Bandung lainnya
Bahkan ketika beberapa kali mereka tampil membawakan lagu-lagu sendiri, penonton malah meminta mereka memainkan lagu-lagu The Rolling Stones. Penonton hanya menginginkan melihat Acid Speed Band menjadi The Rolling Stones versi lokal. Pertengahan 80-an hingga 90-an, jadwal Acid Speed Band sangat padat.
Di era yang hampir bersamaan, Cikini Stones Complex juga cukup dikenal sebagai band yang identik dengan The Rolling Stones, tapi drummer mereka, Bimbim membubarkan band ini dan akhirnya mengubah nama mereka menjadi Slank. Tidak perlu dipungkiri lagi bahwa lagu-lagu Slank banyak terpengaruh The Rolling Stones, yang paling mirip adalah Lagu Bimbim jangan Menangis yang meniru lagu Fool To Cry.

Formasi awal Slank
Formasi awal Slank
Menurut Rico Korompis, “Mick Jagger adalah seorang profesional. Dia bisa mencapai kepopuleran saat ini berkat usaha dan kerja keras yang dilakukannya. Dia juga seorang song writer dan rock performer yang genius, dan konsisten dengan visinya dari awal hingga sekarang”.
Ia mengaku pengaruh Mick Jagger besar dalam hidupnya sejak masa SMP sampai sekarang. Pertama dari musiknya, Mick Jagger dan The Rolling Stones bisa mencerminkan rasa emosionalnya saat masih usia ABG (Anak Baru Gede) dulu. Jenis musik dan liriknya sangat mengena untuk anak ABG yang jiwanya masih penuh dengan emosi dan pemberontakan. Namun menurutnya, saat ini musik Stones lebih bersifat sebagai ‘obat’ awet muda. Kita tidak akan pernah tua saat mendengarkan musik Rolling Stones.

Dalam aksi panggung, Rico mempelajari habis-habisan trik-trik aksi panggung Mick Jagger walau belum bisa dipelajari semua. “Untuk fashion, dari dulu Mick Jagger adalah trend setter, he always looks chic. Sayang sekali gue nggak bisa ngikutin life style-nya yang lain, karena too expensive (terlalu mahal-red), haha… Tetapi ada juga sisi-sisi lain kehidupannya yang gue nggak mau tiru, hehe…” ujarnya dalam wawancara via Facebook.

ACid Speed Band dalam Majalah HAI edisi 21-27 Maret 1989 th xiii-no.12
Acid Speed Band dalam Majalah HAI edisi 21-27 Maret 1989 

Saya pernah menonton film-nya Sersan Prambors yang berjudul Anunya Kamu. Pada film yang diproduksi tahun 1986 itu ada adegan ketika Sys Ns mengundang Cuture Club dan The Rolling Stones untuk tampil di sebuah pesta, saya sempat tertipu melihatnya, saya kira itu Mick Jagger asli, ternyata Rico Korompis yang bergaya persis Mick Jagger.
Karena kini Rico Korompis terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai staf di perusahaan minyak, tahun 2005 setelah dilakukan audisi, kekosongan vokalis Acid Speed Band diisi oleh Boy. Walaupun dengan formasi yang berbeda, Acid Speed hingga kini masih memainkan lagu-lagu milik The Rolling Stones dari satu tempat hiburan ke tempat hiburan lain.

The Rolling Stones memang terus melaju melalui beberapa dekade, begitupun pengaruhnya. Saya punya kawan dekat, dia seorang vokalis di band ‘Rumput Ijo’, walau suaranya melengking tinggi berbeda dengan vokal khas Jagger, namun sosok penampilannya mirip sekali, namanya Ayeng Darwis. Band-nya kerap membawakan lagu-lagu Led Zeppelin. Semenjak berdirinya, Rumput Ijo sudah mengeluarkan mini album yang ber-title Rumah Kayu. Album ini berisi 7 buah lagu. Rencananya dalam waktu dekat mereka akan merilis album yang berikutnya berjudul Ga Bisa Ditawar. Lagu Stones kesukaannya adalah Sister Morphine karena sewaktu jamannya mabuk-mabukan di SMA, saat itulah ia mengenal The Rolling Stones. “Sambil giting dengerin Stones, melayang euy, lagunya buat mabok pas banget. Waktu itu yang paling berkesan!” ungkapnya. Namun kini ia mengaku telah berhenti mengkonsumsi alkohol dan zat-zat yang memabukkan. Selain membesarkan Rumput Ijo, kini ia bekerja sebagai kru Slank, posisinya adalah asisten Kaka Slank.

Ayeng Darwis
Ayeng Darwis
Di akhir tahun 1999 ketika masih SMA, saya diajak kawan saya ke kampusnya di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) untuk menikmati pertunjukkan musik. Saat itu malam sudah larut, setelah banyak band yang tampil, intro Jumpin Jack Flash terdengar di atas panggung. Band itu bernama Horny Horny dan ‘Jagger’-nya bernama Oscar. Ia pertama kali mengenal sosok Jagger sejak usia 9 tahun. Ayahnya juga sering memutar The Stones.
Oscar lahir dan dibesarkan di Senayan, tepatnya Senopati Dalam, kini kampung itu sudah habis terkena gusuran pada tahun 1991. Ia berkata, “Saat itu anak-anak tongkrongan di Senopati Gang Kelurahan Senayan setiap hari teler berat dan putar Stones”. Menurut pria yang kini sibuk bekerja di kantoran ini, Jagger adalah sosok gaib dan ajaib. “Pengaruhnya total ngerubah cara pandang gue pribadi terhadap hidup yang gue jalanin. secara fashion, dia fashionable, sexy luar dalam…dan liar…”

Oscar 'Hornyhorny'


Di kampus IKJ juga ada sosok Jagger’ lainnya. Namanya Jafar Shadiq, kawan-kawan biasa memanggilnya Japra. Ia merupakan gitaris Different Class dan menjadi vokalis Rajawali. Ia mengaku tidak terlalu ekstrim mengikuti gaya fashion Mick Jagger, menurutnya “Mick Jagger tuh kayak bunglon, selalu menyesuaikan diri sama jaman. karena itu nggak ada matinya!” Sejak SMP sekitar tahun 1996, ia sudah mulai nge-band membawakan repertoire (kumpulan karya) The Rolling Stones. “Gue lupa siapa yang ngenalin, karena satu kompleks perumahan gue dengerinnya Stones semua. Turun temurun. Haa..haa,” ungkapnya.

Japra 'Jagger'

Fajar Shadiq
Jafar Shadiq alias Japra
Rajawali adalah band-nya yang tercipta secara spontan pada tahun 2006 ketika ada acara musik di IKJ. “Nggak tahu siapa yang mulai, tiba tiba gue, Kubil Idris, Alfi Chaniago (The Upstairs), Pepeng dan Jun (Karon n’ Roll) ke panggung terus bawain Sympathy For The Devil, Jumpin Jack Flash, I Cant Get No Satisfaction, dan Honky Tonk Woman tanpa latihan sekalipun,” ujarnya dalam sebuah obrolan singkat.

Seiring waktu, Rajawali sering diajak manggung. Karena kesibukan personel yang lain, Japra mengganti semua personelnya. Sedangkan Different Class terbentuk sejak 2003, dan ia baru direkrut tahun 2007 sebagai gitaris. Different Class ter-influence dari musik britpop yang booming tahun 90-an. Japra mengaku jika spirit dan soul dalam berkarya dan bermusik saja yang merefleksikan ‘ideologi’ yang dianutnya dari The Rolling Stones.

Lambang The Rolling Stones


Itulah Mick Jagger dan pengaruhnya pada gaya hidup anak muda di Indonesia dari berbagai era, mereka mengaktualisasikan dirinya dengan ‘Jagger’. Namun saat ini konsep idola mengalami sedikit pergeseran, entah ini positif atau negatif, tetapi bisa kita lihat dimana-mana anak muda sekarang tidak hanya mengadopsi style dari luar saja, kini banyak anak muda yang bergaya seperti idola lokal masa kini, sebut saja seperti Jimi Multhazam (Vokalis The Upstairs) atau banyak gadis remaja yang bergaya seperti Sari (Vokalis Whiteshoes & The Couples Company). Tapi jika saya ditanya apakah ingin menjadi seperti sang idola? Maka saya akan menjawabnya seperti lirik lagu Slank: Kecil disuka, muda terkenal, mati masuk surga.....

1 comment:

Featured